Senin, 18 Maret 2019

JUZ 2 > (2:142-252)

{ 2 }  Al Baqarah               Ayat 142-252                                                              




Keterangan :

Al Qur'an berisi petunjuk & larangan yang harus dilakukan Diri-Ini <5> dan yang menerima konsekuensinya adalah Diri-Sejati <7>, baik konsekuensi positip (pahala) maupun yang negatip (siksa)

Diri meliputi:
      * Diri-Ini <5>
         adalah: Diri yang hidup didunia ini
                        (yang sedang membaca ini)
         mempunyai raga berdimensi nyata
      * Diri-Sejati <7>
         adalah: Diri kita yang sebenarnya...,
                        Diri yang hidup di akhirat
         berdimensi irasional (tidak nyata)

Diri-Sejati<7> mempunyai kecerdasan & pemikiran yang berbeda dengan Diri-Ini<5>.
Diri-Sejati<7> hanya bisa 'menyerap' yang berguna di akhirat....energi, cahaya dan 'ilmu-akhirat yang hakiki'.

(Baca: Prinsip untuk memahami Al Qur'an)
                       


[142]
سَيَقُوْلُ السُّفَهَآءُ مِنَ النَّاسِ مَا وَلّٰٮهُمْ عَنْ قِبْلَتِهِمُ الَّتِيْ كَانُوْا عَلَيْهَا  ۗ  قُلْ لِّـلّٰهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ  ۗ  يَهْدِيْ مَنْ يَّشَآءُ اِلٰى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيْمٍ
sayaquulus-sufahaaa`u minan-naasi maa wallohum 'ang qiblatihimullatii kaanuu 'alaihaa, qul lillaahil-masyriqu wal-maghrib, yahdii may yasyaaa`u ilaa shiroothim mustaqiim

"Orang-orang <5> yang kurang akal di antara manusia akan berkata, Apakah yang memalingkan mereka <5> (muslim) dari kiblat yang dahulu mereka (berkiblat) kepadanya? Katakanlah (Muhammad), Milik Allah-lah timur dan barat; Dia memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki ke jalan yang lurus."

[143]
وَكَذٰلِكَ جَعَلْنٰكُمْ اُمَّةً وَّسَطًا لِّتَکُوْنُوْا شُهَدَآءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُوْنَ الرَّسُوْلُ عَلَيْكُمْ شَهِيْدًا  ۗ  وَمَا جَعَلْنَا الْقِبْلَةَ الَّتِيْ كُنْتَ عَلَيْهَاۤ اِلَّا لِنَعْلَمَ مَنْ يَّتَّبِعُ الرَّسُوْلَ مِمَّنْ يَّنْقَلِبُ عَلٰى عَقِبَيْهِ  ۗ  وَاِنْ كَانَتْ لَكَبِيْرَةً اِلَّا عَلَى الَّذِيْنَ هَدَى اللّٰهُ  ۗ  وَمَا كَانَ اللّٰهُ   لِيُضِيْعَ اِيْمَانَكُمْ  ۗ  اِنَّ اللّٰهَ بِالنَّاسِ لَرَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ
wa kazaalika ja'alnaakum ummataw wasathol litakuunuu syuhadaaa`a 'alan-naasi wa yakuunar-rosuulu 'alaikum syahiidaa, wa maa ja'alnal-qiblatallatii kunta 'alaihaaa illaa lina'lama may yattabi'ur-rosuula mim may yangqolibu 'alaa 'aqibaiih, wa ing kaanat lakabiirotan illaa 'alallaziina hadalloh, wa maa kaanallohu liyudhii'a iimaanakum, innalloha bin-naasi laro`uufur rohiim

"Dan demikian pula Kami telah menjadikan kamu <5> (umat Islam) umat pertengahan (toleran) agar kamu <5> menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Kami tidak menjadikan kiblat yang (dahulu) kamu (berkiblat) kepadanya, melainkan agar Kami mengetahui siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang berbalik ke belakang. Sungguh, (pemindahan kiblat) itu sangat berat, kecuali bagi orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah. Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sungguh, Allah Maha Pengasih, Maha Penyayang kepada manusia."

[144]
قَدْ نَرٰى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِى السَّمَآءِ ۚ  فَلَـنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضٰٮهَا ۖ  فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَـرَامِ ۗ  وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوْا وُجُوْهَكُمْ شَطْرَهٗ  ۗ  وَاِنَّ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ لَيَـعْلَمُوْنَ اَنَّهُ الْحَـقُّ مِنْ رَّبِّهِمْ ۗ  وَمَا اللّٰهُ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُوْنَ
qod naroo taqolluba waj-hika fis-samaaa`, fa lanuwalliyannaka qiblatan tardhoohaa fa walli waj-haka syathrol-masjidil-haroom, wa haisu maa kuntum fa walluu wujuuhakum syathroh, wa innallaziina uutul-kitaaba laya'lamuuna annahul-haqqu mir robbihim, wa mallohu bighoofilin 'ammaa ya'maluun

"Kami melihat wajahmu (Muhammad) sering menengadah ke langit, maka akan Kami palingkan engkau <5> ke kiblat yang engkau senangi.
Maka hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidilharam. Dan di mana saja engkau berada, hadapkanlah wajahmu ke arah itu.
Dan sesungguhnya orang-orang yang diberi Kitab (Taurat dan Injil) tahu, bahwa (pemindahan kiblat) itu adalah kebenaran dari Tuhan mereka. Dan Allah tidak lengah terhadap apa yang mereka kerjakan."

[145]
وَلَئِنْ اَ تَيْتَ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ بِكُلِّ اٰيَةٍ مَّا تَبِعُوْا قِبْلَتَكَ ۚ  وَمَاۤ اَنْتَ بِتَابِعٍ قِبْلَتَهُمْ ۚ  وَمَا بَعْضُهُمْ بِتَابِعٍ قِبْلَةَ بَعْضٍ ۗ  وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ اَهْوَآءَهُمْ مِّنْۢ بَعْدِ مَا جَآءَكَ مِنَ الْعِلْمِ ۙ  اِنَّكَ اِذًا لَّمِنَ الظّٰلِمِيْنَ
wa la`in ataitallaziina uutul-kitaaba bikulli aayatim maa tabi'uu qiblatak, wa maaa anta bitaabi'ing qiblatahum, wa maa ba'dhuhum bitaabi'ing qiblata ba'dh, wa la`inittaba'ta ahwaaa`ahum mim ba'di maa jaaa`aka minal-'ilmi innaka izal laminazh-zhoolimiin

"Dan walaupun engkau (Muhammad) memberikan semua ayat (keterangan) kepada orang-orang yang diberi Kitab itu, mereka <5> tidak akan mengikuti kiblatmu dan engkau pun tidak akan mengikuti kiblat mereka. Sebagian mereka <5> tidak akan mengikuti kiblat sebagian yang lain.
Dan jika engkau mengikuti keinginan mereka setelah sampai ilmu kepadamu, niscaya engkau termasuk orang-orang zalim."

[146]
اَلَّذِيْنَ اٰتَيْنٰهُمُ الْكِتٰبَ يَعْرِفُوْنَهٗ كَمَا يَعْرِفُوْنَ  اَبْنَآءَهُمْ ۗ  وَاِنَّ فَرِيْقًا مِّنْهُمْ لَيَكْتُمُوْنَ الْحَـقَّ وَهُمْ يَعْلَمُوْنَ
allaziina aatainaahumul-kitaaba ya'rifuunahuu kamaa ya'rifuuna abnaaa`ahum, wa inna fariiqom min-hum layaktumuunal-haqqo wa hum ya'lamuun

"Orang-orang <5> yang telah Kami beri Kitab (Taurat dan Injil) mengenalnya (Muhammad) seperti mereka mengenal anak-anak mereka sendiri. Sesungguhnya sebagian mereka <5> pasti menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui(nya)."

[147]
اَلْحَـقُّ مِنْ رَّبِّكَ فَلَا تَكُوْنَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِيْنَ
al-haqqu mir robbika fa laa takuunanna minal-mumtariin

"Kebenaran itu dari Tuhanmu, maka janganlah sekali-kali engkau <5> (Muhammad) termasuk orang-orang yang ragu."

[148]
وَلِكُلٍّ وِّجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيْهَافَاسْتَبِقُوا الْخَيْرٰتِ  ۗ  اَيْنَ مَا تَكُوْنُوْا يَأْتِ بِكُمُ اللّٰهُ جَمِيْعًا  ۗ  اِنَّ اللّٰهَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
wa likulliw wij-hatun huwa muwalliihaa fastabiqul-khoiroot, aina maa takuunuu ya`ti bikumullohu jamii'aa, innalloha 'alaa kulli syai`ing qodiir

"Dan setiap umat mempunyai kiblat yang dia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu <5> dalam kebaikan. Di mana saja kamu <5> berada, pasti Allah akan mengumpulkan kamu <7> semuanya. Sungguh, Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu."

[149]
وَمِنْ حَيْثُ خَرَجْتَ فَوَلِّ وَجْهَكَ  شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَـرَامِ ۗ  وَاِنَّهٗ لَـلْحَقُّ مِنْ رَّبِّكَ ۗ  وَمَا اللّٰهُ بِغَافِلٍ عَمَّا  تَعْمَلُوْنَ
wa min haisu khorojta fa walli waj-haka syathrol-masjidil-haroom, wa innahuu lal-haqqu mir robbik, wa mallohu bighoofilin 'ammaa ta'maluun

"Dan dari mana pun engkau <5> (Muhammad) keluar, hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidilharam, sesungguhnya itu benar-benar ketentuan dari Tuhanmu. Allah tidak lengah terhadap apa yang kamu <5> kerjakan."

[150]
وَمِنْ حَيْثُ خَرَجْتَ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَـرَامِ  ۗ  وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوْا وُجُوْهَكُمْ شَطْرَهٗ  ۙ  لِئَلَّا يَكُوْنَ لِلنَّاسِ عَلَيْكُمْ حُجَّةٌ اِلَّا الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا مِنْهُمْ فَلَا تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِيْ وَلِاُتِمَّ نِعْمَتِيْ عَلَيْكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَهْتَدُوْنَ
wa min haisu khorojta fa walli waj-haka syathrol-masjidil-haroom, wa haisu maa kuntum fa walluu wujuuhakum syathrohuu li`allaa yakuuna lin-naasi 'alaikum hujjatun illallaziina zholamuu min-hum fa laa takhsyauhum wakhsyaunii wa li`utimma ni'matii 'alaikum wa la'allakum tahtaduun

"Dan dari mana pun engkau (Muhammad) keluar, maka hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidilharam. Dan di mana saja kamu berada, maka hadapkanlah wajahmu ke arah itu agar tidak ada alasan bagi manusia (untuk menentangmu) kecuali orang-orang <5> yang zalim di antara mereka<5>. Janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku agar Aku sempurnakan nikmat-Ku kepada<7>mu dan agar kamu <5> mendapat petunjuk."

[151] *
كَمَاۤ اَرْسَلْنَا فِيْکُمْ رَسُوْلًا مِّنْکُمْ يَتْلُوْا عَلَيْكُمْ اٰيٰتِنَا وَيُزَكِّيْکُمْ وَيُعَلِّمُکُمُ الْكِتٰبَ وَالْحِکْمَةَ وَيُعَلِّمُكُمْ مَّا لَمْ تَكُوْنُوْا تَعْلَمُوْنَ  ۗ
kamaaa arsalnaa fiikum rosuulam mingkum yatluu 'alaikum aayaatinaa wa yuzakkiikum wa yu'allimukumul-kitaaba wal-hikmata wa yu'allimukum maa lam takuunuu ta'lamuun

"Sebagaimana Kami telah mengutus kepadamu seorang Rasul dari kamu yang membacakan ayat-ayat Kami, menyucikan kamu, dan mengajarkan kepadamu Kitab (Al-Quran) dan Hikmah, serta mengajarkan apa yang belum kamu ketahui."

[152]
فَاذْكُرُوْنِيْۤ  اَذْكُرْكُمْ وَاشْکُرُوْا لِيْ وَلَا تَكْفُرُوْنِ
fazkuruuniii azkurkum wasykuruu lii wa laa takfuruun

"Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu.
Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu <5> ingkar kepada-Ku."

[153]*
يٰۤاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِ  ۗ  اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصّٰبِرِيْنَ
yaaa ayyuhallaziina aamanusta'iinuu bish-shobri wash-sholaah, innalloha ma'ash-shoobiriin

"Wahai orang-orang <5> yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan sholat.
Sungguh, Allah beserta orang-orang <5> yang sabar."

[154]*
وَلَا تَقُوْلُوْا لِمَنْ يُّقْتَلُ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ اَمْوَاتٌ  ۗ  بَلْ اَحْيَآءٌ وَّلٰـكِنْ لَّا تَشْعُرُوْنَ
wa laa taquuluu limay yuqtalu fii sabiilillaahi amwaat, bal ahyaaa`uw wa laakil laa tasy'uruun

"Dan janganlah kamu <5> mengatakan orang-orang <5> yang terbunuh di jalan Allah (diri-sejati <7> mereka) telah mati. Sebenarnya (diri-sejati <7>mereka) hidup (diakhirat), tetapi kamu <5> tidak menyadarinya."

Iqro' :
Ayat ini memperkuat bahwa sekarang ini sudah ada kehidupan setelah kematian diri-ini <5>, yaitu kehidupan di akhirat.
Diri-Sejati <7> Orang-orang yang terbunuh dijalan Allah...sekarang ini hidup dengan layak di akhirat...tidak mati atau tidur di 'alam kubur'.

[155]
وَلَـنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَـوْفِ وَالْجُـوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ  الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِ ۗ  وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ
wa lanabluwannakum bisyai`im minal-khoufi wal-juu'i wa naqshim minal-amwaali wal-anfusi was-samaroot, wa basysyirish-shoobiriin

"Dan Kami pasti akan menguji kamu <5> dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang <5> yang sabar,"

[156]
الَّذِيْنَ اِذَاۤ اَصَابَتْهُمْ مُّصِيْبَةٌ   ۙ  قَالُوْۤا اِنَّا لِلّٰهِ وَاِنَّـاۤ اِلَيْهِ رٰجِعُوْنَ
allaziina izaaa ashoobat-hum mushiibah, qooluuu innaa lillaahi wa innaaa ilaihi rooji'uun

"(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka <5> berkata 'inna lillahi wa inna ilaihi raji'un' (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami <7> kembali)."

[157]
اُولٰٓئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوٰتٌ مِّنْ رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ  ۗ  وَاُولٰٓئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُوْنَ
ulaaa`ika 'alaihim sholawaatum mir robbihim wa rohmah, wa ulaaa`ika humul-muhtaduun

"Mereka <7> itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhannya dan mereka <5> itulah orang-orang yang mendapat petunjuk."

[158]
اِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِنْ شَعَآئِرِ اللّٰهِ ۚ  فَمَنْ حَجَّ الْبَيْتَ اَوِ اعْتَمَرَ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِ اَنْ يَّطَّوَّفَ بِهِمَا  ۗ  وَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا  ۙ  فَاِنَّ اللّٰهَ شَاكِرٌ عَلِيْمٌ
innash-shofaa wal-marwata min sya'aaa`irillaah, fa man hajjal-baita awi'tamaro fa laa junaaha 'alaihi ay yaththowwafa bihimaa, wa man tathowwa'a khoiron fa innalloha syaakirun 'aliim

"Sesungguhnya Safa dan Marwah merupakan sebagian syiar (agama) Allah. Maka barang siapa <5> beribadah haji ke Baitullah atau berumrah, tidak ada dosa baginya mengerjakan sa'i antara keduanya. Dan barang siapa <5> dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka Allah Maha Mensyukuri, Maha Mengetahui."

[159]
اِنَّ الَّذِيْنَ يَكْتُمُوْنَ مَاۤ اَنْزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنٰتِ وَالْهُدٰى مِنْۢ بَعْدِ مَا بَيَّنّٰهُ لِلنَّاسِ فِى الْكِتٰبِ ۙ  اُولٰٓئِكَ يَلْعَنُهُمُ اللّٰهُ وَ يَلْعَنُهُمُ اللّٰعِنُوْنَ
innallaziina yaktumuuna maaa anzalnaa minal-bayyinaati wal-hudaa mim ba'di maa bayyannaahu lin-naasi fil-kitaabi ulaaa`ika yal'anuhumullohu wa yal'anuhumul-laa'inuun

"Sungguh, orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan dan petunjuk, setelah Kami jelaskan kepada manusia <5> dalam Kitab (Al-Quran), mereka <7> itulah yang dilaknat Allah dan dilaknat (pula) oleh mereka yang melaknat,"

[160]
اِلَّا الَّذِيْنَ تَابُوْا وَاَصْلَحُوْا وَبَيَّـنُوْا فَاُولٰٓئِكَ اَ تُوْبُ عَلَيْهِمْ ۚ  وَاَنَا التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ
illallaziina taabuu wa ashlahuu wa bayyanuu fa ulaaa`ika atuubu 'alaihim, wa anat-tawwaabur-rohiim

"kecuali mereka <5> yang telah bertobat, mengadakan perbaikan dan menjelaskan(nya), mereka <5> itulah yang Aku terima tobatnya dan Akulah Yang Maha Penerima Tobat, Maha Penyayang."

[161]
اِنَّ الَّذِيْنَ  كَفَرُوْا وَمَاتُوْا وَهُمْ كُفَّارٌ اُولٰٓئِكَ عَلَيْهِمْ لَعْنَةُ اللّٰهِ وَالْمَلٰٓئِكَةِ  وَالنَّاسِ اَجْمَعِيْنَ
innallaziina kafaruu wa maatuu wa hum kuffaarun ulaaa`ika 'alaihim la'natullohi wal-malaaa`ikati wan-naasi ajma'iin

"Sungguh, orang-orang yang kafir <5> dan mati dalam keadaan kafir, mereka <7> itu mendapat laknat Allah, para malaikat, dan manusia seluruhnya,"

[162]
خٰلِدِيْنَ فِيْهَا  ۚ  لَا يُخَفَّفُ عَنْهُمُ الْعَذَابُ وَلَا هُمْ يُنْظَرُوْنَ
khoolidiina fiihaa, laa yukhoffafu 'an-humul-'azaabu wa laa hum yunzhoruun

"mereka <7> kekal di dalamnya, tidak akan diringankan azabnya, dan mereka <7> tidak diberi penangguhan.
(Setelah kematian Diri-Ini <5>...Diri-Sejatinya <7> langsung tersiksa...tidak perlu menunggu kiamat)

[163]
وَاِلٰهُكُمْ اِلٰهٌ وَّاحِدٌ   ۚ  لَاۤ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ الرَّحْمٰنُ الرَّحِيْمُ
wa ilaahukum ilaahuw waahid, laaa ilaaha illaa huwar-rohmaanur-rohiim

"Dan Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada tuhan selain Dia, Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang."

[164]
اِنَّ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَاخْتِلَافِ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِيْ تَجْرِيْ فِى الْبَحْرِ بِمَا يَنْفَعُ النَّاسَ وَمَاۤ اَنْزَلَ اللّٰهُ مِنَ السَّمَآءِ مِنْ مَّآءٍ فَاَحْيَا بِهِ الْاَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيْهَا مِنْ کُلِّ دَاۤ بَّةٍ ۖ  وَّتَصْرِيْفِ الرِّيٰحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَآءِ وَالْاَرْضِ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّعْقِلُوْنَ
inna fii kholqis-samaawaati wal-ardhi wakhtilaafil-laili wan-nahaari wal-fulkillatii tajrii fil-bahri bimaa yanfa'un-naasa wa maaa anzalallohu minas-samaaa`i mim maaa`in fa ahyaa bihil-ardho ba'da mautihaa wa bassa fiihaa ming kulli daaabbatiw wa tashriifir-riyaahi was-sahaabil-musakhkhori bainas-samaaa`i wal-ardhi la`aayaatil liqoumiy ya'qiluun

"Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, pergantian malam dan siang, kapal yang berlayar di laut dengan (muatan) yang bermanfaat bagi manusia<5>, apa yang diturunkan Allah dari langit berupa air, lalu dengan itu dihidupkan-Nya bumi setelah mati (kering), dan Dia tebarkan di dalamnya bermacam-macam binatang, dan perkisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi, (semua itu) sungguh, merupakan tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang <5> yang mengerti."

[165]
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَّتَّخِذُ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ اَنْدَادًا يُّحِبُّوْنَهُمْ كَحُبِّ اللّٰهِ ۗ  وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اَشَدُّ حُبًّا لِّـلّٰهِ  ۗ  وَلَوْ يَرَى الَّذِيْنَ ظَلَمُوْۤا اِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَ ۙ   اَنَّ الْقُوَّةَ لِلّٰهِ جَمِيْعًا  ۙ  وَّاَنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعَذَابِ
wa minan-naasi may yattakhizu min duunillaahi andaaday yuhibbuunahum kahubbillaah, wallaziina aamanuuu asyaddu hubbal lillaahi walau yarollaziina zholamuuu iz yarounal-'azaaba annal-quwwata lillaahi jamii'aw wa annalloha syadiidul-'azaab

"Dan di antara manusia <5> ada orang yang menyembah tuhan selain Allah sebagai tandingan yang mereka cintai seperti mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat besar cintanya kepada Allah.
Sekiranya orang-orang <5> yang berbuat zalim itu melihat, ketika mereka <7> melihat azab (diakhirat), bahwa kekuatan itu semuanya milik Allah dan bahwa Allah sangat berat azab-Nya (niscaya mereka menyesal)."

[166]
اِذْ تَبَرَّاَ الَّذِيْنَ اتُّبِعُوْا مِنَ الَّذِيْنَ اتَّبَعُوْا وَرَاَوُا الْعَذَابَ وَ تَقَطَّعَتْ بِهِمُ الْاَسْبَابُ
iz tabarro`allaziinattubi'uu minallaziinattaba'uu wa ro`awul-'azaaba wa taqoththo'at bihimul-asbaab

"ketika orang-orang yang diikuti berlepas tangan dari orang-orang yang mengikuti, dan mereka <7> melihat azab, dan segala hubungan terputus."

[167]
وَقَالَ الَّذِيْنَ اتَّبَعُوْا لَوْ اَنَّ لَنَا كَرَّةً فَنَتَبَرَّاَ مِنْهُمْ كَمَا تَبَرَّءُوْا مِنَّا  ۗ  كَذٰلِكَ يُرِيْهِمُ اللّٰهُ اَعْمَالَهُمْ حَسَرٰتٍ عَلَيْهِمْ ۗ  وَمَا هُمْ بِخٰرِجِيْنَ مِنَ النَّارِ
wa qoolallaziinattaba'uu lau anna lanaa karrotan fa natabarro`a min-hum, kamaa tabarro`uu minnaa, kazaalika yuriihimullohu a'maalahum hasarootin 'alaihim, wa maa hum bikhoorijiina minan-naar

"Dan orang-orang yang mengikuti berkata, Sekiranya kami <7> mendapat kesempatan (kembali ke dunia), tentu kami <5> akan berlepas tangan dari mereka <5>, sebagaimana mereka berlepas tangan dari kami. Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka <7> perbuatan mereka <5> yang menjadi penyesalan mereka. Dan mereka <7> tidak akan keluar dari api neraka."

[168]
يٰۤاَيُّهَا النَّاسُ كُلُوْا مِمَّا فِى الْاَرْضِ حَلٰلًا طَيِّبًا  ۖ  وَّلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِ ۗ  اِنَّهٗ لَـكُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ
yaaa ayyuhan-naasu kuluu mimmaa fil-ardhi halaalan thoyyibaw wa laa tattabi'uu khuthuwaatisy-syaithoon, innahuu lakum 'aduwwum mubiin

"Wahai manusia <5>! Makanlah dari yang halal dan baik yang terdapat di bumi dan janganlah kamu <5> mengikuti langkah-langkah setan.
Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagimu."

[169]
اِنَّمَا يَأْمُرُكُمْ بِالسُّوْٓءِ وَالْفَحْشَآءِ وَاَنْ  تَقُوْلُوْا عَلَى اللّٰهِ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ
innamaa ya`murukum bis-suuu`i wal-fahsyaaa`i wa an taquuluu 'alallohi maa laa ta'lamuun

"Sesungguhnya (setan) itu hanya menyuruh kamu <5> agar berbuat jahat dan keji dan mengatakan apa yang tidak kamu ketahui tentang Allah."

[170]
وَاِذَا قِيْلَ لَهُمُ اتَّبِعُوْا مَاۤ اَنْزَلَ اللّٰهُ قَالُوْا بَلْ نَـتَّبِعُ مَاۤ اَلْفَيْنَا عَلَيْهِ اٰبَآءَنَا  ۗ  اَوَلَوْ كَانَ اٰبَآ ؤُهُمْ لَا يَعْقِلُوْنَ شَيْئًـا وَّلَا يَهْتَدُوْنَ
wa izaa qiila lahumuttabi'uu maaa anzalallohu qooluu bal nattabi'u maaa alfainaa 'alaihi aabaaa`anaa, a walau kaana aabaaa`uhum laa ya'qiluuna syai`aw wa laa yahtaduun

"Dan apabila dikatakan kepada mereka <5>, Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah, mereka menjawab, (Tidak!) Kami <5> mengikuti apa yang kami dapati pada nenek moyang kami (melakukannya). Padahal, nenek moyang mereka <5> itu tidak mengetahui apa pun dan tidak mendapat petunjuk."

[171]
وَمَثَلُ الَّذِيْنَ کَفَرُوْا كَمَثَلِ الَّذِيْ يَنْعِقُ بِمَا لَا يَسْمَعُ اِلَّا دُعَآءً وَّنِدَآءً  ۗ  صُمٌّۢ بُكْمٌ عُمْـيٌ فَهُمْ لَا يَعْقِلُوْنَ
wa masalullaziina kafaruu kamasalillazii yan'iqu bimaa laa yasma'u illaa du'aaa`aw wa nidaaa`aa, shummum bukmun 'umyun fa hum laa ya'qiluun

"Dan perumpamaan bagi (penyeru) orang yang kafir adalah seperti (penggembala) yang meneriaki (binatang) yang tidak mendengar panggilan dan teriakan. (Mereka <7>) tuli, bisu, dan buta, maka mereka <7> tidak mengerti."

[172]
يٰۤاَ يُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا کُلُوْا مِنْ طَيِّبٰتِ مَا رَزَقْنٰكُمْ وَاشْكُرُوْا لِلّٰهِ اِنْ کُنْتُمْ اِيَّاهُ تَعْبُدُوْنَ
yaaa ayyuhallaziina aamanuu kuluu min thoyyibaati maa rozaqnaakum wasykuruu lillaahi ing kuntum iyyaahu ta'buduun

"Wahai orang-orang <5> yang beriman! Makanlah dari rezeki yang baik yang Kami berikan kepada kamu dan bersyukurlah kepada Allah jika kamu <5> hanya menyembah kepada-Nya."

[173]
اِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْکُمُ الْمَيْتَةَ وَالدَّمَ وَلَحْمَ الْخِنْزِيْرِ وَمَاۤ اُهِلَّ بِهٖ  لِغَيْرِ اللّٰهِ ۚ  فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَّلَا عَادٍ فَلَاۤ اِثْمَ عَلَيْهِ ۗ  اِنَّ اللّٰهَ  غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
innamaa harroma 'alaikumul-maitata wad-dama wa lahmal-khinziiri wa maaa uhilla bihii lighoirillaah, fa manidhthurro ghoiro baaghiw wa laa 'aadin fa laaa isma 'alaiih, innalloha ghofuurur rohiim

"Sesungguhnya Dia hanya mengharamkan atasmu bangkai, darah, daging babi, dan (daging) hewan yang disembelih dengan (menyebut nama) selain Allah. Tetapi barang siapa terpaksa (memakannya), bukan karena menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang."

[174]
اِنَّ الَّذِيْنَ يَكْتُمُوْنَ مَاۤ اَنْزَلَ اللّٰهُ مِنَ الْکِتٰبِ وَ يَشْتَرُوْنَ بِهٖ ثَمَنًا قَلِيْلًا  ۙ  اُولٰٓئِكَ مَا يَأْكُلُوْنَ فِيْ بُطُوْنِهِمْ اِلَّا النَّارَ وَلَا يُکَلِّمُهُمُ اللّٰهُ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ وَلَا يُزَکِّيْهِمْ  ۚ  وَلَهُمْ عَذَابٌ اَ لِيْمٌ
innallaziina yaktumuuna maaa anzalallohu minal-kitaabi wa yasytaruuna bihii samanang qoliilan ulaaa`ika maa ya`kuluuna fii buthuunihim illan-naaro wa laa yukallimuhumullohu yaumal-qiyaamati wa laa yuzakkiihim, wa lahum 'azaabun aliim

"Sungguh, orang-orang <5> yang menyembunyikan apa yang telah diturunkan Allah, yaitu kitab, dan menjualnya dengan harga murah, mereka hanya menelan api neraka ke dalam perutnya dan Allah tidak akan menyapa mereka <7> pada hari Kiamat, dan tidak akan menyucikan mereka <7>.
Mereka <7> akan mendapat azab yang sangat pedih."

[175]
اُولٰٓئِكَ الَّذِيْنَ اشْتَرَوُا الضَّلٰلَةَ بِالْهُدٰى وَالْعَذَابَ بِالْمَغْفِرَةِ  ۚ  فَمَاۤ اَصْبَرَهُمْ عَلَى النَّارِ
ulaaa`ikallaziinasytarowudh-dholaalata bil-hudaa wal-'azaaba bil-maghfiroh, fa maaa ashbarohum 'alan-naar

"Mereka <5> itulah yang membeli kesesatan dengan petunjuk dan azab dengan ampunan. Maka alangkah beraninya mereka <5> menentang api neraka!

[176]
ذٰلِكَ بِاَنَّ اللّٰهَ نَزَّلَ الْکِتٰبَ بِالْحَـقِّ ۗ  وَاِنَّ الَّذِيْنَ اخْتَلَفُوْا فِى الْكِتٰبِ لَفِيْ شِقَاقٍۢ بَعِيْدٍ
zaalika bi`annalloha nazzalal-kitaaba bil-haqq, wa innallaziinakhtalafuu fil-kitaabi lafii syiqooqim ba'iid

"Yang demikian itu karena Allah telah menurunkan Kitab (Al-Qur'an) dengan (membawa) kebenaran dan sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (kebenaran) Kitab itu, mereka <5> dalam perpecahan yang jauh."

[177]
لَيْسَ الْبِرَّ اَنْ تُوَلُّوْا وُجُوْهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَ الْمَغْرِبِ وَلٰـكِنَّ الْبِرَّ مَنْ اٰمَنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ وَالْمَلٰٓئِکَةِ وَالْكِتٰبِ وَالنَّبِيّٖنَ ۚ  وَاٰتَى الْمَالَ عَلٰى حُبِّهٖ ذَوِى الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنَ وَابْنَ السَّبِيْلِ ۙ  وَالسَّآئِلِيْنَ وَفِى الرِّقَابِ ۚ  وَاَقَامَ الصَّلٰوةَ وَاٰتَى الزَّکٰوةَ   ۚ  وَالْمُوْفُوْنَ بِعَهْدِهِمْ اِذَا عٰهَدُوْا  ۚ  وَالصّٰبِرِيْنَ فِى الْبَأْسَآءِ وَالضَّرَّآءِ وَحِيْنَ الْبَأْسِ ۗ  اُولٰٓئِكَ الَّذِيْنَ صَدَقُوْا  ۗ  وَاُولٰٓئِكَ هُمُ الْمُتَّقُوْنَ
laisal-birro an tuwalluu wujuuhakum qibalal-masyriqi wal-maghribi wa laakinnal-birro man aamana billaahi wal-yaumil-aakhiri wal-malaaa`ikati wal-kitaabi wan-nabiyyiin, wa aatal-maala 'alaa hubbihii zawil-qurbaa wal-yataamaa wal-masaakiina wabnas-sabiili was-saaa`iliina wa fir-riqoob, wa aqoomash-sholaata wa aataz-zakaah, wal-muufuuna bi'ahdihim izaa 'aahaduu, wash-shoobiriina fil-ba`saaa`i wadh-dhorrooo`i wa hiinal-ba`s, ulaaa`ikallaziina shodaquu, wa ulaaa`ika humul-muttaquun

"Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan ke barat, tetapi kebajikan itu ialah orang yang beriman kepada Allah, hari-kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, dan nabi-nabi, dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang-orang miskin, orang-orang yang dalam perjalanan (musafir), peminta-minta, dan untuk memerdekakan hamba sahaya, yang melaksanakan sholat dan menunaikan zakat, orang-orang yang menepati janji apabila berjanji, dan orang yang sabar dalam kemelaratan, penderitaan, dan pada masa peperangan.
Mereka <5> itulah orang-orang yang benar dan mereka <5> itulah orang-orang yang bertakwa."

[178]
يٰۤاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِصَاصُ فِى الْقَتْلٰى   ۗ  الْحُرُّ بِالْحُـرِّ وَالْعَبْدُ بِالْعَبْدِوَالْاُنْثٰى بِالْاُنْثٰى ۗ  فَمَنْ عُفِيَ لَهٗ مِنْ اَخِيْهِ شَيْءٌ فَاتِّبَاعٌۢ بِالْمَعْرُوْفِ وَاَدَآءٌ اِلَيْهِ بِاِحْسَانٍ ۗ  ذٰلِكَ تَخْفِيْفٌ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَرَحْمَةٌ   ۗ  فَمَنِ اعْتَدٰى بَعْدَ ذٰلِكَ فَلَهٗ عَذَابٌ اَلِيْمٌ
yaaa ayyuhallaziina aamanuu kutiba 'alaikumul-qishooshu fil-qotlaa, al-hurru bil-hurri wal-'abdu bil-'abdi wal-unsaa bil-unsaa, fa man 'ufiya lahuu min akhiihi syai`un fattibaa'um bil-ma'ruufi wa adaaa`un ilaihi bi`ihsaan, zaalika takhfiifum mir robbikum wa rohmah, fa mani'tadaa ba'da zaalika fa lahuu 'azaabun aliim

"Wahai orang-orang <5> yang beriman! Diwajibkan atas kamu (melaksanakan) qisas berkenaan dengan orang yang dibunuh. Orang merdeka dengan orang merdeka, hamba sahaya dengan hamba sahaya, perempuan dengan perempuan. Tetapi barang siapa memperoleh maaf dari saudaranya, hendaklah dia mengikutinya dengan baik, dan membayar diat (tebusan) kepadanya dengan baik (pula). Yang demikian itu adalah keringanan dan rahmat dari Tuhanmu. Barang siapa melampaui batas setelah itu, maka ia akan mendapat azab yang sangat pedih."

[179]
وَ لَـكُمْ فِى الْقِصَاصِ حَيٰوةٌ يّٰۤـاُولِى الْاَلْبَابِ لَعَلَّکُمْ تَتَّقُوْنَ
wa lakum fil-qishooshi hayaatuy yaaa ulil-albaabi la'allakum tattaquun

"Dan dalam qisas itu ada (jaminan) kehidupan bagimu, wahai orang-orang yang berakal, agar kamu bertakwa."

[180]
كُتِبَ عَلَيْكُمْ اِذَا حَضَرَ اَحَدَكُمُ الْمَوْتُ اِنْ تَرَكَ خَيْرًا  ۚ   ا لْوَ صِيَّةُ لِلْوَالِدَيْنِ وَالْاَقْرَبِيْنَ بِالْمَعْرُوْفِ ۚ  حَقًّا عَلَى الْمُتَّقِيْنَ
kutiba 'alaikum izaa hadhoro ahadakumul-mautu in taroka khoironil-washiyyatu lil-waalidaini wal-aqrobiina bil-ma'ruuf, haqqon 'alal-muttaqiin

"Diwajibkan atas kamu <5>, apabila maut hendak menjemput seseorang di antara kamu, jika dia meninggalkan harta, berwasiat untuk kedua orang tua dan karib kerabat dengan cara yang baik, (sebagai) kewajiban bagi orang-orang yang bertakwa."

[181]
فَمَنْۢ  بَدَّلَهٗ بَعْدَمَا سَمِعَهٗ فَاِنَّمَاۤ اِثْمُهٗ عَلَى الَّذِيْنَ يُبَدِّلُوْنَهٗ ۗ   اِنَّ اللّٰهَ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ
fa mam baddalahuu ba'da maa sami'ahuu fa innamaaa ismuhuu 'alallaziina yubaddiluunah, innalloha samii'un 'aliim

"Barang siapa mengubahnya (wasiat itu), setelah mendengarnya, maka sesungguhnya dosanya hanya bagi orang yang mengubahnya. Sungguh, Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui."

[182]
فَمَنْ خَافَ مِنْ مُّوْصٍ جَنَفًا اَوْ اِثْمًا  فَاَصْلَحَ بَيْنَهُمْ فَلَاۤ اِثْمَ عَلَيْهِ ۗ  اِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
fa man khoofa mim muushin janafan au isman fa ashlaha bainahum fa laaa isma 'alaiih, innalloha ghofuurur rohiim

"Tetapi barang siapa khawatir bahwa pemberi wasiat (berlaku) berat sebelah atau berbuat salah, lalu dia mendamaikan antara mereka, maka dia tidak berdosa. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang."

[183]
يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْکُمُ الصِّيَامُ کَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِکُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ
yaaa ayyuhallaziina aamanuu kutiba 'alaikumush-shiyaamu kamaa kutiba 'alallaziina ming qoblikum la'allakum tattaquun

"Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu <5> berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu <5> bertakwa,"

[184]
اَيَّامًا مَّعْدُوْدٰتٍ ۗ  فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَّرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّامٍ اُخَرَ ۗ  وَعَلَى الَّذِيْنَ يُطِيْقُوْنَهٗ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِيْنٍ ۗ  فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَّهٗ  ۗ  وَاَنْ تَصُوْمُوْا خَيْرٌ لَّـکُمْ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ
ayyaamam ma'duudaat, fa mang kaana mingkum mariidhon au 'alaa safarin fa 'iddatum min ayyaamin ukhor, wa 'alallaziina yuthiiquunahuu fidyatun tho'aamu miskiin, fa man tathowwa'a khoiron fa huwa khoirul lah, wa an tashuumuu khoirul lakum ing kuntum ta'lamuun

"(yaitu) beberapa hari tertentu. Maka barang siapa di antara kamu <5> sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib mengganti) sebanyak hari (yang dia tidak berpuasa itu) pada hari-hari yang lain. Dan bagi orang yang berat menjalankannya, wajib membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin. Tetapi barang siapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itu lebih baik baginya, dan puasamu itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui."

[185]
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْۤ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَ بَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَالْفُرْقَانِ ۚ  فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَـصُمْهُ  ۗ  وَمَنْ کَانَ مَرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّامٍ اُخَرَ ۗ  يُرِيْدُ اللّٰهُ بِکُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيْدُ بِکُمُ الْعُسْرَ ۖ  وَلِتُکْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُکَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰٮكُمْ وَلَعَلَّکُمْ تَشْكُرُوْنَ
syahru romadhoonallaziii unzila fiihil-qur`aanu hudal lin-naasi wa bayyinaatim minal-hudaa wal-furqoon, fa man syahida mingkumusy-syahro falyashum-h, wa mang kaana mariidhon au 'alaa safarin fa 'iddatum min ayyaamin ukhor, yuriidullohu bikumul-yusro wa laa yuriidu bikumul-'usro wa litukmilul-'iddata wa litukabbirulloha 'alaa maa hadaakum wa la'allakum tasykuruun

"Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an, sebagai petunjuk bagi manusia <5> dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil). Karena itu, barang siapa di antara kamu ada di bulan itu, maka berpuasalah. Dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (dia tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur."

[186]
وَاِذَا  سَاَلَـكَ عِبَادِيْ عَنِّيْ فَاِنِّيْ قَرِيْبٌ ۗ  اُجِيْبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ اِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيْبُوْا لِيْ وَلْيُؤْمِنُوْا بِيْ لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُوْنَ
wa izaa sa`alaka 'ibaadii 'annii fa innii qoriib, ujiibu da'watad-daa'i izaa da'aani falyastajiibuu lii walyu`minuu bii la'allahum yarsyuduun

"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang <5> yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka memperoleh kebenaran."

[187]
اُحِلَّ لَـکُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ اِلٰى نِسَآئِكُمْ ۗ  هُنَّ لِبَاسٌ لَّـكُمْ وَاَنْـتُمْ لِبَاسٌ لَّهُنَّ  ۗ  عَلِمَ اللّٰهُ اَنَّکُمْ كُنْتُمْ تَخْتَانُوْنَ اَنْفُسَکُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنْكُمْ ۚ  فَالْــئٰنَ بَاشِرُوْهُنَّ وَابْتَغُوْا مَا کَتَبَ اللّٰهُ لَـكُمْ  ۗ  وَكُلُوْا وَاشْرَبُوْا حَتّٰى يَتَبَيَّنَ لَـكُمُ الْخَـيْطُ الْاَبْيَضُ مِنَ الْخَـيْطِ الْاَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ  ۖ  ثُمَّ اَتِمُّوا الصِّيَامَ اِلَى الَّيْلِ ۚ  وَلَا تُبَاشِرُوْهُنَّ وَاَنْـتُمْ عٰكِفُوْنَ  ۙ  فِى الْمَسٰجِدِ  ۗ  تِلْكَ حُدُوْدُ اللّٰهِ فَلَا تَقْرَبُوْهَا  ۗ  كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰهُ اٰيٰتِهٖ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُوْنَ
uhilla lakum lailatash-shiyaamir-rofasu ilaa nisaaa`ikum, hunna libaasul lakum wa antum libaasul lahunn, 'alimallohu annakum kuntum takhtaanuuna anfusakum fa taaba 'alaikum wa 'afaa 'angkum, fal-aana baasyiruuhunna wabtaghuu maa kataballohu lakum, wa kuluu wasyrobuu hattaa yatabayyana lakumul-khoithul-abyadhu minal-khoithil-aswadi minal-fajr, summa atimmush-shiyaama ilal-laiil, wa laa tubaasyiruuhunna wa antum 'aakifuuna fil-masaajid, tilka huduudullohi fa laa taqrobuuhaa, kazaalika yubayyinullohu aayaatihii lin-naasi la'allahum yattaquun

"Dihalalkan bagimu pada malam hari puasa bercampur dengan istrimu. Mereka adalah pakaian bagimu dan kamu adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwa kamu tidak dapat menahan dirimu sendiri, tetapi Dia menerima tobatmu dan memaafkan kamu. Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah bagimu. Makan dan minumlah hingga jelas bagimu (perbedaan) antara benang putih dan benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa sampai (datang) malam. Tetapi jangan kamu campuri mereka ketika kamu beritikaf dalam masjid. Itulah ketentuan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia agar mereka <5> bertakwa."

[188]
وَلَا تَأْكُلُوْۤا اَمْوَالَـكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ وَتُدْلُوْا بِهَاۤ اِلَى الْحُـکَّامِ لِتَأْکُلُوْا فَرِيْقًا مِّنْ اَمْوَالِ النَّاسِ بِالْاِثْمِ وَاَنْـتُمْ تَعْلَمُوْنَ
wa laa ta`kuluuu amwaalakum bainakum bil-baathili wa tudluu bihaaa ilal-hukkaami lita`kuluu fariiqom min amwaalin-naasi bil-ismi wa antum ta'lamuun

"Dan janganlah kamu makan harta di antara kamu dengan jalan yang batil dan (janganlah) kamu menyuap dengan harta itu kepada para hakim dengan maksud agar kamu dapat memakan sebagian harta orang lain itu dengan jalan dosa, padahal kamu mengetahui."

[189]
يَسْــئَلُوْنَكَ عَنِ الْاَهِلَّةِ  ۗ  قُلْ هِيَ مَوَاقِيْتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ  ۗ  وَلَيْسَ الْبِرُّ بِاَنْ تَأْتُوا الْبُيُوْتَ مِنْ ظُهُوْرِهَا وَلٰـكِنَّ الْبِرَّ مَنِ اتَّقٰى ۚ  وَأْتُوا الْبُيُوْتَ مِنْ اَبْوَابِهَا ۖ  وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّکُمْ تُفْلِحُوْنَ‏‏
yas`aluunaka 'anil-ahillah, qul hiya mawaaqiitu lin-naasi wal-hajj, wa laisal-birru bi`an ta`tul-buyuuta min zhuhuurihaa wa laakinnal-birro manittaqoo, wa`tul-buyuuta min abwaabihaa wattaqulloha la'allakum tuflihuun

"Mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang bulan sabit. Katakanlah, Itu adalah (penunjuk) waktu bagi manusia dan (ibadah) haji. Dan bukanlah suatu kebajikan memasuki rumah dari belakangnya, tetapi kebajikan adalah (kebajikan) orang yang bertakwa. Masukilah rumah-rumah dari pintu-pintunya dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung."

[190]
وَقَاتِلُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ الَّذِيْنَ يُقَاتِلُوْنَكُمْ وَلَا تَعْتَدُوْا  ۗ  اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِيْنَ
wa qootiluu fii sabiilillaahillaziina yuqootiluunakum wa laa ta'taduu, innalloha laa yuhibbul-mu'tadiin

"Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, tetapi jangan melampaui batas. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas."

[191]
وَاقْتُلُوْهُمْ حَيْثُ ثَقِفْتُمُوْهُمْ وَاَخْرِجُوْهُمْ  مِّنْ حَيْثُ اَخْرَجُوْكُمْ وَالْفِتْنَةُ اَشَدُّ مِنَ الْقَتْلِ ۚ  وَلَا  تُقٰتِلُوْهُمْ عِنْدَ الْمَسْجِدِ الْحَـرَامِ حَتّٰى يُقٰتِلُوْكُمْ  فِيْهِ ۚ  فَاِنْ قٰتَلُوْكُمْ فَاقْتُلُوْهُمْ ۗ  كَذٰلِكَ جَزَآءُ  الْكٰفِرِيْنَ
waqtuluuhum haisu saqiftumuuhum wa akhrijuuhum min haisu akhrojuukum wal-fitnatu asyaddu minal-qotl, wa laa tuqootiluuhum 'indal-masjidil-haroomi hattaa yuqootiluukum fiih, fa ing qootaluukum faqtuluuhum, kazaalika jazaaa`ul-kaafiriin

"Dan bunuhlah mereka di mana kamu temui mereka dan usirlah mereka dari mana mereka telah mengusir kamu. Dan fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan. Dan janganlah kamu perangi mereka di Masjidilharam kecuali jika mereka memerangi kamu di tempat itu. Jika mereka memerangi kamu, maka perangilah mereka. Demikianlah balasan bagi orang kafir."

[192]
فَاِنِ انْـتَهَوْا فَاِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
fa inintahau fa innalloha ghofuurur rohiim

"Tetapi jika mereka berhenti, maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang."

[193]
وَقٰتِلُوْهُمْ حَتّٰى لَا تَكُوْنَ فِتْنَةٌ وَّيَكُوْنَ الدِّيْنُ  لِلّٰهِ ۗ  فَاِنِ انْتَهَوْا فَلَا عُدْوَانَ اِلَّا عَلَى الظّٰلِمِيْنَ
wa qootiluuhum hattaa laa takuuna fitnatuw wa yakuunad-diinu lillaah, fa inintahau fa laa 'udwaana illaa 'alazh-zhoolimiin

"Dan perangilah mereka itu sampai tidak ada lagi fitnah, dan agama (lakumu didunia) hanya bagi Allah semata. Jika mereka berhenti, maka tidak ada (lagi) permusuhan kecuali terhadap orang-orang zalim."

[194]
اَلشَّهْرُ الْحَـرَامُ بِالشَّهْرِ الْحَـرَامِ وَالْحُرُمٰتُ قِصَاصٌ ۗ  فَمَنِ اعْتَدٰى عَلَيْكُمْ فَاعْتَدُوْا عَلَيْهِ بِمِثْلِ مَا اعْتَدٰى عَلَيْكُمْ ۖ  وَاتَّقُوا اللّٰهَ وَاعْلَمُوْۤا اَنَّ اللّٰهَ مَعَ الْمُتَّقِيْنَ
asy-syahrul-haroomu bisy-syahril-haroomi wal-hurumaatu qishoosh, fa mani'tadaa 'alaikum fa'taduu 'alaihi bimisli ma'tadaa 'alaikum wattaqulloha wa'lamuuu annalloha ma'al-muttaqiin

"Bulan haram dengan bulan haram, dan (terhadap) sesuatu yang dihormati berlaku (hukum) qisas. Oleh sebab itu barang siapa menyerang kamu, maka seranglah dia setimpal dengan serangannya terhadap kamu. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah beserta orang-orang yang bertakwa."

[195]
وَاَنْفِقُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَلَا تُلْقُوْا بِاَيْدِيْكُمْ اِلَى التَّهْلُكَةِ  ۛ  وَاَحْسِنُوْا  ۛ  اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَ
wa anfiquu fii sabiilillaahi wa laa tulquu bi`aidiikum ilat-tahlukati wa ahsinuu, innalloha yuhibbul-muhsiniin

"Dan infakkanlah (hartamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu <5> jatuhkan (diri-sejatimu <7>) ke dalam kebinasaan dengan tangan sendiri, dan berbuat baiklah. Sungguh, Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik."

[196]
وَاَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلّٰهِ ۗ  فَاِنْ اُحْصِرْتُمْ فَمَا اسْتَيْسَرَ مِنَ الْهَدْيِ ۚ  وَلَا تَحْلِقُوْا رُءُوْسَكُمْ حَتّٰى يَبْلُغَ الْهَدْيُ مَحِلَّهٗ  ۗ  فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَّرِيْضًا اَوْ بِهٖۤ اَذًى مِّنْ رَّأْسِهٖ فَفِدْيَةٌ مِّنْ صِيَامٍ اَوْ صَدَقَةٍ اَوْ نُسُكٍ ۚ  فَاِذَاۤ اَمِنْتُمْ ۗ  فَمَنْ تَمَتَّعَ بِالْعُمْرَةِ اِلَى الْحَجِّ فَمَا اسْتَيْسَرَ مِنَ الْهَدْيِ ۚ  فَمَنْ لَّمْ يَجِدْ فَصِيَامُ ثَلٰثَةِ اَيَّامٍ فِى الْحَجِّ وَسَبْعَةٍ اِذَا رَجَعْتُمْ ۗ  تِلْكَ عَشَرَةٌ كَامِلَةٌ   ۗ  ذٰلِكَ لِمَنْ لَّمْ يَكُنْ اَهْلُهٗ حَاضِرِى الْمَسْجِدِ الْحَـرَامِ ۗ  وَاتَّقُوا اللّٰهَ وَاعْلَمُوْۤا اَنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ
wa atimmul-hajja wal-'umrota lillaah, fa in uhshirtum fa mastaisaro minal-hady, wa laa tahliquu ru`uusakum hattaa yablughol-hadyu mahillah, fa mang kaana mingkum mariidhon au bihiii azam mir ro`sihii fa fidyatum min shiyaamin au shodaqotin au nusuk, fa izaaa amintum, fa man tamatta'a bil-'umroti ilal-hajji fa mastaisaro minal-hady, fa mal lam yajid fa shiyaamu salaasati ayyaamin fil-hajji wa sab'atin izaa roja'tum, tilka 'asyarotung kaamilah, zaalika limal lam yakun ahluhuu haadhiril-masjidil-haroom, wattaqulloha wa'lamuuu annalloha syadiidul-'iqoob

"Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah. Tetapi jika kamu terkepung (oleh musuh), maka (sembelihlah) hadyu yang mudah didapat, dan jangan kamu mencukur kepalamu, sebelum hadyu sampai di tempat penyembelihannya. Jika ada di antara kamu yang sakit atau ada gangguan di kepalanya (lalu dia bercukur), maka dia wajib berfidyah, yaitu berpuasa, bersedekah, atau berkurban. Apabila kamu dalam keadaan aman, maka barang siapa mengerjakan umrah sebelum haji, dia (wajib menyembelih) hadyu yang mudah didapat. Tetapi jika dia tidak mendapatkannya, maka dia (wajib) berpuasa tiga hari dalam (musim) haji dan tujuh (hari) setelah kamu kembali. Itu seluruhnya sepuluh (hari). Demikian itu, bagi orang yang bukan penduduk Masjidilharam. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah sangat keras hukuman-Nya."

[197]
اَلْحَجُّ اَشْهُرٌ مَّعْلُوْمٰتٌ  ۚ  فَمَنْ فَرَضَ فِيْهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوْقَ وَلَا جِدَالَ فِى الْحَجِّ  ۗ  وَمَا تَفْعَلُوْا مِنْ خَيْرٍ يَّعْلَمْهُ اللّٰهُ  ۗ  وَتَزَوَّدُوْا فَاِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوٰى  ۖ  وَاتَّقُوْنِ يٰۤاُولِى الْاَلْبَابِ
al-hajju asy-hurum ma'luumaat, fa man farodho fiihinnal-hajja fa laa rofasa wa laa fusuuqo wa laa jidaala fil-hajj, wa maa taf'aluu min khoiriy ya'lam-hulloh, wa tazawwaduu fa inna khoiroz-zaadit-taqwaa wattaquuni yaaa ulil-albaab

"(Musim) haji itu (pada) bulan-bulan yang telah dimaklumi. Barang siapa mengerjakan (ibadah) haji dalam (bulan-bulan) itu, maka janganlah dia berkata jorok (rafats), berbuat maksiat, dan bertengkar dalam (melakukan ibadah) haji. Segala yang baik yang kamu kerjakan, Allah mengetahuinya. Bawalah bekal, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Dan bertakwalah kepada-Ku, wahai orang-orang yang mempunyai akal sehat!"

[198]
لَيْسَ عَلَيْکُمْ جُنَاحٌ اَنْ تَبْتَغُوْا فَضْلًا مِّنْ رَّبِّکُمْ ۗ  فَاِذَاۤ اَفَضْتُمْ مِّنْ عَرَفٰتٍ فَاذْکُرُوا اللّٰهَ عِنْدَ الْمَشْعَرِ الْحَـرَامِ ۖ  وَاذْکُرُوْهُ کَمَا هَدٰٮکُمْ ۚ  وَاِنْ کُنْتُمْ مِّنْ قَبْلِهٖ لَمِنَ الضَّاۤ لِّيْنَ
laisa 'alaikum junaahun an tabtaghuu fadhlam mir robbikum, fa izaaa afadhtum min 'arofaatin fazkurulloha 'indal-masy'aril-haroomi wazkuruuhu kamaa hadaakum, wa ing kuntum ming qoblihii laminadh-dhooolliin

"Bukanlah suatu dosa bagimu mencari karunia dari Tuhanmu. Maka apabila kamu <5> bertolak dari 'Arafah, berzikirlah kepada Allah di Masy'aril Haram. Dan berzikirlah kepada-Nya sebagaimana Dia telah memberi petunjuk kepadamu, sekalipun sebelumnya kamu benar-benar termasuk orang yang tidak tahu."

[199]
ثُمَّ اَفِيْضُوْا مِنْ حَيْثُ اَفَاضَ النَّاسُ وَاسْتَغْفِرُوا اللّٰهَ ۗ  اِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
summa afiidhuu min haisu afaadhon-naasu wastaghfirulloh, innalloha ghofuurur rohiim

"Kemudian bertolaklah kamu dari tempat orang banyak bertolak ('Arafah) dan mohonlah ampunan kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang."

[200]
فَاِذَا قَضَيْتُمْ مَّنَاسِكَـکُمْ فَاذْکُرُوا اللّٰهَ كَذِكْرِكُمْ اٰبَآءَکُمْ اَوْ اَشَدَّ ذِکْرًا  ۗ  فَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَّقُوْلُ رَبَّنَاۤ اٰتِنَا فِى الدُّنْيَا وَمَا لَهٗ فِى الْاٰخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ
fa izaa qodhoitum manasikakum fazkurulloha kazikrikum aabaaa`akum au asyadda zikroo, fa minan-naasi may yaquulu robbanaaa aatinaa fid-dun-yaa wa maa lahuu fil-aakhiroti min kholaaq

"Apabila kamu <5> telah menyelesaikan ibadah haji, maka berzikirlah kepada Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut nenek moyang kamu, bahkan berzikirlah lebih dari itu.
Maka di antara manusia ada yang berdoa, Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia, dan di akhirat dia tidak memperoleh bagian apa pun."

[201]

وَمِنْهُمْ مَّنْ يَّقُوْلُ رَبَّنَاۤ اٰتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَّفِى الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَّ قِنَا عَذَابَ النَّارِ
wa min-hum may yaquulu robbanaaa aatinaa fid-dun-yaa hasanataw wa fil-aakhiroti hasanataw wa qinaa 'azaaban-naar

"Dan di antara mereka <5> ada yang berdoa,
Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami <7> dari azab neraka."

[202]
اُولٰٓئِكَ لَهُمْ نَصِيْبٌ مِّمَّا كَسَبُوْا  ۗ  وَاللّٰهُ سَرِيْعُ الْحِسَابِ
ulaaa`ika lahum nashiibum mimmaa kasabuu, wallohu sarii'ul-hisaab

"Mereka <7> itulah yang memperoleh bagian dari apa yang telah mereka <5> kerjakan, dan Allah Maha Cepat perhitungan-Nya (tidak perlu menunggu kematian Diri-Ini atau kiamat)"

[203]
وَاذْكُرُوا اللّٰهَ فِيْۤ اَيَّامٍ مَّعْدُوْدٰتٍ ۗ  فَمَنْ تَعَجَّلَ فِيْ يَوْمَيْنِ فَلَاۤ اِثْمَ عَلَيْهِ  ۚ  وَمَنْ تَاَخَّرَ فَلَاۤ اِثْمَ عَلَيْهِ  ۙ  لِمَنِ اتَّقٰى  ۗ  وَاتَّقُوا اللّٰهَ وَاعْلَمُوْۤا اَنَّکُمْ اِلَيْهِ تُحْشَرُوْنَ
wazkurulloha fiii ayyaamim ma'duudaat, fa man ta'ajjala fii yaumaini fa laaa isma 'alaiih, wa man ta`akhkhoro fa laaa isma 'alaihi limanittaqoo, wattaqulloha wa'lamuuu annakum ilaihi tuhsyaruun

"Dan berzikirlah kepada Allah pada hari yang telah ditentukan jumlahnya. Barang siapa mempercepat (meninggalkan Mina) setelah dua hari, maka tidak ada dosa baginya. Dan barang siapa mengakhirkannya tidak ada dosa (pula) baginya, (yakni) bagi orang yang bertakwa. Dan bertakwalah kepada Allah, dan ketahuilah bahwa kamu akan dikumpulkan-Nya."

[204]
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يُّعْجِبُكَ قَوْلُهٗ فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَيُشْهِدُ اللّٰهَ عَلٰى مَا فِيْ قَلْبِهٖ ۙ  وَهُوَ اَلَدُّ الْخِصَامِ
wa minan-naasi may yu'jibuka qouluhuu fil-hayaatid-dun-yaa wa yusy-hidulloha 'alaa maa fii qolbihii wa huwa aladdul-khishoom

"Dan di antara manusia <5> ada yang pembicaraannya tentang kehidupan dunia mengagumkan engkau (Muhammad), dan dia bersaksi kepada Allah mengenai isi hatinya, padahal dia adalah penentang yang paling keras."

[205]
وَاِذَا تَوَلّٰى سَعٰى فِى الْاَرْضِ  لِيُفْسِدَ فِيْهَا وَيُهْلِكَ الْحَـرْثَ وَالنَّسْلَ ۗ  وَاللّٰهُ لَا يُحِبُّ الْفَسَادَ
wa izaa tawallaa sa'aa fil-ardhi liyufsida fiihaa wa yuhlikal-harsa wan-nasl, wallohu laa yuhibbul-fasaad

"Dan apabila dia berpaling (dari engkau), dia <5> berusaha untuk berbuat kerusakan di bumi, serta merusak tanam-tanaman dan ternak, sedang Allah tidak menyukai kerusakan."

[206]
وَاِذَا قِيْلَ لَهُ اتَّقِ اللّٰهَ اَخَذَتْهُ  الْعِزَّةُ بِالْاِثْمِ فَحَسْبُهٗ جَهَنَّمُ ۗ  وَلَبِئْسَ الْمِهَادُ
wa izaa qiila lahuttaqillaaha akhozat-hul-'izzatu bil-ismi fa hasbuhuu jahannam, wa labi`sal-mihaad

"Dan apabila dikatakan kepadanya <5>, Bertakwalah kepada Allah, bangkitlah kesombongannya <5> untuk berbuat dosa. Maka pantaslah baginya <7> Neraka Jahanam, dan sungguh (Jahanam itu) tempat tinggal yang terburuk."

[207]
وَمِنَ  النَّاسِ مَنْ يَّشْرِيْ نَفْسَهُ ابْتِغَآءَ مَرْضَاتِ اللّٰهِ ۗ  وَ اللّٰهُ رَءُوْفٌ ۢ بِالْعِبَادِ
wa minan-naasi may yasyrii nafsahubtighooo`a mardhootillaah, wallohu ro`uufum bil-'ibaad

"Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya <5> untuk mencari keridaan Allah. Dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya."

[208]
يٰۤاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا ادْخُلُوْا فِى السِّلْمِ کَاۤ فَّةً   ۖ  وَّلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِ  ۗ  اِنَّهٗ لَـکُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ
yaaa ayyuhallaziina aamanudkhuluu fis-silmi kaaaffataw wa laa tattabi'uu khuthuwaatisy-syaithoon, innahuu lakum 'aduwwum mubiin

"Wahai orang-orang yang beriman <5>! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu <5> ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu."

[209]
فَاِنْ زَلَـلْتُمْ مِّنْۢ  بَعْدِ مَا جَآءَتْکُمُ الْبَيِّنٰتُ فَاعْلَمُوْۤا اَنَّ اللّٰهَ عَزِيْزٌ  حَکِيْمٌ
fa in zalaltum mim ba'di maa jaaa`atkumul-bayyinaatu fa'lamuuu annalloha 'aziizun hakiim

"Tetapi jika kamu <5> tergelincir setelah bukti-bukti yang nyata sampai kepadamu, ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana."

[210]
هَلْ يَنْظُرُوْنَ اِلَّاۤ اَنْ يَّأْتِيَهُمُ اللّٰهُ فِيْ  ظُلَلٍ مِّنَ الْغَمَامِ وَالْمَلٰٓئِکَةُ وَقُضِيَ الْاَمْرُ ۗ   وَاِلَى اللّٰهِ تُرْجَعُ الْاُمُوْرُ
hal yanzhuruuna illaaa ay ya`tiyahumullohu fii zhulalim minal-ghomaami wal-malaaa`ikatu wa qudhiyal-amr, wa ilallohi turja'ul-umuur

"Tidak ada yang mereka <5> tunggu-tunggu kecuali datangnya (azab) Allah bersama malaikat dalam naungan awan, sedangkan perkara (mereka) telah diputuskan. Dan kepada Allah-lah segala perkara dikembalikan."

<211]
سَلْ بَنِيْۤ اِسْرَآءِيْلَ كَمْ اٰتَيْنٰهُمْ مِّنْ اٰيَةٍۢ بَيِّنَةٍ  ۗ  وَمَنْ يُّبَدِّلْ نِعْمَةَ اللّٰهِ مِنْۢ بَعْدِ مَا جَآءَتْهُ فَاِنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ
sal baniii isrooo`iila kam aatainaahum min aayatim bayyinah, wa may yubaddil ni'matallohi mim ba'di maa jaaa`at-hu fa innalloha syadiidul-'iqoob

"Tanyakanlah kepada Bani Israil, berapa banyak bukti nyata yang telah Kami berikan kepada mereka <5>. Barang siapa menukar nikmat Allah setelah (nikmat itu) datang kepadanya, maka sungguh, Allah sangat keras hukuman-Nya."

[212]
زُيِّنَ لِلَّذِيْنَ كَفَرُوا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَا وَيَسْخَرُوْنَ مِنَ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا   ۘ  وَالَّذِيْنَ اتَّقَوْا فَوْقَهُمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ  ۗ  وَاللّٰهُ يَرْزُقُ مَنْ يَّشَآءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ
zuyyina lillaziina kafarul-hayaatud-dun-yaa wa yaskhoruuna minallaziina aamanuu, wallaziinattaqou fauqohum yaumal-qiyaamah, wallohu yarzuqu may yasyaaa`u bighoiri hisaab

"Kehidupan dunia dijadikan terasa indah dalam pandangan orang-orang yang kafir <5>, dan mereka <5> menghina orang-orang yang beriman <5>. Padahal orang-orang yang bertakwa <7> itu berada di atas mereka <7> pada hari Kiamat. Dan Allah memberi rezeki kepada orang <7> yang Dia kehendaki tanpa hisab."

[213]
كَانَ النَّاسُ اُمَّةً وَّاحِدَةً  ۗ  فَبَعَثَ اللّٰهُ النَّبِيّٖنَ مُبَشِّرِيْنَ وَمُنْذِرِيْنَ ۖ  وَاَنْزَلَ مَعَهُمُ الْكِتٰبَ بِالْحَـقِّ لِيَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ فِيْمَا اخْتَلَفُوْا فِيْهِ  ۗ  وَمَا اخْتَلَفَ فِيْهِ اِلَّا الَّذِيْنَ اُوْتُوْهُ مِنْۢ بَعْدِ مَا جَآءَتْهُمُ الْبَيِّنٰتُ بَغْيًا ۢ بَيْنَهُمْ ۚ  فَهَدَى اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لِمَا اخْتَلَفُوْا فِيْهِ مِنَ الْحَـقِّ بِاِذْنِهٖ  ۗ  وَاللّٰهُ يَهْدِيْ مَنْ يَّشَآءُ اِلٰى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيْمٍ
kaanan-naasu ummataw waahidah, fa ba'asallohun-nabiyyiina mubasysyiriina wa munziriina wa anzala ma'ahumul-kitaaba bil-haqqi liyahkuma bainan-naasi fiimakhtalafuu fiih, wa makhtalafa fiihi illallaziina uutuuhu mim ba'di maa jaaa`at-humul-bayyinaatu baghyam bainahum, fa hadallohullaziina aamanuu limakhtalafuu fiihi minal-haqqi bi`iznih, wallohu yahdii may yasyaaa`u ilaa shiroothim mustaqiim

"Manusia itu (dahulunya) satu umat. Lalu Allah mengutus para nabi (untuk) menyampaikan kabar gembira dan peringatan. Dan diturunkan-Nya bersama mereka Kitab yang mengandung kebenaran, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. Dan yang berselisih hanyalah orang-orang yang telah diberi (Kitab), setelah bukti-bukti yang nyata sampai kepada mereka, karena kedengkian di antara mereka sendiri. Maka dengan kehendak-Nya, Allah memberi petunjuk kepada mereka yang beriman tentang kebenaran yang mereka perselisihkan. Allah memberi petunjuk kepada siapa <5> yang Dia kehendaki ke jalan yang lurus."

[214]
اَمْ حَسِبْتُمْ اَنْ تَدْخُلُوا الْجَـنَّةَ وَ لَمَّا يَأْتِكُمْ مَّثَلُ الَّذِيْنَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ ۗ  مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَآءُ وَالضَّرَّآءُ وَزُلْزِلُوْا حَتّٰى يَقُوْلَ الرَّسُوْلُ وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مَعَهٗ مَتٰى نَصْرُ اللّٰهِ ۗ  اَ لَاۤ اِنَّ نَصْرَ اللّٰهِ قَرِيْبٌ
am hasibtum an tadkhulul-jannata wa lammaa ya`tikum masalullaziina kholau ming qoblikum, massat-humul-ba`saaa`u wadh-dhorrooo`u wa zulziluu hattaa yaquular-rosuulu wallaziina aamanuu ma'ahuu mataa nashrulloh, alaaa inna nashrollaahi qoriib

"Ataukah kamu <5> mengira bahwa kamu <7> akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) seperti (yang dialami) orang-orang terdahulu sebelum kamu. Mereka <5> ditimpa kemelaratan, penderitaan, dan diguncang (dengan berbagai cobaan), sehingga rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata, Kapankah datang pertolongan Allah? Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat."

[215]
يَسْــئَلُوْنَكَ مَاذَا يُنْفِقُوْنَ  ۗ  قُلْ مَاۤ اَنْفَقْتُمْ مِّنْ خَيْرٍ فَلِلْوَالِدَيْنِ وَالْاَقْرَبِيْنَ وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنِ وَابْنِ السَّبِيْلِ ۗ  وَمَا تَفْعَلُوْا مِنْ خَيْرٍ فَاِنَّ اللّٰهَ بِهٖ عَلِيْمٌ
yas`aluunaka maazaa yunfiquun, qul maaa anfaqtum ming kairin fa lil-waalidaini wal-aqrobiina wal-yataamaa wal-masaakiini wabnis-sabiil, wa maa taf'aluu min khoirin fa innalloha bihii 'aliim

"Mereka <5> bertanya kepadamu (Muhammad) tentang apa yang harus mereka infakkan. Katakanlah, Harta apa saja yang kamu <5> infakkan, hendaknya diperuntukkan bagi kedua orang tua, kerabat, anak yatim, orang miskin, dan orang yang dalam perjalanan.
Dan kebaikan apa saja yang kamu kerjakan, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui."

[216]
كُتِبَ عَلَيْکُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَّـكُمْ ۚ  وَعَسٰۤى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْــئًا وَّهُوَ خَيْرٌ لَّـکُمْ ۚ  وَعَسٰۤى اَنْ تُحِبُّوْا شَيْــئًا وَّهُوَ شَرٌّ لَّـكُمْ ۗ  وَاللّٰهُ يَعْلَمُ وَاَنْـتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ
kutiba 'alaikumul-qitaalu wa huwa kur-hul lakum, wa 'asaaa an takrohuu syai`aw wa huwa khoirul lakum, wa 'asaaa an tuhibbuu syai`aw wa huwa syarrul lakum, wallohu ya'lamu wa antum laa ta'lamuun

"Diwajibkan atas kamu <5> berperang, padahal itu tidak menyenangkan bagimu. Tetapi boleh jadi kamu <5> tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagi <7>mu, dan boleh jadi kamu <5> menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagi <7>mu. Allah mengetahui, sedang kamu <5> tidak mengetahui."

[217]
يَسْــئَلُوْنَكَ عَنِ الشَّهْرِ الْحَـرَامِ قِتَالٍ فِيْهِ ۗ  قُلْ قِتَالٌ فِيْهِ كَبِيْرٌ  ۗ  وَصَدٌّ عَنْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَ کُفْرٌ ۢ بِهٖ وَالْمَسْجِدِ الْحَـرَامِ وَاِخْرَاجُ اَهْلِهٖ مِنْهُ اَكْبَرُ عِنْدَ اللّٰهِ  ۚ  وَالْفِتْنَةُ اَکْبَرُ مِنَ الْقَتْلِ ۗ  وَلَا يَزَالُوْنَ يُقَاتِلُوْنَكُمْ حَتّٰى يَرُدُّوْكُمْ عَنْ دِيْـنِکُمْ اِنِ اسْتَطَاعُوْا  ۗ  وَمَنْ يَّرْتَدِدْ مِنْكُمْ عَنْ دِيْـنِهٖ فَيَمُتْ وَهُوَ کَافِرٌ فَاُولٰٓئِكَ حَبِطَتْ اَعْمَالُهُمْ فِى الدُّنْيَا وَالْاٰخِرَةِ  ۚ  وَاُولٰٓئِكَ اَصْحٰبُ النَّارِ ۚ  هُمْ فِيْهَا خٰلِدُوْنَ
yas`aluunaka 'anisy-syahril-haroomi qitaalin fiih, qul qitaalun fiihi kabiir, wa shoddun 'an sabiilillaahi wa kufrum bihii wal-masjidil-haroomi wa ikhrooju ahlihii min-hu akbaru 'indalloh, wal-fitnatu akbaru minal-qotl, wa laa yazaaluuna yuqootiluunakum hattaa yarudduukum 'an diinikum inistathoo'uu, wa may yartadid mingkum 'an diinihii fa yamut wa huwa kaafirun fa ulaaa`ika habithot a'maaluhum fid-dun-yaa wal-aakhiroh, wa ulaaa`ika ash-haabun-naar, hum fiihaa khooliduun

"Mereka <5> bertanya kepadamu (Muhammad) tentang berperang pada bulan haram. Katakanlah, Berperang dalam bulan itu adalah (dosa) besar. Tetapi menghalangi (orang) dari jalan Allah, ingkar kepada-Nya, (menghalangi orang masuk) Masjidilharam, dan mengusir penduduk dari sekitarnya, lebih besar (dosanya) dalam pandangan Allah. Sedangkan fitnah lebih kejam daripada pembunuhan. Mereka tidak akan berhenti memerangi kamu sampai kamu murtad (keluar) dari agamamu, jika mereka sanggup.
Barang siapa murtad di antara kamu <5> dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itu sia-sia amalnya di dunia dan di akhirat, dan mereka <7> itulah penghuni neraka, mereka <7> kekal di dalamnya."

[218]
اِنَّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَالَّذِيْنَ هَاجَرُوْا  وَجَاهَدُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ ۙ  اُولٰٓئِكَ يَرْجُوْنَ رَحْمَتَ اللّٰهِ ۗ   وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
innallaziina aamanuu wallaziina haajaruu wa jaahaduu fii sabiilillaahi ulaaa`ika yarjuuna rohmatalloh, wallohu ghofuurur rohiim

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman <5>, dan orang-orang yang berhijrah <5>, dan berjihad di jalan Allah, mereka <5> itulah yang mengharapkan rahmat Allah. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang."

[219]
يَسْــئَلُوْنَكَ عَنِ الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ  ۗ  قُلْ فِيْهِمَاۤ اِثْمٌ کَبِيْرٌ وَّمَنَافِعُ لِلنَّاسِ  ۖ  وَاِثْمُهُمَاۤ اَکْبَرُ مِنْ نَّفْعِهِمَا  ۗ  وَيَسْــئَلُوْنَكَ مَاذَا يُنْفِقُوْنَ  ۗ   قُلِ الْعَفْوَ  ۗ  كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰهُ لَـكُمُ الْاٰيٰتِ لَعَلَّکُمْ تَتَفَكَّرُوْنَ
yas`aluunaka 'anil-khomri wal-maisir, qul fiihimaaa ismung kabiiruw wa manafi'u lin-naasi wa ismuhumaaa akbaru min-naf'ihimaa, wa yas`aluunaka maazaa yunfiquun, qulil-'afw, kazaalika yubayyinullohu lakumul-aayaati la'allakum tatafakkaruun

"Mereka menanyakan kepadamu (Muhammad) tentang khamar dan judi. Katakanlah, Pada keduanya terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia. Tetapi dosanya lebih besar daripada manfaatnya. Dan mereka menanyakan kepadamu (tentang) apa yang (harus) mereka infakkan. Katakanlah, Kelebihan (dari apa yang diperlukan). 
Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu memikirkan,"

[220]
فِى الدُّنْيَا وَالْاٰخِرَةِ ۗ  وَيَسْــئَلُوْنَكَ عَنِ الْيَتٰمٰى ۗ  قُلْ اِصْلَاحٌ لَّهُمْ خَيْرٌ  ۗ  وَاِنْ تُخَالِطُوْهُمْ فَاِخْوَانُكُمْ ۗ  وَاللّٰهُ يَعْلَمُ الْمُفْسِدَ مِنَ الْمُصْلِحِ ۗ  وَلَوْ شَآءَ اللّٰهُ لَاَعْنَتَكُمْ ۗ  اِنَّ اللّٰهَ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ
fid-dun-yaa wal-aakhiroh, wa yas`aluunaka 'anil-yataamaa, qul ishlaahul lahum khoiir, wa in tukhoolithuuhum fa ikhwaanukum, wallohu ya'lamul-mufsida minal-mushlih, walau syaaa`allohu la`a'natakum, innalloha 'aziizun hakiim

"tentang dunia dan akhirat. Mereka menanyakan kepadamu (Muhammad) tentang anak-anak yatim. Katakanlah, Memperbaiki keadaan mereka adalah baik! Dan jika kamu mempergauli mereka, maka mereka adalah saudara-saudaramu. Allah mengetahui orang yang berbuat kerusakan dan yang berbuat kebaikan. Dan jika Allah menghendaki, niscaya Dia datangkan kesulitan kepadamu. Sungguh, Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana."

[221]
وَلَا تَنْكِحُوا الْمُشْرِكٰتِ حَتّٰى يُؤْمِنَّ ۗ  وَلَاَمَةٌ مُّؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِّنْ مُّشْرِكَةٍ وَّلَوْ اَعْجَبَتْكُمْ ۚ  وَلَا تُنْكِحُوا الْمُشْرِكِيْنَ حَتّٰى يُؤْمِنُوْا  ۗ  وَلَعَبْدٌ مُّؤْمِنٌ خَيْرٌ مِّنْ مُّشْرِكٍ وَّلَوْ اَعْجَبَكُمْ ۗ  اُولٰٓئِكَ يَدْعُوْنَ اِلَى النَّارِ  ۖ  وَاللّٰهُ يَدْعُوْۤا اِلَى الْجَـنَّةِ وَالْمَغْفِرَةِ بِاِذْنِهٖ ۚ  وَيُبَيِّنُ اٰيٰتِهٖ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُوْنَ
wa laa tangkihul-musyrikaati hattaa yu`minn, wa la`amatum mu`minatun khoirum mim musyrikatiw walau a'jabatkum, wa laa tungkihul-musyrikiina hattaa yu`minuu, wa la'abdum mu`minun khoirum mim musyrikiw walau a'jabakum, ulaaa`ika yad'uuna ilan-naari wallohu yad'uuu ilal-jannati wal-maghfiroti bi`iznih, wa yubayyinu aayaatihii lin-naasi la'allahum yatazakkaruun

"Dan janganlah kamu <5> nikahi perempuan musyrik sebelum mereka beriman. Sungguh, hamba sahaya perempuan yang beriman lebih baik daripada perempuan musyrik meskipun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu nikahkan orang (laki-laki) musyrik (dengan perempuan yang beriman) sebelum mereka beriman. Sungguh, hamba sahaya laki-laki yang beriman lebih baik daripada laki-laki musyrik meskipun dia menarik hatimu. Mereka <5> mengajak ke neraka, sedangkan Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. (Allah) menerangkan ayat ayat-Nya kepada manusia agar mereka <5> mengambil pelajaran."

[222]
وَ يَسْــئَلُوْنَكَ عَنِ الْمَحِيْضِ ۙ  قُلْ هُوَ اَذًى فَاعْتَزِلُوْا النِّسَآءَ فِى الْمَحِيْضِ ۙ  وَلَا تَقْرَبُوْهُنَّ حَتّٰى يَطْهُرْنَ ۚ  فَاِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوْهُنَّ مِنْ حَيْثُ اَمَرَكُمُ اللّٰهُ ۗ  اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ التَّوَّابِيْنَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِيْنَ
wa yas`aluunaka 'anil-mahiidh, qul huwa azan fa'tazilun-nisaaa`a fil-mahiidhi wa laa taqrobuuhunna hattaa yath-hurn, fa izaa tathohharna fa`tuuhunna min haisu amarokumulloh, innalloha yuhibbut-tawwaabiina wa yuhibbul-mutathohhiriin

"Dan mereka <5> menanyakan kepadamu (Muhammad) tentang haid. Katakanlah, Itu adalah sesuatu yang kotor. Karena itu jauhilah istri pada waktu haid; dan jangan kamu dekati mereka sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, campurilah mereka sesuai dengan (ketentuan) yang diperintahkan Allah kepadamu. Sungguh, Allah menyukai orang yang tobat dan menyukai orang yang menyucikan diri."

[223]
نِسَآ ؤُكُمْ حَرْثٌ لَّـكُمْ ۖ  فَأْتُوْا حَرْثَكُمْ اَنّٰى شِئْتُمْ  ۖ  وَقَدِّمُوْا لِاَنْفُسِكُمْ ۗ  وَاتَّقُوا اللّٰهَ وَاعْلَمُوْۤا اَنَّکُمْ مُّلٰقُوْهُ  ۗ  وَ بَشِّرِ الْمُؤْمِنِيْنَ
nisaaa`ukum harsul lakum fa`tuu harsakum annaa syi`tum wa qoddimuu li`anfusikum, wattaqulloha wa'lamuuu annakum mulaaquuh, wa basysyiril-mu`miniin

"Istri-istrimu <5> adalah ladang bagimu, maka datangilah ladangmu itu kapan saja dengan cara yang kamu sukai. Dan utamakanlah (yang baik) untuk dirimu. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu (kelak) akan menemui-Nya. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang yang beriman."

[224]
وَلَا تَجْعَلُوا اللّٰهَ عُرْضَةً لِّاَيْمَانِکُمْ اَنْ تَبَرُّوْا وَتَتَّقُوْا وَتُصْلِحُوْا بَيْنَ النَّاسِ ۗ  وَاللّٰهُ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ
wa laa taj'alulloha 'urdhotal li`aimaanikum an tabarruu wa tattaquu wa tushlihuu bainan-naas, wallohu samii'un 'aliim

"Dan janganlah kamu <5> jadikan (nama) Allah dalam sumpahmu sebagai penghalang untuk berbuat kebajikan, bertakwa, dan menciptakan kedamaian di antara manusia. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui."

[225]
لَا يُؤَاخِذُكُمُ اللّٰهُ بِاللَّغْوِ فِيْۤ اَيْمَانِكُمْ وَلٰـكِنْ يُّؤَاخِذُكُمْ بِمَا كَسَبَتْ قُلُوْبُكُمْ ۗ  وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ حَلِيْمٌ
laa yu`aakhizukumullohu bil-laghwi fiii aimaanikum wa laakiy yu`aakhizukum bimaa kasabat quluubukum, wallohu ghofuurun haliim

"Allah tidak menghukum kamu karena sumpahmu yang tidak kamu sengaja, tetapi Dia menghukum kamu <5> karena niat yang terkandung dalam hatimu.
Allah Maha Pengampun, Maha Penyantun."

[226]
لِّـلَّذِيْنَ يُؤْلُوْنَ  مِنْ نِّسَآئِهِمْ تَرَبُّصُ اَرْبَعَةِ اَشْهُرٍ ۚ  فَاِنْ فَآءُوْ فَاِنَّ اللّٰهَ  غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
lillaziina yu`luuna min nisaaa`ihim tarobbushu arba'ati asy-hur, fa in faaa`uu fa innalloha ghofuurur rohiim

"Bagi orang yang meng-'ila istrinya harus menunggu empat bulan. Kemudian jika mereka kembali (kepada istrinya), maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang."

[227]
وَاِنْ عَزَمُوا الطَّلَاقَ فَاِنَّ اللّٰهَ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ
wa in 'azamuth-tholaaqo fa innalloha samii'un 'aliim

"Dan jika mereka <5> berketetapan hati hendak menceraikan, maka sungguh, Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui."

[228]
وَالْمُطَلَّقٰتُ يَتَرَ بَّصْنَ بِاَنْفُسِهِنَّ ثَلٰثَةَ قُرُوْٓءٍ  ۗ  وَلَا يَحِلُّ لَهُنَّ اَنْ يَّكْتُمْنَ مَا خَلَقَ اللّٰهُ فِيْۤ اَرْحَامِهِنَّ اِنْ كُنَّ يُؤْمِنَّ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ ۗ  وَبُعُوْلَتُهُنَّ اَحَقُّ بِرَدِّهِنَّ فِيْ ذٰلِكَ اِنْ اَرَادُوْۤا اِصْلَاحًا  ۗ  وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِيْ عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوْفِ ۖ  وَلِلرِّجَالِ عَلَيْهِنَّ دَرَجَةٌ   ۗ  وَاللّٰهُ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ
wal-muthollaqootu yatarobbashna bi`anfusihinna salaasata quruuu`, wa laa yahillu lahunna ay yaktumna maa kholaqollaahu fiii ar-haamihinna ing kunna yu`minna billaahi wal-yaumil-aakhir, wa bu'uulatuhunna ahaqqu biroddihinna fii zaalika in arooduuu ishlaahaa, wa lahunna mislullazii 'alaihinna bil-ma'ruufi wa lir-rijaali 'alaihinna darojah, wallohu 'aziizun hakiim

"Dan para istri yang diceraikan (wajib) menahan diri mereka (menunggu) tiga kali quru'. Tidak boleh bagi mereka menyembunyikan apa yang diciptakan Allah dalam rahim mereka, jika mereka beriman kepada Allah dan hari Akhir. Dan para suami mereka lebih berhak kembali kepada mereka dalam (masa) itu jika mereka menghendaki perbaikan. Dan mereka (para perempuan) mempunyai hak seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang patut. Tetapi para suami mempunyai kelebihan di atas mereka. Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana."

[229]
اَلطَّلَاقُ مَرَّتٰنِ ۖ  فَاِمْسَاكٌ ۢ بِمَعْرُوْفٍ اَوْ تَسْرِيْحٌ ۢ بِاِحْسَانٍ  ۗ وَلَا يَحِلُّ لَـکُمْ اَنْ تَأْخُذُوْا مِمَّاۤ اٰتَيْتُمُوْهُنَّ شَيْــئًا اِلَّاۤ اَنْ يَّخَافَاۤ اَ لَّا يُقِيْمَا حُدُوْدَ اللّٰهِ ۗ  فَاِنْ خِفْتُمْ اَ لَّا يُقِيْمَا حُدُوْدَ اللّٰهِ  ۙ  فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا فِيْمَا افْتَدَتْ بِهٖ ۗ  تِلْكَ حُدُوْدُ اللّٰهِ فَلَا تَعْتَدُوْهَا  ۚ  وَمَنْ يَّتَعَدَّ حُدُوْدَ اللّٰهِ فَاُولٰٓئِكَ هُمُ الظّٰلِمُوْنَ
ath-tholaaqu marrotaani fa imsaakum bima'ruufin au tasriihum bi`ihsaan, wa laa yahillu lakum an ta`khuzuu mimmaaa aataitumuuhunna syai`an illaaa ay yakhoofaaa allaa yuqiimaa huduudalloh, fa in khiftum allaa yuqiimaa huduudallohi fa laa junaaha 'alaihimaa fiimaftadat bih, tilka huduudullohi fa laa ta'taduuhaa, wa may yata'adda huduudallohi fa ulaaa`ika humuzh-zhoolimuun

"Talak (yang dapat dirujuk) itu dua kali. (Setelah itu suami dapat) menahan dengan baik atau melepaskan dengan baik. Tidak halal bagi kamu mengambil kembali sesuatu yang telah kamu berikan kepada mereka, kecuali keduanya (suami dan istri) khawatir tidak mampu menjalankan hukum-hukum Allah. Jika kamu (wali) khawatir bahwa keduanya tidak mampu menjalankan hukum-hukum Allah, maka keduanya tidak berdosa atas bayaran yang (harus) diberikan (oleh istri) untuk menebus dirinya. Itulah hukum-hukum Allah, maka janganlah kamu melanggarnya. Barang siapa melanggar hukum-hukum Allah, mereka itulah orang-orang zalim."

[230]
فَاِنْ طَلَّقَهَا فَلَا تَحِلُّ لَهٗ مِنْۢ بَعْدُ حَتّٰى تَنْكِحَ زَوْجًا غَيْرَهٗ  ۗ  فَاِنْ طَلَّقَهَا فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَاۤ اَنْ يَّتَرَاجَعَاۤ اِنْ ظَنَّاۤ اَنْ يُّقِيْمَا حُدُوْدَ اللّٰهِ ۗ  وَتِلْكَ حُدُوْدُ اللّٰهِ يُبَيِّنُهَا لِقَوْمٍ يَّعْلَمُوْنَ
fa in thollaqohaa fa laa tahillu lahuu mim ba'du hattaa tangkiha zaujan ghoiroh, fa in thollaqohaa fa laa junaaha 'alaihimaaa ay yatarooja'aaa in zhonnaaa ay yuqiimaa huduudalloh, wa tilka huduudullohi yubayyinuhaa liqoumiy ya'lamuun

"Kemudian jika dia menceraikannya (setelah talak yang kedua), maka perempuan itu tidak halal lagi baginya sebelum dia menikah dengan suami yang lain. Kemudian jika suami yang lain itu menceraikannya, maka tidak ada dosa bagi keduanya (suami pertama dan bekas istri) untuk menikah kembali jika keduanya berpendapat akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Itulah ketentuan-ketentuan Allah yang diterangkan-Nya kepada orang-orang yang berpengetahuan."

[231]
وَاِذَا طَلَّقْتُمُ النِّسَآءَ فَبَلَغْنَ اَجَلَهُنَّ فَاَمْسِكُوْهُنَّ بِمَعْرُوْفٍ اَوْ سَرِّحُوْهُنَّ بِمَعْرُوْفٍ  ۗ  وَلَا تُمْسِكُوْهُنَّ ضِرَارًا لِّتَعْتَدُوْا  ۚ  وَمَنْ يَّفْعَلْ ذٰلِكَ فَقَدْ ظَلَمَ نَفْسَهٗ  ۗ  وَلَا تَتَّخِذُوْۤا اٰيٰتِ اللّٰهِ هُزُوًا وَّاذْكُرُوْا نِعْمَتَ اللّٰهِ عَلَيْكُمْ وَمَاۤ اَنْزَلَ عَلَيْكُمْ مِّنَ الْكِتٰبِ وَالْحِكْمَةِ يَعِظُكُمْ بِهٖ ۗ  وَاتَّقُوا اللّٰهَ وَاعْلَمُوْۤا اَنَّ اللّٰهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ
wa izaa thollaqtumun-nisaaa`a fa balaghna ajalahunna fa amsikuuhunna bima'ruufin au sarrihuuhunna bima'ruuf, wa laa tumsikuuhunna dhiroorol lita'taduu, wa may yaf'al zaalika fa qod zholama nafsah, wa laa tattakhizuuu aayaatillaahi huzuwaw wazkuruu ni'matallohi 'alaikum wa maaa anzala 'alaikum minal-kitaabi wal-hikmati ya'izhukum bih, wattaqulloha wa'lamuuu annalloha bikulli syai`in 'aliim

"Dan apabila kamu <5> menceraikan istri-istri (kamu), lalu sampai (akhir) idahnya, maka tahanlah mereka dengan cara yang baik, atau ceraikanlah mereka dengan cara yang baik (pula). Dan janganlah kamu <5> tahan mereka dengan maksud jahat untuk menzalimi mereka. Barang siapa melakukan demikian, maka dia <5> telah menzalimi diri <7>nya sendiri. Dan janganlah kamu jadikan ayat-ayat Allah sebagai bahan ejekan. Ingatlah nikmat Allah kepada kamu dan apa yang telah diturunkan Allah kepada kamu, yaitu Kitab (Al-Qur'an) dan Hikmah (Sunnah), untuk memberi pengajaran kepadamu. Dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Mengetahui segala sesuatu."

[232]
وَاِذَا طَلَّقْتُمُ النِّسَآءَ فَبَلَغْنَ اَجَلَهُنَّ فَلَا تَعْضُلُوْهُنَّ اَنْ يَّنْكِحْنَ اَزْوَاجَهُنَّ اِذَا تَرَاضَوْا بَيْنَهُمْ بِالْمَعْرُوْفِ ۗ  ذٰلِكَ يُوْعَظُ بِهٖ مَنْ كَانَ مِنْكُمْ يُؤْمِنُ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ ۗ  ذٰ لِكُمْ اَزْکٰى لَـكُمْ وَاَطْهَرُ ۗ  وَاللّٰهُ يَعْلَمُ وَاَنْـتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ
wa izaa thollaqtumun-nisaaa`a fa balaghna ajalahunna fa laa ta'dhuluuhunna ay yangkihna azwaajahunna izaa taroodhou bainahum bil-ma'ruuf, zaalika yuu'azhu bihii mang kaana mingkum yu`minu billaahi wal-yaumil-aakhir, zaalikum azkaa lakum wa ath-har, wallohu ya'lamu wa antum laa ta'lamuun

"Dan apabila kamu <5> menceraikan istri-istri (kamu), lalu sampai idahnya, maka jangan kamu halangi mereka menikah (lagi) dengan calon suaminya, apabila telah terjalin kecocokan di antara mereka dengan cara yang baik. Itulah yang dinasihatkan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman kepada Allah dan hari-kemudian. Itu lebih suci bagimu dan lebih bersih. Dan Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui."

[233]
وَالْوَالِدٰتُ يُرْضِعْنَ اَوْلَادَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ لِمَنْ اَرَادَ اَنْ يُّتِمَّ الرَّضَاعَةَ   ۗ  وَعَلَى الْمَوْلُوْدِ لَهٗ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوْفِ ۗ  لَا تُكَلَّفُ نَفْسٌ اِلَّا وُسْعَهَا  ۚ  لَا تُضَآ رَّ وَالِدَةٌ  ۢ بِوَلَدِهَا وَلَا مَوْلُوْدٌ لَّهٗ بِوَلَدِهٖ وَعَلَى الْوَارِثِ مِثْلُ ذٰلِكَ  ۚ  فَاِنْ اَرَادَا فِصَالًا عَنْ تَرَاضٍ مِّنْهُمَا وَتَشَاوُرٍ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا  ۗ  وَاِنْ اَرَدْتُّمْ اَنْ تَسْتَرْضِعُوْۤا اَوْلَادَكُمْ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ اِذَا سَلَّمْتُمْ مَّاۤ اٰتَيْتُمْ بِالْمَعْرُوْفِ ۗ  وَاتَّقُوا اللّٰهَ وَاعْلَمُوْۤا اَنَّ اللّٰهَ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌ
wal-waalidaatu yurdhi'na aulaadahunna haulaini kaamilaini liman arooda ay yutimmar-rodhoo'ah, wa 'alal-mauluudi lahuu rizquhunna wa kiswatuhunna bil-ma'ruuf, laa tukallafu nafsun illaa wus'ahaa, laa tudhooorro waalidatum biwaladihaa wa laa mauluudul lahuu biwaladihii wa 'alal-waarisi mislu zaalik, fa in aroodaa fishoolan 'an taroodhim min-humaa wa tasyaawurin fa laa junaaha 'alaihimaa, wa in arottum an tastardhi'uuu aulaadakum fa laa junaaha 'alaikum izaa sallamtum maaa aataitum bil-ma'ruuf, wattaqulloha wa'lamuuu annalloha bimaa ta'maluuna bashiir

"Dan ibu-ibu hendaklah menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh, bagi yang ingin menyusui secara sempurna. Dan kewajiban ayah menanggung nafkah dan pakaian mereka dengan cara yang patut. Seseorang tidak dibebani lebih dari kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita karena anaknya dan jangan pula seorang ayah (menderita) karena anaknya. Ahli waris pun (berkewajiban) seperti itu pula. Apabila keduanya ingin menyapih dengan persetujuan dan permusyawaratan antara keduanya, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin menyusukan anakmu kepada orang lain, maka tidak ada dosa bagimu memberikan pembayaran dengan cara yang patut. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan."

[234]
وَالَّذِيْنَ يُتَوَفَّوْنَ مِنْكُمْ وَيَذَرُوْنَ اَزْوَاجًا يَّتَرَبَّصْنَ بِاَنْفُسِهِنَّ اَرْبَعَةَ اَشْهُرٍ وَّعَشْرًا  ۚ  فَاِذَا بَلَغْنَ اَجَلَهُنَّ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِيْمَا فَعَلْنَ فِيْۤ اَنْفُسِهِنَّ بِالْمَعْرُوْفِ ۗ  وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ
wallaziina yutawaffauna mingkum wa yazaruuna azwaajay yatarobbashna bi`anfusihinna arba'ata asy-huriw wa 'asyroo, fa izaa balaghna ajalahunna fa laa junaaha 'alaikum fiimaa fa'alna fiii anfusihinna bil-ma'ruuf, wallohu bimaa ta'maluuna khobiir

"Dan orang-orang yang mati di antara kamu serta meninggalkan istri-istri hendaklah mereka (istri-istri) menunggu empat bulan sepuluh hari. Kemudian apabila telah sampai (akhir) idah mereka, maka tidak ada dosa bagimu mengenai apa yang mereka lakukan terhadap diri mereka menurut cara yang patut. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan."

[235]
وَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِيْمَا عَرَّضْتُمْ بِهٖ مِنْ خِطْبَةِ النِّسَآءِ اَوْ اَکْنَنْتُمْ فِيْۤ اَنْفُسِكُمْ ۗ  عَلِمَ اللّٰهُ اَنَّكُمْ سَتَذْكُرُوْنَهُنَّ وَلٰـكِنْ لَّا تُوَاعِدُوْهُنَّ سِرًّا اِلَّاۤ اَنْ تَقُوْلُوْا قَوْلًا مَّعْرُوْفًا  ۗ   وَلَا تَعْزِمُوْا عُقْدَةَ النِّکَاحِ حَتّٰى يَبْلُغَ الْكِتٰبُ اَجَلَهٗ  ۗ  وَاعْلَمُوْۤا اَنَّ اللّٰهَ يَعْلَمُ مَا فِيْۤ اَنْفُسِكُمْ فَاحْذَرُوْهُ  ۗ  وَاعْلَمُوْۤا اَنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ حَلِيْمٌ
wa laa junaaha 'alaikum fiimaa 'arrodhtum bihii min khithbatin-nisaaa`i au aknantum fiii anfusikum, 'alimallohu annakum satazkuruunahunna wa laakil laa tuwaa'iduuhunna sirron illaaa an taquuluu qoulam ma'ruufaa, wa laa ta'zimuu 'uqdatan-nikaahi hattaa yablughol-kitaabu ajalah, wa'lamuuu annalloha ya'lamu maa fiii anfusikum fahzaruuh, wa'lamuuu annalloha ghofuurun haliim

"Dan tidak ada dosa bagimu meminang perempuan-perempuan itu dengan sindiran atau kamu sembunyikan (keinginanmu) dalam hati. Allah mengetahui bahwa kamu akan menyebut-nyebut kepada mereka. Tetapi janganlah kamu membuat perjanjian (untuk menikah) dengan mereka secara rahasia kecuali sekadar mengucapkan kata-kata yang baik. Dan janganlah kamu menetapkan akad nikah sebelum habis masa idahnya. Ketahuilah bahwa Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu, maka takutlah kepada-Nya. Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Pengampun, Maha Penyantun."

[236]
لَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ اِنْ طَلَّقْتُمُ النِّسَآءَ مَا لَمْ تَمَسُّوْهُنَّ اَوْ تَفْرِضُوْا لَهُنَّ فَرِيْضَةً  ۖ  وَّمَتِّعُوْهُنَّ عَلَى الْمُوْسِعِ قَدَرُهٗ وَ عَلَى الْمُقْتِرِ قَدَرُهٗ  ۚ  مَتَاعًا ۢ بِالْمَعْرُوْفِ ۚ  حَقًّا عَلَى الْمُحْسِنِيْنَ
laa junaaha 'alaikum in thollaqtumun-nisaaa`a maa lam tamassuuhunna au tafridhuu lahunna fariidhotaw wa matti'uuhunna 'alal-muusi'i qodaruhuu wa 'alal-muqtiri qodaruh, mataa'am bil-ma'ruuf, haqqon 'alal-muhsiniin

"Tidak ada dosa bagimu jika kamu menceraikan istri-istri kamu yang belum kamu sentuh (campuri) atau belum kamu tentukan maharnya. Dan hendaklah kamu beri mereka mut'ah bagi yang mampu menurut kemampuannya dan bagi yang tidak mampu menurut kesanggupannya, yaitu pemberian dengan cara yang patut yang merupakan kewajiban bagi orang-orang yang berbuat kebaikan."

[237]
وَاِنْ طَلَّقْتُمُوْهُنَّ مِنْ قَبْلِ اَنْ تَمَسُّوْهُنَّ وَقَدْ فَرَضْتُمْ لَهُنَّ فَرِيْضَةً فَنِصْفُ مَا فَرَضْتُمْ اِلَّاۤ اَنْ يَّعْفُوْنَ اَوْ يَعْفُوَا الَّذِيْ بِيَدِهٖ عُقْدَةُ النِّكَاحِ  ۗ  وَاَنْ تَعْفُوْۤا اَقْرَبُ لِلتَّقْوٰى ۗ  وَ لَا تَنْسَوُا الْفَضْلَ بَيْنَكُمْ ۗ  اِنَّ اللّٰهَ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌ
wa in thollaqtumuuhunna ming qobli an tamassuuhunna wa qod farodhtum lahunna fariidhotan fa nishfu maa farodhtum illaaa ay ya'fuuna au ya'fuwallazii biyadihii 'uqdatun-nikaah, wa an ta'fuuu aqrobu lit-taqwaa, wa laa tansawul-fadhla bainakum, innalloha bimaa ta'maluuna bashiir

"Dan jika kamu menceraikan mereka sebelum kamu sentuh (campuri), padahal kamu sudah menentukan maharnya, maka (bayarlah) seperdua dari yang telah kamu tentukan kecuali jika mereka (membebaskan) atau dibebaskan oleh orang yang akad nikah ada di tangannya. Pembebasan itu lebih dekat kepada takwa. Dan janganlah kamu lupa kebaikan di antara kamu. Sungguh, Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan"

[238]
حَافِظُوْا عَلَى الصَّلَوٰتِ وَالصَّلٰوةِ الْوُسْطٰى وَقُوْمُوْا لِلّٰهِ  قٰنِتِيْنَ
haafizhuu 'alash-sholawaati wash-sholaatil-wusthoo wa quumuu lillaahi qoonitiin

"Peliharalah semua sholat dan sholat wusta. Dan laksanakanlah (sholat) karena Allah dengan khusyuk."

[239]
فَاِنْ خِفْتُمْ فَرِجَالًا اَوْ رُكْبَانًا   ۚ  فَاِذَاۤ اَمِنْتُمْ فَاذْکُرُوا اللّٰهَ کَمَا عَلَّمَکُمْ مَّا لَمْ تَكُوْنُوْا تَعْلَمُوْنَ
fa in khiftum fa rijaalan au rukbaanaa, fa izaaa amintum fazkurulloha kamaa 'allamakum maa lam takuunuu ta'lamuun

"Jika kamu takut (ada bahaya), sholatlah sambil berjalan kaki atau berkendaraan. Kemudian apabila telah aman, maka ingatlah Allah (sholatlah), sebagaimana Dia telah mengajarkan kepadamu apa yang tidak kamu ketahui."

[240]
وَالَّذِيْنَ يُتَوَفَّوْنَ مِنْکُمْ وَيَذَرُوْنَ اَزْوَاجًا  ۖ  وَّصِيَّةً لِّاَزْوَاجِهِمْ مَّتَاعًا اِلَى الْحَـوْلِ غَيْرَ اِخْرَاجٍ  ۚ  فَاِنْ خَرَجْنَ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْکُمْ فِيْ مَا فَعَلْنَ فِيْۤ اَنْفُسِهِنَّ مِنْ مَّعْرُوْفٍ ۗ  وَاللّٰهُ عَزِيْزٌ حَکِيْمٌ
wallaziina yutawaffauna mingkum wa yazaruuna azwaajaw washiyyatal li`azwaajihim mataa'an ilal-hauli ghoiro ikhrooj, fa in khorojna fa laa junaaha 'alaikum fii maa fa'alna fiii anfusihinna mim ma'ruuf, wallohu 'aziizun hakiim

"Dan orang-orang yang akan mati di antara kamu dan meninggalkan istri-istri, hendaklah membuat wasiat untuk istri-istrinya, (yaitu) nafkah sampai setahun tanpa mengeluarkannya (dari rumah). Tetapi jika mereka keluar (sendiri), maka tidak ada dosa bagimu (mengenai apa) yang mereka lakukan terhadap diri mereka sendiri dalam hal-hal yang baik. Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana."

[241]
وَلِلْمُطَلَّقٰتِ مَتَاعٌ ۢ بِالْمَعْرُوْفِ  ۗ  حَقًّا عَلَى الْمُتَّقِيْنَ
wa lil-muthollaqooti mataa'um bil-ma'ruuf, haqqon 'alal-muttaqiin

"Dan bagi perempuan-perempuan yang diceraikan hendaklah diberi mut'ah menurut cara yang patut sebagai suatu kewajiban bagi orang yang bertakwa."

[242]
كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰهُ لَـکُمْ اٰيٰتِهٖ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُوْنَ
kazaalika yubayyinullohu lakum aayaatihii la'allakum ta'qiluun

"Demikianlah Allah menerangkan kepadamu ayat-ayat-Nya agar kamu mengerti."

[243]
اَلَمْ تَرَ اِلَى الَّذِيْنَ خَرَجُوْا مِنْ دِيَارِهِمْ وَهُمْ اُلُوْفٌ حَذَرَ الْمَوْتِ ۖ   فَقَالَ لَهُمُ اللّٰهُ مُوْتُوْا ۗ  ثُمَّ اَحْيَاھُمْ ۗ  اِنَّ اللّٰهَ لَذُوْ فَضْلٍ عَلَى  النَّاسِ وَلٰـكِنَّ اَکْثَرَ النَّاسِ لَا يَشْکُرُوْنَ
a lam taro ilallaziina khorojuu min diyaarihim wa hum uluufun hazarol-mauti fa qoola lahumullohu muutuu, summa ahyaahum, innalloha lazuu fadhlin 'alan-naasi wa laakinna aksaron-naasi laa yasykuruun

"Tidakkah kamu memperhatikan orang-orang yang keluar dari kampung halamannya, sedang jumlahnya ribuan karena takut mati? Lalu, Allah berfirman kepada mereka, Matilah kamu! Kemudian, Allah menghidupkan mereka. Sesungguhnya Allah memberikan karunia kepada manusia, tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur."

[244]
وَقَاتِلُوْا فِيْ سَبِيْلِ  اللّٰهِ وَاعْلَمُوْۤا اَنَّ اللّٰهَ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ
wa qootiluu fii sabiilillaahi wa'lamuuu annalloha samii'un 'aliim

"Dan berperanglah kamu <5> di jalan Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui."

[245]
مَنْ ذَا الَّذِيْ يُقْرِضُ اللّٰهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضٰعِفَهٗ لَهٗۤ اَضْعَافًا کَثِيْرَةً   ۗ  وَاللّٰهُ يَقْبِضُ وَيَبْصُطُ ۖ  وَ اِلَيْهِ تُرْجَعُوْنَ
man zallazii yuqridhulloha qordhon hasanan fa yudhoo'ifahuu lahuuu adh'aafang kasiiroh, wallohu yaqbidhu wa yabshuthu wa ilaihi turja'uun

"Barang siapa <5> meminjami Allah dengan pinjaman yang baik, maka Allah melipatgandakan ganti kepadanya dengan banyak. Allah menahan dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nyalah kamu <7> dikembalikan."

Iqro' :
'Meminjami Allah dengan pinjaman yang baik' maknanya :
Menginfakkan sebagaian rejeki yang karuniakanNya kepada kita kepada fakir miskin dll....., karena Sunahtullah....perlu 'perantara' untuk memberikan rejeki kepada mereka karena mungkin mereka gak bisa bekerja, sakit, tua, masih anak2 dll...., jadi rejeki mereka 'disalurkan' oleh Allah melalui kita.

[246]
اَلَمْ تَرَ اِلَى الْمَلَاِ مِنْۢ بَنِيْۤ اِسْرَآءِيْلَ مِنْۢ بَعْدِ مُوْسٰى ۘ  اِذْ قَالُوْا لِنَبِيٍّ لَّهُمُ ابْعَثْ لَنَا مَلِکًا نُّقَاتِلْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ ۗ  قَالَ هَلْ عَسَيْتُمْ اِنْ کُتِبَ عَلَيْکُمُ الْقِتَالُ اَ لَّا تُقَاتِلُوْا  ۗ  قَالُوْا وَمَا لَنَاۤ اَلَّا نُقَاتِلَ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَقَدْ اُخْرِجْنَا مِنْ دِيَارِنَا وَاَبْنَآئِنَا  ۗ  فَلَمَّا کُتِبَ عَلَيْهِمُ الْقِتَالُ تَوَلَّوْا اِلَّا قَلِيْلًا مِّنْهُمْ ۗ  وَاللّٰهُ عَلِيْمٌۢ بِالظّٰلِمِيْنَ
a lam taro ilal-mala`i mim baniii isrooo`iila mim ba'di muusaa, iz qooluu linabiyyil lahumub'as lanaa malikan-nuqootil fii sabiilillaah, qoola hal 'asaitum ing kutiba 'alaikumul-qitaalu allaa tuqootiluu, qooluu wa maa lanaaa allaa nuqootila fii sabiilillaahi wa qod ukhrijnaa min diyaarinaa wa abnaaa`inaa, fa lammaa kutiba 'alaihimul-qitaalu tawallau illaa qoliilam min-hum, wallohu 'aliimum bizh-zhoolimiin

"Tidakkah kamu perhatikan para pemuka Bani Israil setelah Musa wafat, ketika mereka berkata kepada seorang nabi mereka, Angkatlah seorang raja untuk kami, niscaya kami berperang di jalan Allah. Nabi mereka menjawab, Jangan-jangan jika diwajibkan atasmu berperang, kamu tidak akan berperang juga? Mereka menjawab, Mengapa kami tidak akan berperang di jalan Allah, sedangkan kami telah diusir dari kampung halaman kami dan (dipisahkan dari) anak-anak kami? Tetapi ketika perang itu diwajibkan atas mereka, mereka berpaling kecuali sebagian kecil dari mereka. Dan Allah Maha Mengetahui orang-orang yang zalim."

[247]
وَقَالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ اِنَّ اللّٰهَ قَدْ بَعَثَ لَـکُمْ طَالُوْتَ مَلِكًا  ۗ  قَالُوْۤا اَنّٰى يَكُوْنُ لَهُ الْمُلْكُ عَلَيْنَا وَنَحْنُ اَحَقُّ بِالْمُلْكِ مِنْهُ وَلَمْ يُؤْتَ سَعَةً مِّنَ الْمَالِ ۗ  قَالَ اِنَّ اللّٰهَ اصْطَفٰٮهُ عَلَيْکُمْ وَزَادَهٗ بَسْطَةً فِى الْعِلْمِ وَ الْجِسْمِ ۗ  وَاللّٰهُ يُؤْتِيْ مُلْکَهٗ مَنْ يَّشَآءُ  ۗ  وَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ
wa qoola lahum nabiyyuhum innalloha qod ba'asa lakum thooluuta malikaa, qooluuu annaa yakuunu lahul-mulku 'alainaa wa nahnu ahaqqu bil-mulki min-hu wa lam yu`ta sa'atam minal-maal, qoola innallohashthofaahu 'alaikum wa zaadahuu basthotan fil 'ilmi wal-jism, wallohu yu`tii mulkahuu may yasyaaa`, wallohu waasi'un 'aliim

"Dan Nabi mereka berkata kepada mereka, Sesungguhnya Allah telah mengangkat Talut menjadi rajamu. Mereka menjawab, Bagaimana Talut memperoleh kerajaan atas kami, sedangkan kami lebih berhak atas kerajaan itu darinya dan dia tidak diberi kekayaan yang banyak? (Nabi) menjawab, Allah telah memilihnya (menjadi raja) kamu dan memberikan kelebihan ilmu dan fisik. Allah memberikan kerajaan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki dan Allah Maha Luas, Maha Mengetahui."

[248]
وَقَالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ اِنَّ اٰيَةَ مُلْکِهٖۤ اَنْ يَّأْتِيَکُمُ التَّابُوْتُ فِيْهِ  سَکِيْنَةٌ مِّنْ رَّبِّکُمْ وَبَقِيَّةٌ مِّمَّا تَرَكَ اٰلُ مُوْسٰى وَاٰلُ هٰرُوْنَ  تَحْمِلُهُ الْمَلٰٓئِكَةُ  ۗ  اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيَةً لَّـکُمْ اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ
wa qoola lahum nabiyyuhum inna aayata mulkihiii ay ya`tiyakumut-taabuutu fiihi sakiinatum mir robbikum wa baqiyyatum mimmaa taroka aalu muusaa wa aalu haaruuna tahmiluhul-malaaa`ikah, inna fii zaalika la`aayatal lakum ing kuntum mu`miniin

"Dan Nabi mereka berkata kepada mereka, Sesungguhnya tanda kerajaannya ialah datangnya Tabut kepadamu yang di dalamnya terdapat ketenangan dari Tuhanmu dan sisa peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun yang dibawa oleh malaikat. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda (kebesaran Allah) bagimu jika kamu orang beriman"

[249]
فَلَمَّا فَصَلَ طَالُوْتُ بِالْجُـنُوْدِ ۙ  قَالَ اِنَّ اللّٰهَ مُبْتَلِيْکُمْ بِنَهَرٍ ۚ  فَمَنْ شَرِبَ مِنْهُ فَلَيْسَ مِنِّيْ ۚ  وَمَنْ لَّمْ يَطْعَمْهُ فَاِنَّهٗ مِنِّيْۤ اِلَّا مَنِ اغْتَرَفَ غُرْفَةً  ۢ بِيَدِهٖ ۚ  فَشَرِبُوْا مِنْهُ اِلَّا قَلِيْلًا مِّنْهُمْ ۗ  فَلَمَّا جَاوَزَهٗ هُوَ وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مَعَهٗ  ۙ  قَالُوْا لَا طَاقَةَ لَنَا الْيَوْمَ بِجَالُوْتَ وَجُنُوْدِهٖ ۗ  قَالَ الَّذِيْنَ يَظُنُّوْنَ اَنَّهُمْ مُّلٰقُوا اللّٰهِ ۙ  کَمْ مِّنْ فِئَةٍ قَلِيْلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً کَثِيْرَةً ۢ بِاِذْنِ اللّٰهِ ۗ  وَاللّٰهُ مَعَ الصّٰبِرِيْنَ
fa lammaa fashola thooluutu bil-junuudi qoola innalloha mubtaliikum binahar, fa man syariba min-hu fa laisa minnii, wa mal lam yath'am-hu fa innahuu minniii illaa manightarofa ghurfatam biyadih, fa syaribuu min-hu illaa qoliilam min-hum, fa lammaa jaawazahuu huwa wallaziina aamanuu ma'ahuu qooluu laa thooqota lanal-yauma bijaaluuta wa junuudih, qoolallaziina yazhunnuuna annahum mulaaqullohi kam min fi`ating qoliilatin gholabat fi`atang kasiirotam bi`iznillaah, wallohu ma'ash-shoobiriin

"Maka ketika Talut membawa bala tentaranya, dia berkata, Allah akan menguji kamu dengan sebuah sungai. Maka barang siapa meminum (airnya), dia bukanlah pengikutku. Dan barang siapa tidak meminumnya, maka dia adalah pengikutku kecuali menciduk seciduk dengan tangan. Tetapi mereka meminumnya kecuali sebagian kecil di antara mereka. Ketika dia (Talut) dan orang-orang yang beriman bersamanya menyeberangi sungai itu, mereka berkata, Kami tidak kuat lagi pada hari ini melawan Jalut dan bala tentaranya. Mereka yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah berkata, Betapa banyak kelompok kecil mengalahkan kelompok besar dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar."

[250]
وَلَمَّا بَرَزُوْا لِجَـالُوْتَ وَجُنُوْدِهٖ قَالُوْا رَبَّنَاۤ اَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَّثَبِّتْ اَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْکٰفِرِيْنَ
wa lammaa barozuu lijaaluuta wa junuudihii qooluu robbanaaa afrigh 'alainaa shobrow wa sabbit aqdaamanaa wanshurnaa 'alal-qoumil-kaafiriin

"Dan ketika mereka <5> maju melawan Jalut dan tentaranya, mereka berdoa, Ya Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami, kukuhkanlah langkah kami dan tolonglah kami <5> menghadapi orang-orang kafir."

[251]
فَهَزَمُوْهُمْ بِاِذْنِ اللّٰهِ  ۗ  وَقَتَلَ دَاوٗدُ جَالُوْتَ وَاٰتٰٮهُ اللّٰهُ الْمُلْكَ وَالْحِکْمَةَ وَعَلَّمَهٗ مِمَّا يَشَآءُ  ۗ  وَلَوْلَا دَفْعُ اللّٰهِ النَّاسَ بَعْضَهُمْ بِبَعْضٍ لَّفَسَدَتِ الْاَرْضُ وَلٰـکِنَّ اللّٰهَ ذُوْ فَضْلٍ عَلَى الْعٰلَمِيْنَ
fa hazamuuhum bi`iznillaah, wa qotala daawuudu jaaluuta wa aataahullohul-mulka wal-hikmata wa 'allamahuu mimmaa yasyaaa`, walau laa daf'ullohin-naasa ba'dhohum biba'dhil lafasadatil-ardhu wa laakinnalloha zuu fadhlin 'alal-'aalamiin

"Maka mereka <5> mengalahkannya dengan izin Allah, dan Dawud membunuh Jalut. Kemudian, Allah memberinya (Dawud) kerajaan, dan Hikmah, dan mengajarinya apa yang Dia kehendaki. Dan kalau Allah tidak melindungi sebagian manusia dengan sebagian yang lain, niscaya rusaklah bumi ini.
Tetapi Allah mempunyai karunia (yang dilimpahkan-Nya) atas seluruh alam."

[252]
تِلْكَ  اٰيٰتُ اللّٰهِ نَـتْلُوْهَا عَلَيْكَ بِالْحَـقِّ ۗ  وَاِنَّكَ لَمِنَ الْمُرْسَلِيْنَ
tilka aayaatullohi natluuhaa 'alaika bil-haqq, wa innaka laminal-mursaliin

"Itulah ayat-ayat Allah, Kami bacakan kepadamu dengan benar dan engkau (Muhammad) adalah benar-benar seseorang rasul.

.
Lanjut JUZ 3 >>
.

JUZ 3 > (2:253-286)(3:1-91)

{ 2 }  Al Baqarah       ayat 253 - 286                          
{ 3 }  Al Imran            ayat 1 - 91                                                                                                       



Keterangan :

Al Qur'an berisi petunjuk & larangan yang harus dilakukan Diri-Ini <5> dan yang menerima konsekuensinya adalah Diri-Sejati <7>, baik konsekuensi positip (pahala) maupun yang negatip (siksa)

Diri meliputi:
      * Diri-Ini <5>
         adalah: Diri yang hidup didunia ini
                        (yang sedang membaca ini)
         mempunyai raga berdimensi nyata
      * Diri-Sejati <7>
         adalah: Diri kita yang sebenarnya...,
                        Diri yang hidup di akhirat
         berdimensi irasional (tidak nyata)

Diri-Sejati<7> mempunyai kecerdasan & pemikiran yang berbeda dengan Diri-Ini<5>.
Diri-Sejati<7> hanya bisa 'menyerap' yang berguna di akhirat....energi, cahaya dan 'ilmu-akhirat yang hakiki'.

(Baca: Prinsip untuk memahami Al Qur'an)



{ 2 } Al Baqarah                       

                    
[253]
تِلْكَ الرُّسُلُ فَضَّلْنَا بَعْضَهُمْ عَلٰى بَعْضٍ ۘ  مِنْهُمْ  مَّنْ كَلَّمَ اللّٰهُ وَرَفَعَ بَعْضَهُمْ دَرَجٰتٍ ۗ  وَاٰتَيْنَا عِيْسَى ابْنَ  مَرْيَمَ الْبَيِّنٰتِ وَاَيَّدْنٰهُ بِرُوْحِ الْقُدُسِ ۗ  وَلَوْ شَآءَ اللّٰهُ مَا اقْتَتَلَ  الَّذِيْنَ مِنْۢ بَعْدِهِمْ مِّنْۢ بَعْدِ مَا جَآءَتْهُمُ الْبَيِّنٰتُ وَلٰـكِنِ اخْتَلَفُوْا  فَمِنْهُمْ مَّنْ اٰمَنَ وَمِنْهُمْ مَّنْ كَفَرَ ۗ  وَلَوْ شَآءَ اللّٰهُ مَا اقْتَتَلُوْا ۗ   وَلٰـكِنَّ اللّٰهَ يَفْعَلُ مَا يُرِيْدُ
tilkar-rusulu fadhdholnaa ba'dhohum 'alaa ba'dh, min-hum mang kallamallohu wa rofa'a ba'dhohum darojaat, wa aatainaa 'iisabna maryamal-bayyinaati wa ayyadnaahu biruuhil-qudus, walau syaaa`allohu maqtatalallaziina mim ba'dihim mim ba'di maa jaaa`at-humul-bayyinaatu wa laakinikhtalafuu fa min-hum man aamana wa min-hum mang kafar, walau syaaa`allohu maqtataluu, wa laakinnalloha yaf'alu maa yuriid

"Rasul-rasul itu Kami lebihkan sebagian mereka dari sebagian yang lain. Di antara mereka <5> ada yang Allah berfirman dengannya dan sebagian lagi ada yang ditinggikan-Nya beberapa derajat.
Dan Kami beri Isa putra Maryam beberapa mukjizat dan Kami perkuat dia dengan Rohulqudus.
Kalau Allah menghendaki, niscaya orang-orang setelah mereka tidak akan berbunuh-bunuhan, setelah bukti-bukti sampai kepada mereka. Tetapi mereka berselisih, maka ada di antara mereka yang beriman dan ada (pula) yang kafir. Kalau Allah menghendaki, tidaklah mereka berbunuh-bunuhan. Tetapi Allah berbuat menurut kehendak-Nya."

[254]
يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اَنْفِقُوْا مِمَّا رَزَقْنٰكُمْ مِّنْ قَبْلِ اَنْ يَّأْتِيَ يَوْمٌ لَّا بَيْعٌ فِيْهِ وَلَا خُلَّةٌ وَّلَا شَفَاعَةٌ   ۗ  وَالْكٰفِرُوْنَ هُمُ الظّٰلِمُوْنَ
yaaa ayyuhallaziina aamanuuu anfiquu mimmaa rozaqnaakum ming qobli ay ya`tiya yaumul laa bai'un fiihi wa laa khullatuw wa laa syafaa'ah, wal-kaafiruuna humuzh-zhoolimuun

"Wahai orang-orang <5> yang beriman! Infakkanlah sebagian dari rezeki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang hari ketika tidak ada lagi jual beli, tidak ada lagi persahabatan, dan tidak ada lagi syafaat. Orang-orang kafir itulah orang yang zalim."

[255] > Ayat Kursi
اللّٰهُ لَاۤ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ الْحَـيُّ الْقَيُّوْمُ ۚ   لَا تَأْخُذُهٗ سِنَةٌ وَّلَا نَوْمٌ ۗ  لَهٗ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِ ۗ  مَنْ ذَا الَّذِيْ يَشْفَعُ عِنْدَهٗۤ اِلَّا بِاِذْنِهٖ ۗ  يَعْلَمُ مَا بَيْنَ اَيْدِيْهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ ۚ  وَلَا يُحِيْطُوْنَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهٖۤ اِلَّا بِمَا شَآءَ  ۚ  وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ ۚ  وَلَا يَــئُوْدُهٗ حِفْظُهُمَا  ۚ  وَ هُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيْمُ
allohu laaa ilaaha illaa huw, al-hayyul-qoyyuum, laa ta`khuzuhuu sinatuw wa laa na`uum, lahuu maa fis-samaawaati wa maa fil-ardh, man zallazii yasyfa'u 'indahuuu illaa bi`iznih, ya'lamu maa baina aidiihim wa maa kholfahum, wa laa yuhiithuuna bisyai`im min 'ilmihiii illaa bimaa syaaa`, wasi'a kursiyyuhus-samaawaati wal-ardh, wa laa ya`uuduhuu hifzhuhumaa, wa huwal-'aliyyul-'azhiim

"Allah, tidak ada tuhan selain Dia. Yang Maha Hidup, yang terus-menerus mengurus, tidak mengantuk dan tidak tidur. Milik-Nya apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya. Dia mengetahui apa yang di hadapan mereka dan apa yang di belakang mereka dan mereka tidak mengetahui sesuatu apa pun tentang ilmu-Nya melainkan apa yang Dia kehendaki. 
Kursi-Nya meliputi langit dan bumi. Dan Dia tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Dia Maha Tinggi, Maha Besar."

[256]
لَاۤ اِكْرَاهَ فِى الدِّيْنِ  ۗ  قَدْ تَّبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ  ۚ  فَمَنْ يَّكْفُرْ بِالطَّاغُوْتِ وَيُؤْمِنْۢ بِاللّٰهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقٰى لَا انْفِصَامَ لَهَا  ۗ  وَاللّٰهُ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ
laaa ikrooha fid-diin, qot tabayyanar-rusydu minal-ghoyy, fa may yakfur bith-thooghuuti wa yu`mim billaahi fa qodistamsaka bil-'urwatil-wusqoo lanfishooma lahaa, wallohu samii'un 'aliim

"Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam), sesungguhnya telah jelas (perbedaan) antara jalan yang benar dengan jalan yang sesat. Barang siapa ingkar kepada Tagut dan beriman kepada Allah, maka sungguh, dia telah berpegang (teguh) pada tali yang sangat kuat yang tidak akan putus. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui."

[257]
اَللّٰهُ وَلِيُّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا يُخْرِجُهُمْ مِّنَ الظُّلُمٰتِ اِلَى النُّوْرِ ۗ   وَالَّذِيْنَ كَفَرُوْۤا اَوْلِيٰۤــئُهُمُ الطَّاغُوْتُ ۙ  يُخْرِجُوْنَهُمْ مِّنَ النُّوْرِ اِلَى الظُّلُمٰتِ ۗ  اُولٰٓئِكَ اَصْحٰبُ النَّارِ ۚ  هُمْ فِيْهَا خٰلِدُوْنَ
allohu waliyyullaziina aamanuu yukhrijuhum minazh-zhulumaati ilan-nuur, wallaziina kafaruuu auliyaaa`uhumuth-thooghuutu yukhrijuunahum minan-nuuri ilazh-zhulumaat, ulaaa`ika ash-haabun-naar, hum fiihaa khooliduun

"Allah Pelindung orang yang beriman. Dia mengeluarkan mereka <7> dari kegelapan kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya adalah setan, yang mengeluarkan mereka <7> dari cahaya kepada kegelapan. Mereka <7> adalah penghuni neraka. Mereka <7> kekal di dalamnya."

[258]
اَلَمْ تَرَ اِلَى الَّذِيْ حَآ جَّ اِبْرٰهٖمَ فِيْ رَبِّهٖۤ اَنْ اٰتٰٮهُ اللّٰهُ الْمُلْكَ ۘ  اِذْ قَالَ اِبْرٰهٖمُ رَبِّيَ الَّذِيْ يُحْيٖ وَيُمِيْتُ ۙ  قَالَ اَنَاۡ اُحْيٖ وَاُمِيْتُ ۗ  قَالَ اِبْرٰهٖمُ فَاِنَّ اللّٰهَ يَأْتِيْ بِالشَّمْسِ مِنَ الْمَشْرِقِ فَأْتِ بِهَا مِنَ الْمَغْرِبِ فَبُهِتَ الَّذِيْ كَفَرَ ۗ  وَاللّٰهُ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الظّٰلِمِيْنَ
a lam taro ilallazii haaajja ibroohiima fii robbihiii an aataahullohul-mulk, iz qoola ibroohiimu robbiyallazii yuhyii wa yumiitu qoola ana uhyii wa umiit, qoola ibroohiimu fa innalloha ya`tii bisy-syamsi minal-masyriqi fa`ti bihaa minal-maghribi fa buhitallazii kafar, wallohu laa yahdil-qoumazh-zhoolimiin

"Tidakkah kamu memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim mengenai Tuhannya karena Allah telah memberinya kerajaan (di akhirat).
Ketika Ibrahim berkata, Tuhanku ialah yang menghidupkan dan mematikan, dia berkata, aku pun dapat menghidupkan dan mematikan.
Ibrahim berkata, Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah ia dari barat.
Maka bingunglah orang yang kafir <5> itu. Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang <5> zalim."

[259]
اَوْ كَالَّذِيْ مَرَّ عَلٰى قَرْيَةٍ وَّ هِيَ خَاوِيَةٌ عَلٰى عُرُوْشِهَا  ۚ  قَالَ اَنّٰى يُحْيٖ هٰذِهِ اللّٰهُ بَعْدَ مَوْتِهَا  ۚ  فَاَمَاتَهُ اللّٰهُ مِائَةَ عَامٍ ثُمَّ بَعَثَهٗ  ۗ  قَالَ كَمْ لَبِثْتَ ۗ  قَالَ لَبِثْتُ يَوْمًا اَوْ بَعْضَ يَوْمٍ ۗ  قَالَ بَلْ لَّبِثْتَ مِائَةَ عَامٍ فَانْظُرْ اِلٰى طَعَامِكَ وَشَرَابِكَ لَمْ يَتَسَنَّهْ ۚ  وَانْظُرْ اِلٰى حِمَارِكَ ۗ  وَلِنَجْعَلَكَ اٰيَةً لِّلنَّاسِ وَانْظُرْ اِلَى الْعِظَامِ كَيْفَ نُـنْشِزُهَا ثُمَّ نَكْسُوْهَا لَحْمًا  ۗ  فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهٗ  ۙ  قَالَ اَعْلَمُ اَنَّ اللّٰهَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
au kallazii marro 'alaa qoryatiw wa hiya khoowiyatun 'alaa 'uruusyihaa, qoola annaa yuhyii haazihillaahu ba'da mautihaa, fa amaatahullohu mi`ata 'aamin summa ba'asah, qoola kam labist, qoola labistu yauman au ba'dho yauum, qoola bal labista mi`ata 'aamin fanzhur ilaa tho'aamika wa syaroobika lam yatasannah, wanzhur ilaa himaarik, wa linaj'alaka aayatal lin-naasi wanzhur ilal-'izhoomi kaifa nunsyizuhaa summa naksuuhaa lahmaa, fa lammaa tabayyana lahuu qoola a'lamu annalloha 'alaa kulli syai`ing qodiir

"Atau seperti orang yang melewati suatu negeri yang (bangunan-bangunannya) telah roboh hingga menutupi (reruntuhan) atap-atapnya, dia berkata, Bagaimana Allah menghidupkan kembali (negeri) ini setelah hancur? Lalu Allah mematikannya (orang itu) selama seratus tahun, kemudian membangkitkannya (menghidupkannya) kembali. Dan (Allah) bertanya, Berapa lama engkau tinggal (di sini)? Dia (orang itu) menjawab, Aku tinggal (di sini) sehari atau setengah hari. Allah berfirman, Tidak! Engkau telah tinggal seratus tahun. Lihatlah makanan dan minumanmu yang belum berubah, tetapi lihatlah keledaimu (yang telah menjadi tulang-belulang). Dan agar Kami jadikan engkau tanda kekuasaan Kami bagi manusia. Lihatlah tulang-belulang (keledai itu), bagaimana Kami menyusunnya kembali kemudian Kami membalutnya dengan daging. Maka ketika telah nyata baginya, dia pun berkata, Saya mengetahui bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu."

[260]
وَاِذْ قَالَ اِبْرٰهٖمُ رَبِّ اَرِنِيْ كَيْفَ تُحْيِ الْمَوْتٰى  ۗ  قَالَ اَوَلَمْ تُؤْمِنْ ۗ  قَالَ بَلٰى وَلٰـكِنْ لِّيَطْمَئِنَّ قَلْبِيْ ۗ  قَالَ فَخُذْ اَرْبَعَةً مِّنَ الطَّيْرِ فَصُرْهُنَّ اِلَيْكَ ثُمَّ اجْعَلْ عَلٰى كُلِّ جَبَلٍ مِّنْهُنَّ جُزْءًا ثُمَّ ادْعُهُنَّ يَأْتِيْنَكَ سَعْيًا  ۗ  وَاعْلَمْ اَنَّ اللّٰهَ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ
wa iz qoola ibroohiimu robbi arinii kaifa tuhyil-mautaa, qoola a wa lam tu`min, qoola balaa wa laakil liyathma`inna qolbii, qoola fakhuz arba'atam minath-thoiri fa shur-hunna ilaika summaj'al 'alaa kulli jabalim min-hunna juz`an summad'uhunna ya`tiinaka sa'yaa, wa'lam annalloha 'aziizun hakiim

"Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata, Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang mati. Allah berfirman, Belum percayakah engkau? Dia (Ibrahim) menjawab, Aku percaya, tetapi agar hatiku tenang (mantap). Dia (Allah) berfirman, Kalau begitu, ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah olehmu, kemudian letakkan di atas masing-masing bukit satu bagian, kemudian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera. Ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana."

[261]
مَثَلُ الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ اَمْوَالَهُمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ  كَمَثَلِ حَبَّةٍ اَنْۢبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِيْ كُلِّ سُنْۢبُلَةٍ مِّائَةُ حَبَّةٍ ۗ   وَاللّٰهُ يُضٰعِفُ لِمَنْ يَّشَآءُ  ۗ  وَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ
masalullaziina yunfiquuna amwaalahum fii sabiilillaahi kamasali habbatin ambatat sab'a sanaabila fii kulli sumbulatim mi`atu habbah, wallohu yudhoo'ifu limay yasyaaa`, wallohu waasi'un 'aliim

"Perumpamaan orang <5> yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha Luas, Maha Mengetahui."

[262]
اَلَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ اَمْوَالَهُمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ ثُمَّ لَا يُتْبِعُوْنَ مَاۤ اَنْفَقُوْا مَنًّا وَّلَاۤ اَذًى ۙ  لَّهُمْ اَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ ۚ  وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَ
allaziina yunfiquuna amwaalahum fii sabiilillaahi summa laa yutbi'uuna maaa anfaquu mannaw wa laaa azal lahum ajruhum 'inda robbihim, wa laa khoufun 'alaihim wa laa hum yahzanuun

"Orang <5> yang menginfakkan hartanya di jalan Allah, kemudian tidak mengiringi apa yang dia infakkan itu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima), mereka <7> memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka.
Tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka <7> tidak bersedih hati."

[263]
قَوْلٌ مَّعْرُوْفٌ وَّمَغْفِرَةٌ خَيْرٌ مِّنْ صَدَقَةٍ  يَّتْبَعُهَاۤ اَذًى ۗ  وَاللّٰهُ غَنِيٌّ حَلِيْمٌ
qoulum ma'ruufuw wa maghfirotun khoirum min shodaqotiy yatba'uhaaa azaa, wallohu ghoniyyun haliim

"Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik daripada sedekah yang diiringi tindakan yang menyakiti (tidak tulus).
Allah Maha Kaya, Maha Penyantun."

[264]
يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تُبْطِلُوْا صَدَقٰتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْاَذٰى ۙ  كَالَّذِيْ يُنْفِقُ مَالَهٗ رِئَآءَ النَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ ۗ  فَمَثَلُهٗ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَاَصَابَهٗ وَابِلٌ فَتَرَكَهٗ صَلْدًا  ۗ  لَا يَقْدِرُوْنَ عَلٰى شَيْءٍ مِّمَّا كَسَبُوْا  ۗ  وَاللّٰهُ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الْـكٰفِرِيْنَ
yaaa ayyuhallaziina aamanuu laa tubthiluu shodaqootikum bil-manni wal-azaa kallazii yunfiqu maalahuu ri`aaa`an-naasi wa laa yu`minu billaahi wal-yaumil-aakhir, fa masaluhuu kamasali shofwaanin 'alaihi turoobun fa ashoobahuu waabilun fa tarokahuu sholdaa, laa yaqdiruuna 'alaa syai`im mimmaa kasabuu, wallohu laa yahdil-qoumal-kaafiriin

"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu <5> merusak sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima), seperti orang yang menginfakkan hartanya karena riya (pamer) kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari-kemudian. Perumpamaannya (orang itu) seperti batu yang licin yang di atasnya ada debu, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, maka tinggallah batu itu licin lagi. Mereka <7> tidak memperoleh sesuatu apa pun dari apa yang mereka <5> kerjakan.
Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang kafir."

[265]
وَمَثَلُ الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ اَمْوَالَهُمُ ابْتِغَآءَ مَرْضَاتِ اللّٰهِ وَ تَثْبِيْتًا مِّنْ اَنْفُسِهِمْ كَمَثَلِ جَنَّةٍۢ بِرَبْوَةٍ اَصَابَهَا وَابِلٌ  فَاٰتَتْ اُكُلَهَا ضِعْفَيْنِ ۚ  فَاِنْ لَّمْ يُصِبْهَا وَابِلٌ فَطَلٌّ ۗ  وَاللّٰهُ  بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌ
wa masalullaziina yunfiquuna amwaalahumubtighooo`a mardhootillaahi wa tasbiitam min anfusihim kamasali jannatim birobwatin ashoobahaa waabilun fa aatat ukulahaa dhi'faiin, fa il lam yushib-haa waabilun fa tholl, wallohu bimaa ta'maluuna bashiir

"Dan perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya untuk mencari rida Allah dan untuk memperteguh jiwa mereka <5>, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buah-buahan dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka embun (pun memadai). Allah Maha Melihat apa yang kamu <5> kerjakan."

[266]
اَيَوَدُّ اَحَدُكُمْ اَنْ تَكُوْنَ لَهٗ جَنَّةٌ مِّنْ  نَّخِيْلٍ وَّاَعْنَابٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ ۙ  لَهٗ فِيْهَا مِنْ كُلِّ  الثَّمَرٰتِ ۙ  وَاَصَابَهُ الْكِبَرُ وَلَهٗ ذُرِّيَّةٌ ضُعَفَآءُ  ۚ  فَاَصَابَهَاۤ  اِعْصَارٌ فِيْهِ نَارٌ فَاحْتَرَقَتْ ۗ  كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰهُ لَـكُمُ  الْاٰيٰتِ لَعَلَّكُمْ تَتَفَكَّرُوْنَ
a yawaddu ahadukum an takuuna lahuu jannatum min nakhiiliw wa a'naabin tajrii min tahtihal-an-haaru lahuu fiihaa ming kullis-samarooti wa ashoobahul-kibaru wa lahuu zurriyyatun dhu'afaaa`, fa ashoobahaaa i'shoorun fiihi naarun fahtaroqot, kazaalika yubayyinullohu lakumul-aayaati la'allakum tatafakkaruun

"Adakah salah seorang di antara kamu <5> yang ingin memiliki kebun kurma dan anggur yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, di sana dia memiliki segala macam buah-buahan, kemudian datanglah masa tuanya sedang dia memiliki keturunan yang masih kecil-kecil. Lalu kebun itu ditiup angin keras yang mengandung api, sehingga terbakar (menjadi sesuatu yang tidak berguna).
Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu memikirkannya."

[267]
يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اَنْفِقُوْا مِنْ طَيِّبٰتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّاۤ اَخْرَجْنَا لَـكُمْ مِّنَ الْاَرْضِ  ۗ  وَلَا تَيَمَّمُوا الْخَبِيْثَ مِنْهُ تُنْفِقُوْنَ وَلَسْتُمْ بِاٰخِذِيْهِ اِلَّاۤ اَنْ تُغْمِضُوْا فِيْهِ ۗ  وَاعْلَمُوْۤا اَنَّ اللّٰهَ غَنِيٌّ حَمِيْدٌ
yaaa ayyuhallaziina aamanuuu anfiquu min thoyyibaati maa kasabtum wa mimmaaa akhrojnaa lakum minal-ardh, wa laa tayammamul-khobiisa min-hu tunfiquuna wa lastum bi`aakhiziihi illaaa an tughmidhuu fiih, wa'lamuuu annalloha ghoniyyun hamiid

"Wahai orang-orang yang beriman<5>!, Infakkanlah sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untukmu. Janganlah kamu memilih yang buruk untuk kamu keluarkan, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya, melainkan dengan memicingkan mata (enggan) terhadapnya. Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Kaya, Maha Terpuji."

[268]
اَلشَّيْطٰنُ يَعِدُكُمُ الْـفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِالْفَحْشَآءِ  ۚ  وَاللّٰهُ يَعِدُكُمْ مَّغْفِرَةً مِّنْهُ وَفَضْلًا  ۗ  وَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ
asy-syaithoonu ya'idukumul-faqro wa ya`murukum bil-fahsyaaa`, wallohu ya'idukum maghfirotam min-hu wa fadhlaa, wallohu waasi'un 'aliim

"Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kemiskinan kepadamu dan menyuruh kamu berbuat keji (kikir), sedangkan Allah menjanjikan ampunan dan karunia-Nya kepadamu. Dan Allah Maha Luas, Maha Mengetahui."

[269]
يُؤْتِى الْحِكْمَةَ مَنْ يَّشَآءُ  ۚ  وَمَنْ يُّؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ اُوْتِيَ خَيْرًا كَثِيْرًا  ۗ  وَمَا يَذَّكَّرُ اِلَّاۤ اُولُوا الْاَلْبَابِ
yu`til-hikmata may yasyaaa`, wa may yu`tal-hikmata fa qod uutiya khoirong kasiiroo, wa maa yazzakkaru illaaa ulul-albaab

"Dia memberikan hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki. Barang siapa diberi hikmah, sesungguhnya dia telah diberi kebaikan yang banyak. Dan tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang <5> yang mempunyai akal sehat."

[270]
وَمَاۤ اَنْفَقْتُمْ مِّنْ نَّفَقَةٍ اَوْ نَذَرْتُمْ مِّنْ نَّذْرٍ فَاِنَّ اللّٰهَ يَعْلَمُهٗ  ۗ  وَمَا لِلظّٰلِمِيْنَ مِنْ اَنْصَارٍ
wa maaa anfaqtum min nafaqotin au nazartum min nazrin fa innalloha ya'lamuh, wa maa lizh-zhoolimiina min anshoor

"Dan apa pun infak yang kamu <5> berikan atau nazar yang kamu janjikan, maka sungguh, Allah mengetahuinya. Dan bagi <7> orang zalim tidak ada seorang penolong pun."

[271]
اِنْ تُبْدُوا الصَّدَقٰتِ فَنِعِمَّا هِيَ ۚ  وَاِنْ تُخْفُوْهَا وَ تُؤْتُوْهَا الْفُقَرَآءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۗ  وَيُكَفِّرُ عَنْكُمْ مِّنْ سَيِّاٰتِكُمْ ۗ  وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ
in tubdush-shodaqooti fa ni'immaa hiy, wa in tukhfuuhaa wa tu`tuuhal-fuqorooo`a fa huwa khoirul lakum, wa yukaffiru 'angkum min sayyi`aatikum, wallohu bimaa ta'maluuna khobiir

"Jika kamu <5> menampakkan sedekah-sedekahmu, maka itu baik. Dan jika kamu menyembunyikannya dan memberikannya kepada orang-orang fakir, maka itu lebih baik bagimu dan Allah akan menghapus sebagian kesalahan-kesalahanmu. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan."

[272]
لَيْسَ عَلَيْكَ هُدٰٮهُمْ وَلٰـكِنَّ اللّٰهَ يَهْدِيْ مَنْ يَّشَآءُ  ۗ  وَمَا تُنْفِقُوْا مِنْ خَيْرٍ فَلِاَنْفُسِكُمْ ۗ  وَمَا تُنْفِقُوْنَ اِلَّا ابْتِغَآءَ وَجْهِ اللّٰهِ ۗ  وَمَا تُنْفِقُوْا مِنْ خَيْرٍ يُّوَفَّ اِلَيْكُمْ وَاَنْـتُمْ لَا تُظْلَمُوْنَ
laisa 'alaika hudaahum wa laakinnalloha yahdii may yasyaaa`, wa maa tunfiquu min khoirin fa li`anfusikum, wa maa tunfiquuna illabtighooo`a waj-hillaah, wa maa tunfiquu min khoiriy yuwaffa ilaikum wa antum laa tuzhlamuun

"Bukanlah kewajibanmu (Muhammad) menjadikan mereka <5> mendapat petunjuk, tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Apa pun harta yang kamu <5> infakkan, maka (kebaikannya) untuk diri<7>mu sendiri. Dan janganlah kamu <5> berinfak melainkan karena mencari rida Allah. Dan apa pun harta yang kamu infakkan, niscaya kamu <7> akan diberi (pahala) secara penuh dan kamu <7> tidak akan dizalimi (dirugikan)."

[273]
لِلْفُقَرَآءِ الَّذِيْنَ اُحْصِرُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ لَا يَسْتَطِيْعُوْنَ ضَرْبًا فِى الْاَرْضِ ۖ  يَحْسَبُهُمُ الْجَاهِلُ اَغْنِيَآءَ مِنَ التَّعَفُّفِ ۚ  تَعْرِفُهُمْ بِسِيْمٰهُمْ ۚ  لَا يَسْــئَلُوْنَ النَّاسَ اِلْحَــافًا  ۗ  وَمَا تُنْفِقُوْا مِنْ خَيْرٍ فَاِنَّ اللّٰهَ بِهٖ عَلِيْمٌ
lil-fuqorooo`illaziina uhshiruu fii sabiilillaahi laa yastathii'uuna dhorban fil-ardhi yahsabuhumul-jaahilu aghniyaaa`a minat-ta'affuf, ta'rifuhum bisiimaahum, laa yas`aluunan-naasa il-haafaa, wa maa tunfiquu min khoirin fa innalloha bihii 'aliim

"(Apa yang kamu infakkan) adalah untuk orang-orang fakir yang terhalang (usahanya karena jihad) di jalan Allah, sehingga dia yang tidak dapat berusaha di bumi; (orang lain) yang tidak tahu, menyangka bahwa mereka adalah orang-orang kaya karena mereka menjaga diri (dari meminta-minta). Engkau (Muhammad) mengenal mereka dari ciri-cirinya, mereka tidak meminta secara paksa kepada orang lain. Apa pun harta yang baik yang kamu infakkan, sungguh, Allah Maha Mengetahui."

[274]
اَلَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ اَمْوَالَهُمْ بِالَّيْلِ وَالنَّهَارِ سِرًّا وَّعَلَانِيَةً فَلَهُمْ اَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ  ۚ  وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَ
allaziina yunfiquuna amwaalahum bil-laili wan-nahaari sirrow wa 'alaaniyatan fa lahum ajruhum 'inda robbihim, wa laa khoufun 'alaihim wa laa hum yahzanuun

"Orang-orang yang menginfakkan hartanya malam dan siang hari (secara) sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, mereka <5> mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati."

[275]
اَلَّذِيْنَ يَأْكُلُوْنَ الرِّبٰوا لَا يَقُوْمُوْنَ اِلَّا كَمَا يَقُوْمُ الَّذِيْ يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطٰنُ مِنَ الْمَسِّ ۗ  ذٰلِكَ بِاَنَّهُمْ قَالُوْۤا اِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبٰوا  ۘ  وَاَحَلَّ اللّٰهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبٰوا  ۗ  فَمَنْ جَآءَهٗ مَوْعِظَةٌ مِّنْ رَّبِّهٖ فَانْتَهٰى فَلَهٗ مَا سَلَفَ ۗ  وَاَمْرُهٗۤ اِلَى اللّٰهِ ۗ  وَمَنْ عَادَ فَاُولٰٓئِكَ اَصْحٰبُ النَّارِ ۚ  هُمْ فِيْهَا خٰلِدُوْنَ
allaziina ya`kuluunar-ribaa laa yaquumuuna illaa kamaa yaquumullazii yatakhobbathuhusy-syaithoonu minal-mass, zaalika bi`annahum qooluuu innamal-bai'u mislur-ribaa, wa ahallallohul-bai'a wa harromar-ribaa, fa man jaaa`ahuu mau'izhotum mir robbihii fantahaa fa lahuu maa salaf, wa amruhuuu ilalloh, wa man 'aada fa ulaaa`ika ash-haabun-naar, hum fiihaa khooliduun

"Orang-orang <5> yang memakan riba tidak dapat berdiri, melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan karena gila. Yang demikian itu karena mereka berkata bahwa jual beli sama dengan riba. Padahal, Allah telah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba. Barang siapa mendapat peringatan dari Tuhannya, lalu dia berhenti, maka apa yang telah diperolehnya dahulu menjadi miliknya dan urusannya (terserah) kepada Allah. Barang siapa mengulangi, maka mereka <7> itu penghuni neraka, mereka <7> kekal di dalamnya."

[276]
يَمْحَقُ اللّٰهُ الرِّبٰوا وَيُرْبِى الصَّدَقٰتِ ۗ  وَاللّٰهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ اَثِيْمٍ
yam-haqullohur-ribaa wa yurbish-shodaqoot, wallohu laa yuhibbu kulla kaffaarin asiim

"Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran dan bergelimang dosa."

[277]
اِنَّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَاَقَامُوا الصَّلٰوةَ وَاٰتَوُا الزَّكٰوةَ لَهُمْ اَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ ۚ  وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَ
innallaziina aamanuu wa 'amilush-shoolihaati wa aqoomush-sholaata wa aatawuz-zakaata lahum ajruhum 'inda robbihim, wa laa khoufun 'alaihim wa laa hum yahzanuun

"Sungguh, orang-orang <5> yang beriman, mengerjakan kebajikan, melaksanakan sholat, dan menunaikan zakat, mereka <7> mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati."

[278]
يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَذَرُوْا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبٰۤوا اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ
yaaa ayyuhallaziina aamanuttaqulloha wa zaruu maa baqiya minar-ribaaa ing kuntum mu`miniin

"Wahai orang-orang <5> yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang beriman."

[279]
فَاِنْ  لَّمْ تَفْعَلُوْا فَأْذَنُوْا بِحَرْبٍ مِّنَ اللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ ۚ  وَاِنْ تُبْتُمْ  فَلَـكُمْ رُءُوْسُ اَمْوَالِكُمْ ۚ  لَا تَظْلِمُوْنَ وَلَا تُظْلَمُوْنَ
fa il lam taf'aluu fa`zanuu biharbim minallohi wa rosuulih, wa in tubtum fa lakum ru`uusu amwaalikum, laa tazhlimuuna wa laa tuzhlamuun

"Jika kamu tidak melaksanakannya, maka umumkanlah perang dari Allah dan Rasul-Nya. Tetapi jika kamu bertobat, maka kamu berhak atas pokok hartamu. Kamu tidak berbuat zalim (merugikan) dan tidak dizalimi (dirugikan)."

[280]
وَاِنْ كَانَ ذُوْ عُسْرَةٍ فَنَظِرَةٌ اِلٰى مَيْسَرَةٍ  ۗ  وَاَنْ تَصَدَّقُوْا خَيْرٌ لَّـكُمْ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ
wa ing kaana zuu 'usrotin fa nazhirotun ilaa maisaroh, wa an tashoddaquu khoirul lakum ing kuntum ta'lamuun

"Dan jika (orang berutang itu) dalam kesulitan, maka berilah tenggang waktu sampai dia memperoleh kelapangan. Dan jika kamu <5> menyedekahkan, itu lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui."

[281]
وَاتَّقُوْا يَوْمًا تُرْجَعُوْنَ فِيْهِ اِلَى اللّٰهِ  ۗ  ثُمَّ تُوَفّٰى كُلُّ نَفْسٍ مَّا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُوْنَ
wattaquu yauman turja'uuna fiihi ilalloh, summa tuwaffaa kullu nafsim maa kasabat wa hum laa yuzhlamuun

"Dan takutlah pada hari (ketika) kamu semua dikembalikan kepada Allah (hari kiamat).
Kemudian setiap orang diberi balasan yang sempurna sesuai dengan apa yang telah dilakukannya, dan mereka <7> tidak dizalimi (dirugikan)."

[282]
يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اِذَا تَدَايَنْتُمْ بِدَيْنٍ اِلٰۤى اَجَلٍ مُّسَمًّى فَاكْتُبُوْهُ  ۗ  وَلْيَكْتُبْ بَّيْنَكُمْ كَاتِبٌۢ بِالْعَدْلِ  ۖ  وَلَا يَأْبَ كَاتِبٌ اَنْ يَّكْتُبَ كَمَا عَلَّمَهُ اللّٰهُ فَلْيَكْتُبْ  ۚ  وَلْيُمْلِلِ الَّذِيْ عَلَيْهِ الْحَـقُّ وَلْيَتَّقِ اللّٰهَ رَبَّهٗ وَلَا يَبْخَسْ مِنْهُ شَيْــئًا  ۗ  فَاِنْ كَانَ الَّذِيْ عَلَيْهِ الْحَـقُّ سَفِيْهًا اَوْ ضَعِيْفًا اَوْ لَا يَسْتَطِيْعُ اَنْ يُّمِلَّ هُوَ فَلْيُمْلِلْ وَلِيُّهٗ بِالْعَدْلِ  ۗ  وَاسْتَشْهِدُوْا شَهِيْدَيْنِ مِنْ رِّجَالِكُمْ  ۚ  فَاِنْ لَّمْ يَكُوْنَا رَجُلَيْنِ فَرَجُلٌ وَّامْرَاَتٰنِ مِمَّنْ تَرْضَوْنَ مِنَ الشُّهَدَآءِ اَنْ تَضِلَّ اِحْدٰٮهُمَا فَتُذَكِّرَ اِحْدٰٮهُمَا الْاُخْرٰى  ۗ  وَ لَا يَأْبَ الشُّهَدَآءُ اِذَا مَا دُعُوْا  ۗ  وَلَا تَسْــئَمُوْۤا اَنْ تَكْتُبُوْهُ صَغِيْرًا اَوْ كَبِيْرًا اِلٰۤى اَجَلِهٖ  ۗ  ذٰ لِكُمْ اَقْسَطُ عِنْدَ اللّٰهِ وَاَقْوَمُ لِلشَّهَادَةِ وَاَدْنٰۤى اَ لَّا تَرْتَابُوْۤا اِلَّاۤ اَنْ تَكُوْنَ تِجَارَةً حَاضِرَةً تُدِيْرُوْنَهَا بَيْنَكُمْ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ اَ لَّا تَكْتُبُوْهَا ۗ  وَاَشْهِدُوْۤا اِذَا تَبَايَعْتُمْ  ۖ  وَلَا يُضَآ رَّ كَاتِبٌ وَّلَا شَهِيْدٌ  ۗ  وَاِنْ تَفْعَلُوْا فَاِنَّهٗ فُسُوْقٌ ۢ بِكُمْ  ۗ  وَ اتَّقُوا اللّٰهَ  ۗ  وَيُعَلِّمُكُمُ اللّٰهُ  ۗ  وَاللّٰهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ
yaaa ayyuhallaziina aamanuuu izaa tadaayantum bidainin ilaaa ajalim musamman faktubuuh, walyaktub bainakum kaatibum bil-'adli wa laa ya`ba kaatibun ay yaktuba kamaa 'allamahullohu falyaktub, walyumlilillazii 'alaihil-haqqu walyattaqillaaha robbahuu wa laa yabkhos min-hu syai`aa, fa ing kaanallazii 'alaihil-haqqu safiihan au dho'iifan au laa yastathii'u ay yumilla huwa falyumlil waliyyuhuu bil-'adl, wastasy-hiduu syahiidaini mir rijaalikum, fa il lam yakuunaa rojulaini fa rojuluw wamro`ataani mim man tardhouna minasy-syuhadaaa`i an tadhilla ihdaahumaa fa tuzakkiro ihdaahumal-ukhroo, wa laa ya`basy-syuhadaaa`u izaa maa du'uu, wa laa tas`amuuu an taktubuuhu shoghiiron au kabiiron ilaaa ajalih, zaalikum aqsathu 'indallohi wa aqwamu lisy-syahaadati wa adnaaa allaa tartaabuuu illaaa an takuuna tijaarotan haadhirotan tudiiruunahaa bainakum fa laisa 'alaikum junaahun allaa taktubuuhaa, wa asy-hiduuu izaa tabaaya'tum wa laa yudhooorro kaatibuw wa laa syahiid, wa in taf'aluu fa innahuu fusuuqum bikum, wattaqulloh, wa yu'allimukumulloh, wallohu bikulli syai`in 'aliim

"Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu <5> melakukan utang-piutang untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. Janganlah penulis menolak untuk menuliskannya sebagaimana Allah telah mengajarkan kepadanya, maka hendaklah dia menuliskan. Dan hendaklah orang yang berutang itu mendiktekan, dan hendaklah dia bertakwa kepada Allah, Tuhannya, dan janganlah dia mengurangi sedikit pun dari padanya. Jika yang berutang itu orang yang kurang akalnya atau lemah (keadaannya), atau tidak mampu mendiktekan sendiri, maka hendaklah walinya mendiktekannya dengan benar. Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi laki-laki di antara kamu. Jika tidak ada (saksi) dua orang laki-laki, maka (boleh) seorang laki-laki dan dua orang perempuan di antara orang-orang yang kamu sukai dari para saksi (yang ada), agar jika yang seorang lupa maka yang seorang lagi mengingatkannya. Dan janganlah saksi-saksi itu menolak apabila dipanggil. Dan janganlah kamu bosan menuliskannya, untuk batas waktunya baik (utang itu) kecil maupun besar. Yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah, lebih dapat menguatkan kesaksian, dan lebih mendekatkan kamu kepada ketidakraguan, kecuali jika hal itu merupakan perdagangan tunai yang kamu jalankan di antara kamu, maka tidak ada dosa bagi kamu jika kamu tidak menuliskannya. Dan ambillah saksi apabila kamu berjual-beli, dan janganlah penulis dipersulit dan begitu juga saksi. Jika kamu lakukan (yang demikian), maka sungguh, hal itu suatu kefasikan pada kamu. Dan bertakwalah kepada Allah, Allah memberikan pengajaran kepadamu, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu."

[283]
وَاِنْ كُنْتُمْ عَلٰى سَفَرٍ وَّلَمْ تَجِدُوْا كَاتِبًا فَرِهٰنٌ مَّقْبُوْضَةٌ   ۗ  فَاِنْ اَمِنَ بَعْضُكُمْ بَعْضًا فَلْيُؤَدِّ الَّذِى اؤْتُمِنَ اَمَانَـتَهٗ وَلْيَتَّقِ اللّٰهَ رَبَّهٗ ۗ  وَلَا تَكْتُمُوا الشَّهَادَةَ   ۗ  وَمَنْ يَّكْتُمْهَا فَاِنَّهٗۤ اٰثِمٌ قَلْبُهٗ ۗ  وَ اللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ عَلِيْمٌ
wa ing kuntum 'alaa safariw wa lam tajiduu kaatiban fa rihaanum maqbuudhoh, fa in amina ba'dhukum ba'dhon falyu`addillazi`tumina amaanatahuu walyattaqillaaha robbah, wa laa taktumusy-syahaadah, wa may yaktum-haa fa innahuuu aasimung qolbuh, wallohu bimaa ta'maluuna 'aliim

"Dan jika kamu dalam perjalanan sedang kamu tidak mendapatkan seorang penulis, maka hendaklah ada barang jaminan yang dipegang. Tetapi, jika sebagian kamu memercayai sebagian yang lain, hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya (utangnya) dan hendaklah dia bertakwa kepada Allah, Tuhannya. Dan janganlah kamu menyembunyikan kesaksian karena barang siapa menyembunyikannya, sungguh, hatinya kotor (berdosa). Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan."

[284]
لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِ ۗ  وَاِنْ تُبْدُوْا مَا فِيْۤ اَنْفُسِكُمْ اَوْ تُخْفُوْهُ يُحَاسِبْكُمْ بِهِ اللّٰهُ ۗ  فَيَـغْفِرُ لِمَنْ يَّشَآءُ وَيُعَذِّبُ مَنْ يَّشَآءُ  ۗ  وَاللّٰهُ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
lillaahi maa fis-samaawaati wa maa fil-ardh, wa in tubduu maa fiii anfusikum au tukhfuuhu yuhaasibkum bihillaah, fa yaghfiru limay yasyaaa`u wa yu'azzibu may yasyaaa`, wallohu 'alaa kulli syai`ing qodiir

"Milik Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Jika kamu nyatakan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu sembunyikan, niscaya Allah memperhitungkannya (tentang perbuatan itu) bagimu. Dia mengampuni siapa yang Dia kehendaki dan mengazab siapa yang Dia kehendaki. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu."

[285]
اٰمَنَ الرَّسُوْلُ بِمَاۤ اُنْزِلَ اِلَيْهِ مِنْ رَّبِّهٖ وَ الْمُؤْمِنُوْنَ ۗ كُلٌّ اٰمَنَ بِا للّٰهِ وَمَلٰٓئِكَتِهٖ وَكُتُبِهٖ وَرُسُلِهٖ ۗ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ اَحَدٍ مِّنْ رُّسُلِهٖ ۗ وَقَا لُوْا سَمِعْنَا وَاَ طَعْنَا غُفْرَا نَكَ رَبَّنَا وَاِ لَيْكَ الْمَصِيْرُ
aamanar-rosuulu bimaaa unzila ilaihi mir robbihii wal-mu`minuun, kullun aamana billaahi wa malaaa`ikatihii wa kutubihii wa rusulih, laa nufarriqu baina ahadim mir rusulih, wa qooluu sami'naa wa atho'naa ghufroonaka robbanaa wa ilaikal-mashiir

"Rasul (Muhammad) beriman kepada apa yang diturunkan kepadanya (Al-Qur'an) dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semua beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya. (Mereka berkata), Kami tidak membeda-bedakan seorang pun dari rasul-rasul-Nya. Dan mereka berkata, Kami dengar dan kami taat. Ampunilah kami, ya Tuhan kami, dan kepada-Mu tempat (kami) kembali."

[286]
لَا يُكَلِّفُ اللّٰهُ نَفْسًا اِلَّا وُسْعَهَا  ۗ  لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ  ۗ  رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَاۤ اِنْ نَّسِيْنَاۤ اَوْ اَخْطَأْنَا  ۚ  رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَاۤ اِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهٗ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا  ۚ  رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهٖ  ۚ  وَاعْفُ عَنَّا  ۗ  وَاغْفِرْ لَنَا  ۗ  وَارْحَمْنَا  ۗ  اَنْتَ مَوْلٰٮنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكٰفِرِيْنَ
laa yukallifullohu nafsan illaa wus'ahaa, lahaa maa kasabat wa 'alaihaa maktasabat, robbanaa laa tu`aakhiznaaa in nasiinaaa au akhtho`naa, robbanaa wa laa tahmil 'alainaaa ishrong kamaa hamaltahuu 'alallaziina ming qoblinaa, robbanaa wa laa tuhammilnaa maa laa thooqota lanaa bih, wa'fu 'annaa, waghfir lanaa, war-hamnaa, anta maulaanaa fanshurnaa 'alal-qoumil-kaafiriin

"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Dia mendapat (pahala)<7> dari (kebajikan) yang dikerjakan<5>nya dan dia mendapat (siksa)<7> dari (kejahatan) yang diperbuat<5>nya.
(Mereka berdoa), Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami melakukan kesalahan. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebani kami dengan beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah pelindung kami, maka tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir."




{ 3 }  Ali 'Imran  (Keluarga Imran)
____________________________________
         < Madinah >   < 200 ayat >


[ 1 ]
                                                        الٓمّٓ
alif laaam miiim

"Alif Lam Mim."

[2]
                    اللّٰهُ لَاۤ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ ۙ  الْحَيُّ الْقَيُّوْمُ
allohu laaa ilaaha illaa huwal-hayyul-qoyyuum

"Allah, tidak ada tuhan selain Dia. Yang Maha Hidup, Yang terus-menerus mengurus."

[3]
نَزَّلَ عَلَيْكَ الْـكِتٰبَ  بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَاَنْزَلَ التَّوْرٰٮةَ وَالْاِنْجِيْلَ
nazzala 'alaikal-kitaaba bil-haqqi mushoddiqol limaa baina yadaihi wa anzalat-tauroota wal-injiil

"Dia menurunkan Kitab (Al-Qur'an) kepadamu (Muhammad) yang mengandung kebenaran, membenarkan (kitab-kitab) sebelumnya, dan menurunkan Taurat dan Injil,"

[4]
مِنْ قَبْلُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَاَنْزَلَ الْفُرْقَانَ    ۗ  اِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا بِاٰيٰتِ اللّٰهِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيْدٌ   ۗ  وَاللّٰهُ عَزِيْزٌ ذُو انْتِقَامٍ
ming qoblu hudal lin-naasi wa anzalal-furqoon, innallaziina kafaruu bi`aayaatillaahi lahum 'azaabun syadiid, wallohu 'aziizun zuntiqoom

"sebelumnya, sebagai petunjuk bagi manusia, dan Dia menurunkan Al-Furqan. Sungguh, orang-orang <5> yang ingkar terhadap ayat-ayat Allah (<7>nya) akan memperoleh azab yang berat. Allah Maha Perkasa lagi mempunyai hukuman."

[5]
اِنَّ اللّٰهَ لَا يَخْفٰى عَلَيْهِ شَيْءٌ فِى الْاَرْضِ وَلَا فِى السَّمَآءِ
innalloha laa yakhfaa 'alaihi syai`un fil-ardhi wa laa fis-samaaa`

"Bagi Allah tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi di bumi dan di langit."

[6]
هُوَ الَّذِيْ يُصَوِّرُكُمْ فِى الْاَرْحَامِ كَيْفَ يَشَآءُ  ۗ  لَاۤ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
huwallazii yushowwirukum fil-ar-haami kaifa yasyaaa`, laaa ilaaha illaa huwal-'aziizul-hakiim

"Dialah yang membentuk kamu <5> dalam rahim menurut yang Dia kehendaki. Tidak ada tuhan selain Dia. Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana."

[7]
هُوَ الَّذِيْۤ اَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتٰبَ مِنْهُ اٰيٰتٌ مُّحْكَمٰتٌ هُنَّ اُمُّ الْكِتٰبِ وَاُخَرُ مُتَشٰبِهٰتٌ  ۗ  فَاَمَّا الَّذِيْنَ فِيْ قُلُوْبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُوْنَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَآءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَآءَ تَأْوِيْلِهٖ  ۚ  وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيْلَهٗۤ اِلَّا اللّٰهُ  ۘ  وَ الرّٰسِخُوْنَ فِى الْعِلْمِ يَقُوْلُوْنَ اٰمَنَّا بِهٖ  ۙ  كُلٌّ مِّنْ عِنْدِ رَبِّنَا  ۚ  وَمَا يَذَّكَّرُ اِلَّاۤ اُولُوا الْاَلْبَابِ
huwallaziii anzala 'alaikal-kitaaba min-hu aayaatum muhkamaatun hunna ummul-kitaabi wa ukhoru mutasyaabihaat, fa ammallaziina fii quluubihim zaighun fayattabi'uuna maa tasyaabaha min-hubtighooo`al-fitnati wabtighooo`a ta`wiilih, wa maa ya'lamu ta`wiilahuuu illalloh, war-roosikhuuna fil-'ilmi yaquuluuna aamannaa bihii kullum min 'indi robbinaa, wa maa yazzakkaru illaaa ulul-albaab

"Dialah yang menurunkan Kitab (Al-Qur'an) kepadamu (Muhammad). Di antaranya ada ayat-ayat yang muhkamat (arti dan maknanya jelas/gamblang), itulah pokok-pokok Kitab (Al-Qur'an) dan yang lain mutasyabihat (maknanya samar...perlu perenungan yang lebih dalam). 
Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong pada kesesatan, mereka mengikuti yang mutasyabihat untuk mencari-cari fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya kecuali Allah.
(yang akan diajarkan melalui proses perenungan/iqro' oleh 'PotensiNya'/ruh/<6>).
Dan orang-orang yang ilmunya mendalam berkata, Kami beriman kepadanya (Al-Qur'an), semuanya dari sisi Tuhan kami. Tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang yang berakal."

[8]
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ اِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَّدُنْكَ رَحْمَةً   ۚ  اِنَّكَ اَنْتَ الْوَهَّابُ
robbanaa laa tuzigh quluubanaa ba'da iz hadaitanaa wa hab lanaa mil ladungka rohmah, innaka antal-wahhaab

(Mereka berdoa), "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau condongkan hati kami <5> kepada kesesatan setelah engkau berikan petunjuk kepada kami <5>, dan karuniakanlah kepada kami <7> rahmat dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Pemberi."

[9]
رَبَّنَاۤ اِنَّكَ جَامِعُ النَّاسِ لِيَوْمٍ لَّا رَيْبَ فِيْهِ ۗ  اِنَّ اللّٰهَ لَا يُخْلِفُ  الْمِيْعَادَ
robbanaaa innaka jaami'un-naasi liyaumil laa roiba fiih, innalloha laa yukhliful-mii'aad

"Ya Tuhan kami, Engkaulah yang mengumpulkan manusia pada hari yang tidak ada keraguan padanya. Sungguh, Allah tidak menyalahi janji."

[10]
اِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا لَنْ تُغْنِيَ عَنْهُمْ اَمْوَالُهُمْ وَلَاۤ اَوْلَادُهُمْ مِّنَ اللّٰهِ شَيْــئًا  ۗ  وَاُولٰٓئِكَ هُمْ وَقُوْدُ النَّارِ
innallaziina kafaruu lan tughniya 'an-hum amwaaluhum wa laaa aulaaduhum minallohi syai`aa, wa ulaaa`ika hum waquudun-naar

"Sesungguhnya orang-orang yang kafir, bagi mereka <7> tidak akan berguna sedikit pun harta benda dan anak-anak mereka terhadap (azab) Allah. Dan mereka itu (menjadi) bahan bakar api neraka."

[11]
كَدَأْبِ اٰلِ فِرْعَوْنَ ۙ  وَالَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْ ۗ  كَذَّبُوْا بِاٰيٰتِنَا  ۚ  فَاَخَذَهُمُ اللّٰهُ بِذُنُوْبِهِمْ ۗ  وَاللّٰهُ شَدِيْدُ الْعِقَابِ
kada`bi aali fir'auna wallaziina ming qoblihim, kazzabuu bi`aayaatinaa, fa akhozahumullohu bizunuubihim, wallohu syadiidul-'iqoob

"(Keadaan mereka) seperti keadaan pengikut Fir'aun dan orang-orang yang sebelum mereka. Mereka <5> mendustakan ayat-ayat Kami, maka Allah menyiksa mereka <7> disebabkan dosa-dosanya. Allah sangat berat hukuman-Nya."

[12]
قُلْ لِّلَّذِيْنَ كَفَرُوْا سَتُغْلَبُوْنَ وَتُحْشَرُوْنَ اِلٰى جَهَنَّمَ ۗ  وَبِئْسَ الْمِهَادُ
qul lillaziina kafaruu satughlabuuna wa tuhsyaruuna ilaa jahannam, wa bi`sal-mihaad

"Katakanlah (Muhammad) kepada orang-orang <5> yang kafir, Kamu <7> (pasti) akan dikalahkan dan digiring ke dalam Neraka Jahanam. Dan itulah seburuk-buruk tempat tinggal."

[13]
قَدْ كَانَ لَـكُمْ اٰيَةٌ فِيْ فِئَتَيْنِ الْتَقَتَا  ۗ  فِئَةٌ تُقَاتِلُ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَاُخْرٰى كَافِرَةٌ يَّرَوْنَهُمْ مِّثْلَيْهِمْ رَأْيَ الْعَيْنِ ۗ  وَاللّٰهُ يُؤَيِّدُ بِنَصْرِهٖ مَنْ يَّشَآءُ   ۗ  اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَعِبْرَةً لِّاُولِى الْاَبْصَارِ
qod kaana lakum aayatun fii fi`atainiltaqotaa, fi`atun tuqootilu fii sabiilillaahi wa ukhroo kaafirotuy yarounahum mislaihim ro`yal-'aiin, wallohu yu`ayyidu binashrihii may yasyaaa`, inna fii zaalika la'ibrotal li`ulil-abshoor

"Sungguh, telah ada tanda bagi kamu pada dua golongan yang berhadap-hadapan. Satu golongan berperang di jalan Allah dan yang lain (golongan) kafir yang melihat dengan mata kepala, bahwa mereka (golongan muslim) dua kali lipat mereka. Allah menguatkan dengan pertolongan-Nya bagi siapa yang Dia kehendaki. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai penglihatan (mata hati)."

[14]
زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوٰتِ مِنَ النِّسَآءِ وَالْبَـنِيْنَ وَالْقَنَاطِيْرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَـيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْاَنْعَامِ وَالْحَـرْثِ ۗ  ذٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا  ۚ  وَاللّٰهُ عِنْدَهٗ حُسْنُ الْمَاٰبِ
zuyyina lin-naasi hubbusy-syahawaati minan-nisaaa`i wal-baniina wal-qonathiiril-muqonthoroti minaz-zahabi wal-fidhdhoti wal-khoilil-musawwamati wal-an'aami wal-hars, zaalika mataa'ul-hayaatid-dun-yaa, wallohu 'indahuu husnul-ma`aab

"Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia <5> cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak, dan sawah ladang.
Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik."

[15]
قُلْ اَؤُنَبِّئُكُمْ بِخَيْرٍ مِّنْ ذٰ لِكُمْ ۗ  لِلَّذِيْنَ اتَّقَوْا عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنّٰتٌ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَا وَاَزْوَاجٌ مُّطَهَّرَةٌ وَّرِضْوَانٌ مِّنَ اللّٰهِ ۗ  وَاللّٰهُ بَصِيْرٌۢ بِالْعِبَادِ
qul a unabbi`ukum bikhoirim min zaalikum, lillaziinattaqou 'inda robbihim jannaatun tajrii min tahtihal-an-haaru khoolidiina fiihaa wa azwaajum muthohharotuw wa ridhwaanum minalloh, wallohu bashiirum bil-'ibaad

"Katakanlah, Maukah aku kabarkan kepadamu <5> apa yang lebih baik dari yang demikian itu? Bagi orang-orang yang bertakwa (tersedia) di sisi Tuhan mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka <7> kekal di dalamnya, dan pasangan-pasangan yang suci, serta rida Allah. Dan Allah Maha Melihat hamba-hamba-Nya."

[16]
اَلَّذِيْنَ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَاۤ اِنَّنَاۤ اٰمَنَّا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
allaziina yaquuluuna robbanaaa innanaaa aamannaa faghfir lanaa zunuubanaa wa qinaa 'azaaban-naar

"(Yaitu) orang-orang yang berdoa, Ya Tuhan kami, kami benar-benar beriman, maka ampunilah dosa-dosa kami dan lindungilah kami dari azab neraka."

[17]
اَلصّٰــبِرِيْنَ وَالصّٰدِقِــيْنَ وَالْقٰنِتِــيْنَ وَالْمُنْفِقِيْنَ وَالْمُسْتَغْفِرِيْنَ بِالْاَسْحَارِ
ash-shoobiriina wash-shoodiqiina wal-qoonitiina wal-munfiqiina wal-mustaghfiriina bil-as-haar

"(Juga) orang <5> yang sabar, orang yang benar, orang yang taat, orang yang menginfakkan hartanya, dan orang patuhang memohon ampunan pada waktu sebelum fajar."

[18]
شَهِدَ اللّٰهُ اَنَّهٗ لَاۤ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ ۙ  وَالْمَلٰٓئِكَةُ وَاُولُوا الْعِلْمِ قَآئِمًا ۢ بِالْقِسْطِ ۗ  لَاۤ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
syahidallohu annahuu laaa ilaaha illaa huwa wal-malaaa`ikatu wa ulul-'ilmi qooo`imam bil-qisth, laaa ilaaha illaa huwal-'aziizul-hakiim

"Allah menyatakan bahwa tidak ada tuhan selain Dia; (demikian pula) para malaikat dan orang berilmu yang menegakkan keadilan, tidak ada tuhan selain Dia, Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana."

[19]
اِنَّ الدِّيْنَ عِنْدَ اللّٰهِ الْاِسْلَامُ ۗ  وَمَا اخْتَلَفَ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ اِلَّا مِنْۢ بَعْدِ مَا جَآءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا ۢ بَيْنَهُمْ ۗ  وَمَنْ يَّكْفُرْ بِاٰيٰتِ اللّٰهِ فَاِنَّ اللّٰهَ سَرِيْعُ الْحِسَابِ
innad-diina 'indallohil-islaam, wa makhtalafallaziina uutul-kitaaba illaa mim ba'di maa jaaa`ahumul-'ilmu baghyam bainahum, wa may yakfur bi`aayaatillaahi fa innalloha sarii'ul-hisaab

"Sesungguhnya agama di sisi Allah ialah Islam (Agama yang mampu menghantarkan diri-sejati kita <7> kembali pulang ke surga...lihat 3:15)
Tidaklah berselisih orang-orang yang telah diberi Kitab kecuali setelah mereka <5> memperoleh ilmu, karena kedengkian di antara mereka. Barang siapa ingkar terhadap ayat-ayat Allah, maka sungguh, Allah sangat cepat perhitungan-Nya."

[20]
فَاِنْ حَآ جُّوْكَ فَقُلْ اَسْلَمْتُ وَجْهِيَ لِلّٰهِ وَمَنِ اتَّبَعَنِ  ۗ  وَقُلْ لِّلَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ وَالْاُمِّيّٖنَ ءَاَسْلَمْتُمْ  ۗ  فَاِنْ اَسْلَمُوْا فَقَدِ اهْتَدَوْا  ۚ  وَاِنْ تَوَلَّوْا فَاِنَّمَا عَلَيْكَ الْبَلٰغُ  ۗ  وَاللّٰهُ بَصِيْرٌۢ بِالْعِبَادِ
fa in haaajjuuka fa qul aslamtu waj-hiya lillaahi wa manittaba'an, wa qul lillaziina uutul-kitaaba wal-ummiyyiina a aslamtum, fa in aslamuu fa qodihtadau, wa in tawallau fa innamaa 'alaikal-balaagh, wallohu bashiirum bil-'ibaad

"Kemudian jika mereka membantah engkau (Muhammad) katakanlah, Aku patuh kepada Allah dan (demikian pula) orang-orang yang mengikutiku. Dan katakanlah kepada orang-orang yang telah diberi kitab dan kepada orang-orang buta huruf, Sudahkah kamu patuh (kepada Allah)? Jika mereka <5> patuh (kepada Allah), berarti mereka telah mendapat petunjuk, tetapi jika mereka berpaling, maka kewajibanmu hanyalah menyampaikan. Dan Allah Maha Melihat hamba-hamba-Nya."

[21]
اِنَّ الَّذِيْنَ يَكْفُرُوْنَ بِاٰيٰتِ اللّٰهِ وَيَقْتُلُوْنَ النَّبِيّٖنَ بِغَيْرِ حَقٍّ ۙ  وَّيَقْتُلُوْنَ الَّذِيْنَ يَأْمُرُوْنَ بِالْقِسْطِ مِنَ النَّاسِ ۙ  فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ اَ لِيْمٍ
innallaziina yakfuruuna bi`aayaatillaahi wa yaqtuluunan-nabiyyiina bighoiri haqqiw wa yaqtuluunallaziina ya`muruuna bil-qisthi minan-naasi fa basysyir-hum bi'azaabin aliim

"Sesungguhnya orang-orang <5> yang mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa hak (alasan yang benar) dan membunuh orang-orang yang menyuruh manusia berbuat adil, sampaikanlah kepada mereka <5> kabar gembira, yaitu azab yang pedih (untuk diri<7>nya)."

[22]
اُولٰٓئِكَ الَّذِيْنَ حَبِطَتْ اَعْمَالُهُمْ فِى الدُّنْيَا وَالْاٰخِرَةِ ۖ  وَمَا لَهُمْ مِّنْ نّٰصِرِيْنَ
ulaaa`ikallaziina habithot a'maaluhum fid-dun-yaa wal-aakhiroti wa maa lahum min naashiriin

"Mereka <5> itulah orang-orang yang sia-sia pekerjaannya di dunia dan di akhirat, dan mereka <7> tidak memperoleh penolong."

[23]
اَلَمْ تَرَ اِلَى الَّذِيْنَ اُوْتُوْا نَصِيْبًا مِّنَ الْكِتٰبِ يُدْعَوْنَ اِلٰى كِتٰبِ  اللّٰهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ يَتَوَلّٰى فَرِيْقٌ مِّنْهُمْ وَهُمْ مُّعْرِضُوْنَ
a lam taro ilallaziina uutuu nashiibam minal-kitaabi yud'auna ilaa kitaabillaahi liyahkuma bainahum summa yatawallaa fariiqum min-hum wa hum mu'ridhuun

"Tidakkah engkau memperhatikan orang-orang yang telah diberi bagian Kitab (Taurat)? Mereka diajak (berpegang) pada Kitab Allah untuk memutuskan (perkara) di antara mereka. Kemudian sebagian dari mereka berpaling seraya menolak (kebenaran)."

[24]
ذٰلِكَ بِاَنَّهُمْ قَالُوْا لَنْ تَمَسَّنَا النَّارُ اِلَّاۤ اَيَّامًا مَّعْدُوْدٰتٍ  ۖ  وَّغَرَّهُمْ فِيْ دِيْنِهِمْ مَّا كَانُوْا يَفْتَرُوْنَ
zaalika bi`annahum qooluu lan tamassanan-naaru illaaa ayyaamam ma'duudaatiw wa ghorrohum fii diinihim maa kaanuu yaftaruun

"Hal itu adalah karena mereka <5> berkata, Api neraka tidak akan menyentuh kami kecuali beberapa hari saja. Mereka <5> teperdaya dalam agama mereka oleh apa yang mereka ada-adakan."

[25]
فَكَيْفَ اِذَا جَمَعْنٰهُمْ لِيَوْمٍ لَّا  رَيْبَ فِيْهِ ۗ  وَوُفِّيَتْ كُلُّ نَفْسٍ مَّا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُوْنَ
fa kaifa izaa jama'naahum liyaumil laa roiba fiih, wa wuffiyat kullu nafsim maa kasabat wa hum laa yuzhlamuun

"Bagaimana jika (nanti) mereka Kami kumpulkan pada hari (Kiamat) yang tidak diragukan terjadinya dan kepada setiap diri <7> diberi balasan yang sempurna sesuai dengan apa yang telah dikerjakannya dan mereka <7> tidak dizalimi (dirugikan)?"

[26]
قُلِ اللّٰهُمَّ مٰلِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِى الْمُلْكَ مَنْ تَشَآءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَآءُ ۖ  وَتُعِزُّ مَنْ تَشَآءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَآءُ  ۗ  بِيَدِكَ الْخَيْرُ ۗ  اِنَّكَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
qulillaahumma maalikal-mulki tu`til-mulka man tasyaaa`u wa tanzi'ul-mulka mim man tasyaaa`u wa tu'izzu man tasyaaa`u wa tuzillu man tasyaaa`, biyadikal-khoiir, innaka 'alaa kulli syai`ing qodiir

"Katakanlah (Muhammad), Wahai Tuhan Pemilik kekuasaan, Engkau berikan kekuasaan kepada siapa pun yang Engkau kehendaki, dan Engkau cabut kekuasaan dari siapa pun yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan siapa pun yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan siapa pun yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sungguh, Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu."

[27] *
تُوْلِجُ الَّيْلَ فِى النَّهَارِ وَتُوْلِجُ النَّهَارَ فِى الَّيْلِ وَتُخْرِجُ الْحَـيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَتُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَـيِّ وَتَرْزُقُ مَنْ تَشَآءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ
tuulijul-laila fin-nahaari wa tuulijun-nahaaro fil-laili wa tukhrijul-hayya minal-mayyiti wa tukhrijul-mayyita minal-hayyi wa tarzuqu man tasyaaa`u bighoiri hisaab

"Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan siang ke dalam malam.
Dan Engkau keluarkan yang hidup <7> dari yang mati <5>, dan Engkau keluarkan yang mati <7> dari yang hidup <5>.
Dan Engkau berikan rezeki kepada siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab."

[28]
لَا يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُوْنَ الْكٰفِرِيْنَ اَوْلِيَآءَ مِنْ دُوْنِ الْمُؤْمِنِيْنَ ۚ  وَمَنْ يَّفْعَلْ ذٰلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللّٰهِ فِيْ شَيْءٍ اِلَّاۤ اَنْ تَتَّقُوْا مِنْهُمْ تُقٰٮةً   ۗ  وَيُحَذِّرُكُمُ اللّٰهُ نَفْسَهٗ  ۗ وَاِلَى اللّٰهِ الْمَصِيْرُ
laa yattakhizil-mu`minuunal-kaafiriina auliyaaa`a min duunil-mu`miniin, wa may yaf'al zaalika fa laisa minallohi fii syai`in illaaa an tattaquu min-hum tuqooh, wa yuhazzirukumullohu nafsah, wa ilallohil-mashiir

"Janganlah orang-orang <5> beriman menjadikan orang kafir sebagai pemimpin, melainkan orang-orang beriman. Barang siapa berbuat demikian, niscaya dia tidak akan memperoleh apa pun dari Allah, kecuali karena (siasat) menjaga diri dari sesuatu yang kamu takuti dari mereka.
Dan Allah memperingatkan kamu akan diri-Nya, dan hanya kepada Allah tempat kembali."

[29]
قُلْ اِنْ تُخْفُوْا مَا فِيْ صُدُوْرِكُمْ اَوْ تُبْدُوْهُ يَعْلَمْهُ اللّٰهُ ۗ  وَيَعْلَمُ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِ ۗ  وَاللّٰهُ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
qul in tukhfuu maa fii shuduurikum au tubduuhu ya'lam-hulloh, wa ya'lamu maa fis-samaawaati wa maa fil-ardh, wallohu 'alaa kulli syai`ing qodiir

"Katakanlah, Jika kamu <5> sembunyikan apa yang ada dalam hatimu atau kamu nyatakan, Allah pasti mengetahuinya. Dia mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu."

[30]
يَوْمَ تَجِدُ كُلُّ نَفْسٍ مَّا عَمِلَتْ مِنْ خَيْرٍ مُّحْضَرًا  ۛ  وَمَا عَمِلَتْ مِنْ سُوْٓءٍ  ۛ  تَوَدُّ لَوْ اَنَّ بَيْنَهَا وَبَيْنَهٗۤ اَمَدًاۢ بَعِيْدًا  ۗ  وَيُحَذِّرُكُمُ اللّٰهُ نَفْسَهٗ ۗ  وَاللّٰهُ رَءُوْفٌۢ بِالْعِبَادِ
yauma tajidu kullu nafsim maa 'amilat min khoirim muhdhorow wa maa 'amilat min suuu`, tawaddu lau anna bainahaa wa bainahuuu amadam ba'iidaa, wa yuhazzirukumullohu nafsah, wallohu ro`uufum bil-'ibaad

"Pada hari ketika setiap diri (sejati <7>) mendapatkan (ganjaran) atas kebajikan yang telah dikerjakan (oleh diri<5>nya didunia) dihadirkan (secara nyata berupa cahaya & energi), (begitu pula ganjaran) atas kejahatan yang telah dikerjakan.
Dia berharap sekiranya ada jarak yang jauh antara dia dengan (hari) itu.
Dan Allah mengingatkanmu akan diri-Nya.
Allah Maha Penyayang terhadap hamba-hamba-Nya."

[31]
قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللّٰهَ فَاتَّبِعُوْنِيْ  يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ وَيَغْفِرْ لَـكُمْ ذُنُوْبَكُمْ ۗ  وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
qul ing kuntum tuhibbuunalloha fattabi'uunii yuhbibkumullohu wa yaghfir lakum zunuubakum, wallohu ghofuurur rohiim

"Katakanlah (Muhammad), Jika kamu <5> mencintai Allah, ikutilah (agama/laku) aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang."

[32]
قُلْ اَطِيْعُوا اللّٰهَ وَالرَّسُوْلَ  ۚ  فَاِنْ تَوَلَّوْا فَاِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْكٰفِرِيْنَ
qul athii'ulloha war-rosuul, fa in tawallau fa innalloha laa yuhibbul-kaafiriin

"Katakanlah (Muhammad), Taatilah Allah dan Rasul. Jika kamu <5> berpaling, ketahuilah bahwa Allah tidak menyukai orang-orang kafir."

[33]
اِنَّ اللّٰهَ اصْطَفٰۤى اٰدَمَ وَنُوْحًا وَّاٰلَ اِبْرٰهِيْمَ وَاٰلَ عِمْرٰنَ عَلَى الْعٰلَمِيْنَ
innallohashthofaaa aadama wa nuuhaw wa aala ibroohiima wa aala 'imroona 'alal-'aalamiin

"Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim, dan keluarga Imran melebihi segala umat (pada masa masing-masing),"

[34]
ذُرِّيَّةًۢ بَعْضُهَا مِنْۢ بَعْضٍ ۗ  وَاللّٰهُ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ
zurriyyatam ba'dhuhaa mim ba'dh, wallohu samii'un 'aliim

"(sebagai) satu keturunan, sebagiannya adalah (keturunan) dari sebagian yang lain. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui."

[35]
اِذْ قَالَتِ امْرَاَتُ عِمْرٰنَ رَبِّ اِنِّيْ نَذَرْتُ لَـكَ مَا فِيْ بَطْنِيْ مُحَرَّرًا فَتَقَبَّلْ مِنِّيْ  ۚ  اِنَّكَ اَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ
iz qoolatimro`atu 'imroona robbi innii nazartu laka maa fii bathnii muharroron fa taqobbal minnii, innaka antas-samii'ul-'aliim

"(Ingatlah), ketika istri `Imran berkata, Ya Tuhanku, sesungguhnya aku <5> bernazar kepada-Mu, apa (janin) yang dalam kandunganku (kelak) menjadi hamba yang mengabdi (kepada-Mu), maka terimalah (nazar itu) dariku.
Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui."

[36]
فَلَمَّا وَضَعَتْهَا  قَالَتْ رَبِّ اِنِّيْ وَضَعْتُهَاۤ اُنْثٰى ۗ  وَاللّٰهُ اَعْلَمُ بِمَا وَضَعَتْ ۗ  وَ لَيْسَ الذَّكَرُ كَالْاُنْثٰى ۚ  وَاِنِّيْ سَمَّيْتُهَا مَرْيَمَ وَاِنِّيْۤ اُعِيْذُهَا  بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ الشَّيْطٰنِ الرَّجِيْمِ
fa lammaa wadho'at-haa qoolat robbi innii wadho'tuhaaa unsaa, wallohu a'lamu bimaa wadho'at, wa laisaz-zakaru kal-unsaa, wa innii sammaituhaa maryama wa inniii u'iizuhaa bika wa zurriyyatahaa minasy-syaithoonir-rojiim

"Maka ketika melahirkannya, dia berkata, Ya Tuhanku, aku telah melahirkan anak perempuan. Padahal Allah lebih tahu apa yang dia lahirkan, dan laki-laki tidak sama dengan perempuan. Dan aku memberinya nama Maryam, dan aku mohon perlindungan-Mu untuknya dan anak-cucunya dari (gangguan) setan yang terkutuk."

[37]
فَتَقَبَّلَهَا رَبُّهَا بِقَبُوْلٍ حَسَنٍ وَّاَنْۢبَتَهَا نَبَاتًا حَسَنًا  ۙ  وَّكَفَّلَهَا زَكَرِيَّا  ۗ  كُلَّمَا دَخَلَ عَلَيْهَا زَكَرِيَّا الْمِحْرَابَ ۙ  وَجَدَ عِنْدَهَا رِزْقًا  ۚ  قَالَ يٰمَرْيَمُ اَنّٰى لَـكِ هٰذَا  ۗ  قَالَتْ هُوَ مِنْ عِنْدِ اللّٰهِ ۗ  اِنَّ اللّٰهَ يَرْزُقُ مَنْ يَّشَآءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ
fa taqobbalahaa robbuhaa biqobuulin hasaniw wa ambatahaa nabaatan hasanaw wa kaffalahaa zakariyyaa, kullamaa dakhola 'alaihaa zakariyyal-mihrooba wajada 'indahaa rizqoo, qoola yaa maryamu annaa laki haazaa, qoolat huwa min 'indillaah, innalloha yarzuqu may yasyaaa`u bighoiri hisaab

"Maka Dia (Allah) menerimanya dengan penerimaan yang baik, membesarkannya dengan pertumbuhan yang baik, dan menyerahkan pemeliharaannya kepada Zakaria.
Setiap kali Zakaria masuk menemuinya di mihrab (kamar khusus ibadah), dia dapati makanan di sisinya. Dia berkata, Wahai Maryam! Dari mana ini engkau peroleh? Dia (Maryam) menjawab, Itu dari Allah. Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki tanpa perhitungan"

[38]
هُنَالِكَ دَعَا زَكَرِيَّا رَبَّهٗ  ۚ  قَالَ رَبِّ هَبْ لِيْ مِنْ لَّدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً   ۚ  اِنَّكَ سَمِيْعُ الدُّعَآءِ
hunaalika da'aa zakariyyaa robbah, qoola robbi hab lii mil ladungka zurriyyatan thoyyibah, innaka samii'ud-du'aaa`

"Di sanalah Zakaria berdoa kepada Tuhannya. Dia berkata, Ya Tuhanku, berilah aku keturunan yang baik dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa."

[39]
فَنَادَتْهُ الْمَلٰٓئِكَةُ وَهُوَ قَآئِمٌ يُّصَلِّيْ فِى الْمِحْرَابِ ۙ  اَنَّ اللّٰهَ يُبَشِّرُكَ بِيَحْيٰى مُصَدِّقًۢا بِكَلِمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ وَسَيِّدًا وَّحَصُوْرًا وَّنَبِيًّا مِّنَ الصّٰلِحِيْنَ
fa naadat-hul-malaaa`ikatu wa huwa qooo`imuy yushollii fil-mihroobi annalloha yubasysyiruka biyahyaa mushoddiqom bikalimatim minallohi wa sayyidaw wa hashuurow wa nabiyyam minash-shoolihiin

"Kemudian para malaikat memanggilnya, ketika dia berdiri melaksanakan sholat di mihrab, Allah menyampaikan kabar gembira kepadamu dengan (kelahiran) Yahya, yang membenarkan sebuah kalimat (firman) dari Allah, teladan, berkemampuan menahan diri (dari hawa nafsu), dan seorang nabi <5> di antara orang-orang saleh."

[40]
قَالَ رَبِّ  اَنّٰى يَكُوْنُ لِيْ غُلٰمٌ وَّقَدْ بَلَغَنِيَ الْكِبَرُ وَامْرَاَتِيْ عَاقِرٌ ۗ  قَالَ كَذٰلِكَ اللّٰهُ يَفْعَلُ مَا يَشَآءُ
qoola robbi annaa yakuunu lii ghulaamuw wa qod balaghoniyal-kibaru wamro`atii 'aaqir, qoola kazaalikallohu yaf'alu maa yasyaaa`

"Dia (Zakaria) berkata, Ya Tuhanku, bagaimana aku bisa mendapat anak, sedang aku sudah sangat tua dan istriku pun mandul? Dia (Allah) berfirman, Demikianlah, Allah berbuat apa yang Dia kehendaki."

[41]
قَالَ رَبِّ اجْعَلْ لِّيْۤ اٰيَةً  ۗ  قَالَ اٰيَتُكَ اَ لَّا تُكَلِّمَ النَّاسَ ثَلٰثَةَ اَيَّامٍ اِلَّا رَمْزًا  ۗ  وَاذْكُرْ رَّبَّكَ كَثِيْرًا وَّسَبِّحْ بِالْعَشِيِّ وَالْاِبْكَارِ
qoola robbij'al liii aayah, qoola aayatuka allaa tukalliman-naasa salaasata ayyaamin illaa romzaa, wazkur robbaka kasiirow wa sabbih bil-'asyiyyi wal-ibkaar

"Dia (Zakaria) berkata, Ya Tuhanku, berilah aku suatu tanda. Allah berfirman, Tanda bagimu adalah bahwa engkau tidak berbicara dengan manusia selama tiga hari, kecuali dengan isyarat. Dan sebutlah (nama) Tuhanmu banyak-banyak, dan bertasbihlah (memuji-Nya) pada waktu petang dan pagi hari."

[42]
وَاِذْ قَالَتِ الْمَلٰٓئِكَةُ  يٰمَرْيَمُ اِنَّ اللّٰهَ اصْطَفٰٮكِ وَطَهَّرَكِ وَاصْطَفٰٮكِ عَلٰى  نِسَآءِ الْعٰلَمِيْنَ
wa iz qoolatil-malaaa`ikatu yaa maryamu innallohashthofaaki wa thohharoki washthofaaki 'alaa nisaaa`il-'aalamiin

"Dan (ingatlah) ketika para malaikat berkata, Wahai Maryam! Sesungguhnya Allah telah memilihmu, menyucikanmu, dan melebihkanmu di atas segala perempuan di seluruh alam."

[43]
يٰمَرْيَمُ اقْنُتِيْ لِرَبِّكِ وَاسْجُدِيْ وَارْكَعِيْ  مَعَ الرّٰكِعِيْنَ
yaa maryamuqnutii lirobbiki wasjudii warka'ii ma'ar-rooki'iin

"Wahai Maryam! Taatilah Tuhanmu, sujud dan rukuklah bersama orang-orang yang rukuk."

[44]
ذٰلِكَ مِنْ اَنْۢـبَآءِ الْغَيْبِ نُوْحِيْهِ اِلَيْكَ ۗ  وَمَا كُنْتَ لَدَيْهِمْ اِذْ يُلْقُوْنَ اَقْلَامَهُمْ اَيُّهُمْ يَكْفُلُ مَرْيَمَ ۖ  وَمَا كُنْتَ لَدَيْهِمْ اِذْ يَخْتَصِمُوْنَ
zaalika min ambaaa`il-ghoibi nuuhiihi ilaiik, wa maa kunta ladaihim iz yulquuna aqlaamahum ayyuhum yakfulu maryama wa maa kunta ladaihim iz yakhtashimuun

"Itulah sebagian dari berita-berita gaib yang Kami wahyukan kepadamu (Muhammad), padahal engkau tidak bersama mereka ketika mereka melemparkan pena mereka (untuk mengundi) siapa di antara mereka yang akan memelihara Maryam. Dan engkau pun tidak bersama mereka ketika mereka bertengkar."

[45]
اِذْ قَالَتِ الْمَلٰٓئِكَةُ يٰمَرْيَمُ اِنَّ اللّٰهَ يُبَشِّرُكِ بِكَلِمَةٍ مِّنْهُ  ۖ  اسْمُهُ الْمَسِيْحُ عِيْسَى ابْنُ مَرْيَمَ وَجِيْهًا فِى الدُّنْيَا وَالْاٰخِرَةِ وَمِنَ الْمُقَرَّبِيْنَ
iz qoolatil-malaaa`ikatu yaa maryamu innalloha yubasysyiruki bikalimatim min-husmuhul-masiihu 'iisabnu maryama wajiihan fid-dun-yaa wal-aakhiroti wa minal-muqorrobiin

"(Ingatlah), ketika para malaikat berkata, Wahai Maryam! Sesungguhnya Allah menyampaikan kabar gembira kepadamu tentang sebuah kalimat (firman) dari-Nya (yaitu seorang putra), namanya Al-Masih 'Isa putra Maryam, seorang <5> terkemuka di dunia dan (seorang <7> terkemuka) di akhirat, dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah),"

[46]
وَيُكَلِّمُ النَّاسَ فِى الْمَهْدِ وَكَهْلًا وَّمِنَ الصّٰلِحِيْنَ
wa yukallimun-naasa fil-mahdi wa kahlaw wa minash-shoolihiin

"dan dia <5> berbicara dengan manusia (sewaktu) dalam buaian dan ketika sudah dewasa, dan dia <5> termasuk di antara orang-orang saleh."

[47]
قَالَتْ رَبِّ اَنّٰى يَكُوْنُ لِيْ وَلَدٌ وَّلَمْ يَمْسَسْنِيْ بَشَرٌ  ۗ  قَالَ كَذٰلِكِ اللّٰهُ يَخْلُقُ مَا يَشَآءُ  ۗ  اِذَا قَضٰۤى اَمْرًا فَاِنَّمَا يَقُوْلُ لَهٗ كُنْ فَيَكُوْنُ
qoolat robbi annaa yakuunu lii waladuw wa lam yamsasnii basyar, qoola kazaalikillaahu yakhluqu maa yasyaaa`, izaa qodhooo amron fa innamaa yaquulu lahuu kun fa yakuun

"Dia (Maryam) berkata, Ya Tuhanku, bagaimana mungkin aku akan mempunyai anak, padahal tidak ada seorang laki-laki pun yang menyentuhku? Dia (Allah) berfirman, Demikianlah Allah menciptakan apa yang Dia kehendaki. Apabila Dia hendak menetapkan sesuatu, Dia hanya berkata kepadanya, Jadilah! Maka jadilah sesuatu itu."

[48]
وَيُعَلِّمُهُ الْكِتٰبَ وَالْحِكْمَةَ وَالتَّوْرٰٮةَ وَالْاِنْجِيْلَ
wa yu'allimuhul-kitaaba wal-hikmata wat-tauroota wal-injiil

"Dan Dia (Allah) mengajarkan kepadanya ('Isa) Kitab, Hikmah, Taurat, dan Injil."

[49]
وَرَسُوْلًا اِلٰى بَنِيْۤ اِسْرٰٓءِيْلَ  ۙ  اَنِّيْ قَدْ جِئْتُكُمْ بِاٰيَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ  ۙ  اَنِّيْۤ اَخْلُقُ لَـكُمْ مِّنَ الطِّيْنِ كَهَیْــئَةِ الطَّيْرِ فَاَنْفُخُ فِيْهِ فَيَكُوْنُ طَيْرًاۢ بِاِذْنِ اللّٰهِ ۚ  وَاُبْرِئُ الْاَ كْمَهَ وَالْاَبْرَصَ وَاُحْيِ الْمَوْتٰى بِاِذْنِ اللّٰهِ ۚ  وَ اُنَبِّئُكُمْ بِمَا تَأْكُلُوْنَ وَمَا تَدَّخِرُوْنَ ۙ  فِيْ بُيُوْتِكُمْ ۗ  اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيَةً لَّـكُمْ اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ
wa rosuulan ilaa baniii isrooo`iila annii qod ji`tukum bi`aayatim mir robbikum anniii akhluqu lakum minath-thiini kahai`atith-thoiri fa anfukhu fiihi fa yakuunu thoirom bi`iznillaah, wa ubri`ul-akmaha wal-abrosho wa uhyil-mautaa bi`iznillaah, wa unabbi`ukum bimaa ta`kuluuna wa maa taddakhiruuna fii buyuutikum, inna fii zaalika la`aayatal lakum ing kuntum mu`miniin

"Dan sebagai rasul kepada Bani Israil (dia berkata), Aku <5>telah datang kepada kamu dengan sebuah tanda (mukjizat) dari Tuhanmu, yaitu aku membuatkan bagimu (sesuatu) dari tanah berbentuk seperti burung, lalu aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan izin Allah. Dan aku menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahir dan orang yang berpenyakit kusta. Dan aku menghidupkan orang mati dengan izin Allah, dan aku beri tahukan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat suatu tanda (kebenaran kerasulanku) bagimu, jika kamu orang beriman."

[50]
وَمُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرٰٮةِ وَلِاُحِلَّ لَـكُمْ بَعْضَ الَّذِيْ حُرِّمَ عَلَيْكُمْ وَجِئْتُكُمْ بِاٰيَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ ۗ  فَاتَّقُوْا اللّٰهَ وَاَطِيْعُوْنِ
wa mushoddiqol limaa baina yadayya minat-taurooti wa li`uhilla lakum ba'dhollazii hurrima 'alaikum wa ji`tukum bi`aayatim mir robbikum, fattaqulloha wa athii'uun

"Dan sebagai seorang yang membenarkan Taurat yang datang sebelumku, dan agar aku menghalalkan bagi kamu sebagian dari yang telah diharamkan untukmu. Dan aku datang kepadamu membawa suatu tanda (mukjizat) dari Tuhanmu. Karena itu, bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku."

[51]
اِنَّ اللّٰهَ رَبِّيْ وَرَبُّكُمْ فَاعْبُدُوْهُ  ۗ  هٰذَا صِرَاطٌ مُّسْتَقِيْمٌ
innalloha robbii wa robbukum fa'buduuh, haazaa shiroothum mustaqiim

"Sesungguhnya Allah itu Tuhanku dan Tuhanmu, karena itu sembahlah Dia. Inilah jalan yang lurus."

[52]
فَلَمَّاۤ اَحَسَّ عِيْسٰى مِنْهُمُ  الْكُفْرَ قَالَ مَنْ اَنْصَارِيْۤ اِلَى اللّٰهِ ۗ  قَالَ الْحَـوَارِيُّوْنَ نَحْنُ  اَنْصَارُ اللّٰهِ ۚ  اٰمَنَّا بِاللّٰهِ ۚ  وَاشْهَدْ بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ
fa lammaaa ahassa 'iisaa min-humul-kufro qoola man anshooriii ilalloh, qoolal-hawaariyyuuna nahnu anshoorulloh, aamannaa billaah, wasy-had bi`annaa muslimuun

"Maka ketika 'Isa merasakan keingkaran mereka (Bani Israil), dia berkata, Siapakah yang akan menjadi penolongku untuk (menegakkan agama) Allah? Para hawariyyun (sahabat setianya) menjawab. Kamilah penolong (agama) Allah. Kami <5> beriman kepada Allah, dan saksikanlah, bahwa kami <5> adalah orang-orang muslim."

[53]
رَبَّنَاۤ اٰمَنَّا  بِمَاۤ اَنْزَلْتَ وَاتَّبَعْنَا الرَّسُوْلَ فَاكْتُبْنَا مَعَ الشّٰهِدِيْنَ
robbanaaa aamannaa bimaaa anzalta wattaba'nar-rosuula faktubnaa ma'asy-syaahidiin

"Ya Tuhan kami, kami <5> telah beriman kepada apa yang Engkau turunkan dan kami telah mengikuti Rasul, karena itu tetapkanlah kami <7> bersama golongan orang yang memberikan kesaksian."

[54]
وَمَكَرُوْا وَمَكَرَاللّٰهُ  ۗ  وَاللّٰهُ خَيْرُ الْمَاكِرِيْنَ
wa makaruu wa makarollaah, wallohu khoirul-maakiriin

"Dan mereka <5> (orang-orang kafir) membuat tipu daya, maka Allah pun membalas tipu daya. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya."

[55]
اِذْ قَالَ اللّٰهُ يٰعِيْسٰۤى اِنِّيْ مُتَوَفِّيْكَ وَرَافِعُكَ اِلَيَّ وَمُطَهِّرُكَ مِنَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا وَجَاعِلُ الَّذِيْنَ اتَّبَعُوْكَ فَوْقَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْۤا اِلٰى يَوْمِ الْقِيٰمَةِ  ۚ  ثُمَّ اِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَاَحْكُمُ بَيْنَكُمْ فِيْمَا كُنْتُمْ فِيْهِ تَخْتَلِفُوْنَ
iz qoolallohu yaa 'iisaaa innii mutawaffiika wa roofi'uka ilayya wa muthohhiruka minallaziina kafaruu wa jaa'ilullaziinattaba'uuka fauqollaziina kafaruuu ilaa yaumil-qiyaamah, summa ilayya marji'ukum fa ahkumu bainakum fiimaa kuntum fiihi takhtalifuun

"(Ingatlah), ketika Allah berfirman, Wahai 'Isa! Aku mengambilmu dan mengangkat <7>mu kepada-Ku, serta menyucikan <7>mu dari orang-orang yang kafir, dan menjadikan orang-orang <7> yang mengikutimu di atas orang-orang yang kafir hingga hari Kiamat. Kemudian kepada-Ku engkau <7> kembali, lalu Aku beri keputusan tentang apa yang kamu perselisihkan."

[56]
فَاَمَّا الَّذِيْنَ كَفَرُوْا فَاُعَذِّبُهُمْ عَذَابًا شَدِيْدًا فِى الدُّنْيَا وَالْاٰخِرَةِ ۖ  وَمَا لَهُمْ مِّنْ نّٰصِرِيْنَ
fa ammallaziina kafaruu fa u'azzibuhum 'azaaban syadiidan fid-dun-yaa wal-aakhiroti wa maa lahum min naashiriin

"Maka adapun orang-orang yang kafir, maka akan Aku azab mereka <7> dengan azab yang sangat keras di dunia dan di akhirat, sedang mereka tidak memperoleh penolong."

[57]
وَاَمَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ فَيُوَفِّيْهِمْ اُجُوْرَهُمْ ۗ  وَ اللّٰهُ لَا يُحِبُّ الظّٰلِمِيْنَ
wa ammallaziina aamanuu wa 'amilush-shoolihaati fa yuwaffiihim ujuurohum, wallohu laa yuhibbuzh-zhoolimiin

"Dan adapun orang yang beriman <5> dan melakukan kebajikan, maka Dia akan memberikan pahala kepada mereka <7> dengan sempurna. Dan Allah tidak menyukai orang zalim."

[58]
ذٰلِكَ نَـتْلُوْهُ عَلَيْكَ مِنَ الْاٰيٰتِ وَ الذِّكْرِ الْحَكِيْمِ
zaalika natluuhu 'alaika minal-aayaati waz-zikril-hakiim

"Demikianlah Kami bacakan kepadamu (Muhammad) sebagian ayat-ayat dan peringatan yang penuh hikmah."

[59]
اِنَّ مَثَلَ عِيْسٰى عِنْدَ اللّٰهِ كَمَثَلِ اٰدَمَ ۗ  خَلَقَهٗ  مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ قَالَ لَهٗ كُنْ فَيَكُوْنُ
inna masala 'iisaa 'indallohi kamasali aadam, kholaqohuu min turoobin summa qoola lahuu kun fa yakuun

"Sesungguhnya perumpamaan (penciptaan) 'Isa bagi Allah, seperti (penciptaan) Adam. Dia menciptakannya dari tanah, kemudian Dia berkata kepadanya, Jadilah! Maka jadilah sesuatu itu."

[60]
اَلْحَـقُّ مِنْ رَّبِّكَ فَلَا  تَكُنْ مِّنَ الْمُمْتَرِيْنَ
al-haqqu mir robbika fa laa takum minal-mumtariin

"Kebenaran itu dari Tuhanmu, karena itu janganlah engkau (Muhammad) termasuk orang-orang yang ragu."

[61]
فَمَنْ حَآ جَّكَ فِيْهِ مِنْۢ بَعْدِ مَا جَآءَكَ  مِنَ الْعِلْمِ فَقُلْ تَعَالَوْا نَدْعُ اَبْنَآءَنَا وَاَبْنَآءَكُمْ وَنِسَآءَنَا  وَنِسَآءَكُمْ وَاَنْفُسَنَا وَاَنْفُسَكُمْ  ۗ  ثُمَّ نَبْتَهِلْ فَنَجْعَلْ لَّعْنَتَ اللّٰهِ  عَلَى الْكٰذِبِيْنَ
fa man haaajjaka fiihi mim ba'di maa jaaa`aka minal-'ilmi fa qul ta'aalau nad'u abnaaa`anaa wa abnaaa`akum wa nisaaa`anaa wa nisaaa`akum wa anfusanaa wa anfusakum, summa nabtahil fa naj'al la'natallohi 'alal-kaazibiin

"Siapa yang membantahmu dalam hal ini setelah engkau memperoleh ilmu, katakanlah (Muhammad), Marilah kita panggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, istri-istri kami dan istri-istrimu, kami sendiri dan kamu juga, kemudian marilah kita bermubahalah agar laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta."

[62]
اِنَّ هٰذَا لَهُوَ الْقَصَصُ الْحَـقُّ  ۚ  وَمَا مِنْ  اِلٰهٍ اِلَّا اللّٰهُ ۗ  وَاِنَّ اللّٰهَ لَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
inna haazaa lahuwal-qoshoshul-haqq, wa maa min ilaahin illalloh, wa innalloha lahuwal-'aziizul-hakiim

"Sungguh, ini adalah kisah yang benar. Tidak ada tuhan selain Allah, dan sungguh, Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana."

[63]
فَاِنْ تَوَلَّوْا فَاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌۢ بِالْمُفْسِدِيْنَ
fa in tawallau fa innalloha 'aliimum bil-mufsidiin

"Kemudian jika mereka berpaling, maka (ketahuilah) bahwa Allah Maha Mengetahui orang-orang yang berbuat kerusakan."

[64]
قُلْ يٰۤـاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَآءٍۢ بَيْنَـنَا وَبَيْنَكُمْ اَ لَّا نَـعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْــئًا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ  فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ
qul yaaa ahlal-kitaabi ta'aalau ilaa kalimatin sawaaa`im bainanaa wa bainakum allaa na'buda illalloha wa laa nusyrika bihii syai`aw wa laa yattakhiza ba'dhunaa ba'dhon arbaabam min duunillaah, fa in tawallau fa quulusy-haduu bi`annaa muslimuun

"Katakanlah (Muhammad), Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama yang lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling, maka katakanlah (kepada mereka), Saksikanlah, bahwa kami adalah orang muslim."

[65]
يٰۤـاَهْلَ الْكِتٰبِ لِمَ تُحَآ جُّوْنَ فِيْۤ اِبْرٰهِيْمَ وَمَاۤ اُنْزِلَتِ التَّوْرٰٮةُ وَالْاِنْجِيْلُ اِلَّا مِنْۢ بَعْدِهٖ ۗ  اَفَلَا تَعْقِلُوْنَ
yaaa ahlal-kitaabi lima tuhaaajjuuna fiii ibroohiima wa maaa unzilatit-taurootu wal-injiilu illaa mim ba'dih, a fa laa ta'qiluun

"Wahai Ahli Kitab! Mengapa kamu berbantah-bantahan tentang Ibrahim, padahal Taurat dan Injil diturunkan setelah dia (Ibrahim)? Apakah kamu tidak mengerti?"

[66]
هٰۤاَنْـتُمْ هٰۤؤُلَآ ءِ حٰجَجْتُمْ فِيْمَا لَـكُمْ بِهٖ عِلْمٌ فَلِمَ تُحَآ جُّوْنَ فِيْمَا لَـيْسَ لَـكُمْ بِهٖ عِلْمٌ ۗ  وَاللّٰهُ يَعْلَمُ وَاَنْـتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ
haaa`antum haaa`ulaaa`i haajajtum fiimaa lakum bihii 'ilmun fa lima tuhaaajjuuna fiimaa laisa lakum bihii 'ilm, wallohu ya'lamu wa antum laa ta'lamuun

"Begitulah kamu! Kamu <5> berbantah-bantahan tentang apa yang kamu ketahui, tetapi mengapa kamu berbantah-bantahan juga tentang apa yang tidak kamu ketahui? Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui."

[67]
مَا كَانَ اِبْرٰهِيْمُ يَهُوْدِيًّا وَّلَا نَصْرَانِيًّا وَّ لٰكِنْ كَانَ حَنِيْفًا مُّسْلِمًا  ۗ  وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ
maa kaana ibroohiimu yahuudiyyaw wa laa nashrooniyyaw wa laaking kaana haniifam muslimaa, wa maa kaana minal-musyrikiin

"Ibrahim bukanlah seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, tetapi dia adalah seorang yang lurus, muslim, dan dia tidaklah termasuk orang-orang musyrik."

[68]
اِنَّ اَوْلَى النَّاسِ بِاِبْرٰهِيْمَ لَـلَّذِيْنَ اتَّبَعُوْهُ وَهٰذَا النَّبِيُّ وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا  ۗ  وَاللّٰهُ وَلِيُّ الْمُؤْمِنِيْنَ
inna aulan-naasi bi`ibroohiima lallaziinattaba'uuhu wa haazan-nabiyyu wallaziina aamanuu, wallohu waliyyul-mu`miniin

"Orang yang paling dekat kepada Ibrahim ialah orang yang mengikutinya, dan Nabi ini (Muhammad), dan orang yang beriman. Allah adalah pelindung orang-orang yang beriman."

[69]
وَدَّتْ طَّآئِفَةٌ مِّنْ اَهْلِ الْكِتٰبِ لَوْ يُضِلُّوْنَكُم ۗ ْ  وَمَا يُضِلُّوْنَ اِلَّاۤ اَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُوْنَ
waddath thooo`ifatum min ahlil-kitaabi lau yudhilluunakum, wa maa yudhilluuna illaaa anfusahum wa maa yasy'uruun

"Segolongan Ahli Kitab ingin menyesatkan kamu. Padahal (sesungguhnya), mereka <5> tidak menyesatkan melainkan diri <7> mereka sendiri, tetapi mereka <5> tidak menyadari."

[70]
يٰۤـاَهْلَ الْكِتٰبِ لِمَ تَكْفُرُوْنَ بِاٰيٰتِ اللّٰهِ وَاَنْـتُمْ تَشْهَدُوْنَ
yaaa ahlal-kitaabi lima takfuruuna bi`aayaatillaahi wa antum tasy-haduun

"Wahai Ahli Kitab! Mengapa kamu mengingkari ayat-ayat Allah, padahal kamu mengetahui (kebenarannya)?"

[71]
يٰۤـاَهْلَ الْكِتٰبِ لِمَ تَلْبِسُوْنَ الْحَـقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوْنَ الْحَـقَّ وَاَنْـتُمْ تَعْلَمُوْنَ
yaaa ahlal-kitaabi lima talbisuunal-haqqo bil-baathili wa taktumuunal-haqqo wa antum ta'lamuun

"Wahai Ahli Kitab! Mengapa kamu <5> mencampuradukkan kebenaran dengan kebatilan, dan kamu menyembunyikan kebenaran, padahal kamu mengetahui?"

[72]
وَقَالَتْ طَّآئِفَةٌ مِّنْ اَهْلِ الْكِتٰبِ اٰمِنُوْا بِالَّذِيْۤ اُنْزِلَ عَلَى الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَجْهَ النَّهَارِ وَاكْفُرُوْۤا اٰخِرَهٗ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ
wa qoolath thooo`ifatum min ahlil-kitaabi aaminuu billaziii unzila 'alallaziina aamanuu waj-han-nahaari wakfuruuu aakhirohuu la'allahum yarji'uun

"Dan segolongan Ahli Kitab berkata (kepada sesamanya), Berimanlah kamu kepada apa yang diturunkan kepada orang-orang beriman pada awal siang dan ingkarilah di akhirnya, agar mereka kembali (kepada kekafiran)."

[73]
وَلَا تُؤْمِنُوْۤا اِلَّا لِمَنْ تَبِعَ دِيْنَكُمْ ۗ  قُلْ اِنَّ الْهُدٰى هُدَى اللّٰهِ ۙ  اَنْ يُّؤْتٰۤى اَحَدٌ مِّثْلَ مَاۤ اُوْتِيْتُمْ اَوْ يُحَآ جُّوْكُمْ عِنْدَ رَبِّكُمْ ۗ  قُلْ اِنَّ الْفَضْلَ بِيَدِ اللّٰهِ ۚ  يُؤْتِيْهِ مَنْ يَّشَآءُ  ۗ  وَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ
wa laa tu`minuuu illaa liman tabi'a diinakum, qul innal-hudaa hudallohi ay yu`taaa ahadum misla maaa uutiitum au yuhaaajjuukum 'inda robbikum, qul innal-fadhla biyadillaah, yu`tiihi may yasyaaa`, wallohu waasi'un 'aliim

"Dan janganlah kamu percaya selain kepada orang yang mengikuti agamamu. Katakanlah (Muhammad), Sesungguhnya petunjuk itu hanyalah petunjuk Allah. (Janganlah kamu percaya) bahwa seseorang akan diberi seperti apa yang diberikan kepada kamu, atau bahwa mereka akan menyanggah kamu di hadapan Tuhanmu. Katakanlah (Muhammad), Sesungguhnya karunia itu di tangan Allah, Dia memberikannya kepada siapa yang Dia kehendaki. Allah Maha Luas, Maha Mengetahui."

[74]
يَّخْتَصُّ بِرَحْمَتِهٖ مَنْ يَّشَآءُ  ۗ  وَاللّٰهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيْمِ
yakhtashshu birohmatihii may yasyaaa`, wallohu zul-fadhlil-'azhiim

"Dia menentukan rahmat-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah memiliki karunia yang besar."

[75]
وَمِنْ اَهْلِ الْكِتٰبِ مَنْ اِنْ تَأْمَنْهُ بِقِنْطَارٍ يُّؤَدِّهٖۤ اِلَيْكَ ۚ  وَمِنْهُمْ مَّنْ اِنْ تَأْمَنْهُ بِدِيْنَارٍ لَّا يُؤَدِّهٖۤ اِلَيْكَ اِلَّا مَا دُمْتَ عَلَيْهِ قَآئِمًا  ۗ  ذٰلِكَ بِاَنَّهُمْ قَالُوْا لَيْسَ عَلَيْنَا فِيْ الْاُمِّيّٖنَ سَبِيْلٌ ۚ  وَيَقُوْلُوْنَ عَلَى اللّٰهِ الْكَذِبَ وَ هُمْ يَعْلَمُوْنَ
wa min ahlil-kitaabi man in ta`man-hu biqinthooriy yu`addihiii ilaiik, wa min-hum man in ta`man-hu bidiinaaril laa yu`addihiii ilaika illaa maa dumta 'alaihi qooo`imaa, zaalika bi`annahum qooluu laisa 'alainaa fil-ummiyyiina sabiil, wa yaquuluuna 'alallohil-kaziba wa hum ya'lamuun

"Dan di antara Ahli Kitab ada yang jika engkau percayakan kepadanya harta yang banyak, niscaya dia mengembalikan kepadamu. Tetapi ada (pula) di antara mereka yang jika engkau percayakan kepadanya satu dinar, dia tidak mengembalikannya kepadamu, kecuali jika engkau selalu menagihnya. Yang demikian itu disebabkan mereka berkata, Tidak ada dosa bagi kami terhadap orang-orang yang buta huruf. Mereka mengatakan hal yang dusta terhadap Allah, padahal mereka mengetahui."

[76]
بَلٰى مَنْ اَوْفٰى بِعَهْدِهٖ وَاتَّقٰى فَاِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَّقِيْنَ
balaa man aufaa bi'ahdihii wattaqoo fa innalloha yuhibbul-muttaqiin

"Sebenarnya barang siapa menepati janji dan bertakwa, maka sungguh, Allah mencintai orang-orang yang bertakwa."

[77]
اِنَّ الَّذِيْنَ يَشْتَرُوْنَ بِعَهْدِ اللّٰهِ وَاَيْمَانِهِمْ ثَمَنًا قَلِيْلًا اُولٰٓئِكَ لَا خَلَاقَ لَهُمْ فِى الْاٰخِرَةِ وَلَا يُكَلِّمُهُمُ اللّٰهُ وَلَا يَنْظُرُ اِلَيْهِمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ وَلَا يُزَكِّيْهِمْ ۖ  وَلَهُمْ عَذَابٌ اَ لِيْمٌ
innallaziina yasytaruuna bi'ahdillaahi wa aimaanihim samanang qoliilan ulaaa`ika laa kholaaqo lahum fil-aakhiroti wa laa yukallimuhumullohu wa laa yanzhuru ilaihim yaumal-qiyaamati wa laa yuzakkiihim wa lahum 'azaabun aliim

"Sesungguhnya orang-orang <5> yang memperjualbelikan janji Allah (menjanjikan surga dll. guna mendapatkan uang) dan sumpah-sumpah mereka dengan harga murah, mereka <7> itu tidak memperoleh bagian di akhirat, Allah tidak akan menyapa mereka, tidak akan memperhatikan mereka <7> pada hari Kiamat, dan tidak akan menyucikan mereka <5&7>. Bagi mereka <7> azab yang pedih."

[78]
وَاِنَّ مِنْهُمْ لَـفَرِيْقًا يَّلْوٗنَ اَلْسِنَتَهُمْ بِالْكِتٰبِ لِتَحْسَبُوْهُ مِنَ الْكِتٰبِ وَمَا هُوَ مِنَ الْكِتٰبِ ۚ  وَيَقُوْلُوْنَ هُوَ مِنْ عِنْدِ اللّٰهِ وَمَا هُوَ مِنْ عِنْدِ اللّٰهِ ۚ  وَيَقُوْلُوْنَ عَلَى اللّٰهِ الْكَذِبَ وَ هُمْ يَعْلَمُوْنَ
wa inna min-hum lafariiqoy yalwuuna alsinatahum bil-kitaabi litahsabuuhu minal-kitaabi wa maa huwa minal-kitaab, wa yaquuluuna huwa min 'indillaahi wa maa huwa min 'indillaah, wa yaquuluuna 'alallohil-kaziba wa hum ya'lamuun

"Dan sungguh, di antara mereka <5> niscaya ada segolongan yang memutarbalikkan lidahnya membaca kitab, agar kamu menyangka (yang mereka baca) itu sebagian dari Kitab, padahal itu bukan dari Kitab dan mereka berkata, Itu dari Allah, padahal itu bukan dari Allah. Mereka mengatakan hal yang dusta terhadap Allah, padahal mereka mengetahui."

[79]
مَا كَانَ لِبَشَرٍ اَنْ يُّؤْتِيَهُ اللّٰهُ الْكِتٰبَ  وَالْحُكْمَ وَالنُّبُوَّةَ ثُمَّ يَقُوْلَ لِلنَّاسِ كُوْنُوْا عِبَادًا لِّيْ مِنْ  دُوْنِ اللّٰهِ وَلٰـكِنْ كُوْنُوْا رَبَّانِيّٖنَ بِمَا كُنْتُمْ تُعَلِّمُوْنَ الْكِتٰبَ  وَبِمَا كُنْتُمْ تَدْرُسُوْنَ
maa kaana libasyarin ay yu`tiyahullohul-kitaaba wal-hukma wan-nubuwwata summa yaquula lin-naasi kuunuu 'ibaadal lii min duunillaahi wa laaking kuunuu robbaaniyyiina bimaa kuntum tu'allimuunal-kitaaba wa bimaa kuntum tadrusuun

"Tidak mungkin bagi seseorang yang telah diberi kitab oleh Allah, serta hikmah dan kenabian, kemudian dia berkata kepada manusia, Jadilah kamu penyembahku, bukan penyembah Allah, tetapi (dia berkata), Jadilah kamu pengabdi-pengabdi Allah, karena kamu mengajarkan Kitab dan karena kamu mempelajarinya!"

[80]
وَلَا يَأْمُرَكُمْ اَنْ تَتَّخِذُوا الْمَلٰٓئِكَةَ وَالنَّبِيّٖنَ اَرْبَابًا  ۗ  اَيَأْمُرُكُمْ بِالْكُفْرِ بَعْدَ اِذْ اَنْـتُمْ مُّسْلِمُوْنَ
wa laa ya`murokum an tattakhizul-malaaa`ikata wan-nabiyyiina arbaabaa, a ya`murukum bil-kufri ba'da iz antum muslimuun

"Dan tidak (mungkin pula baginya) menyuruh kamu menjadikan para malaikat dan para nabi sebagai Tuhan. 
Apakah dia (patut) menyuruh kamu menjadi kafir setelah kamu menjadi muslim?"

[81]
وَاِذْ اَخَذَ اللّٰهُ مِيْثَاقَ النَّبِيّٖنَ لَمَاۤ اٰتَيْتُكُمْ مِّنْ كِتٰبٍ وَّحِكْمَةٍ ثُمَّ جَآءَكُمْ رَسُوْلٌ مُّصَدِّقٌ لِّمَا مَعَكُمْ لَـتُؤْمِنُنَّ بِهٖ وَلَـتَـنْصُرُنَّهٗ  ۗ  قَالَ ءَاَقْرَرْتُمْ وَاَخَذْتُمْ عَلٰى ذٰ لِكُمْ اِصْرِيْ ۗ  قَالُوْۤا اَقْرَرْنَا  ۗ  قَالَ فَاشْهَدُوْا وَاَنَاۡ مَعَكُمْ مِّنَ الشّٰهِدِيْنَ
wa iz akhozallohu miisaaqon-nabiyyiina lamaaa aataitukum ming kitaabiw wa hikmatin summa jaaa`akum rosuulum mushoddiqul limaa ma'akum latu`minunna bihii wa latanshurunnah, qoola a aqrortum wa akhoztum 'alaa zaalikum ishrii, qooluuu aqrornaa, qoola fasy-haduu wa ana ma'akum minasy-syaahidiin

"Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi, Manakala Aku memberikan Kitab dan Hikmah kepadamu, lalu datang kepada kamu seorang rasul yang membenarkan apa yang ada pada kamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya.
Allah berfirman, Apakah kamu setuju dan menerima perjanjian dengan-Ku atas yang demikian itu?
Mereka menjawab, Kami setuju.
Allah berfirman, Kalau begitu bersaksilah kamu (para nabi) dan Aku menjadi saksi bersama kamu."

[82]
فَمَنْ تَوَلّٰى بَعْدَ ذٰلِكَ فَاُولٰٓئِكَ هُمُ الْفٰسِقُوْنَ
fa man tawallaa ba'da zaalika fa ulaaa`ika humul-faasiquun

"Maka barang siapa berpaling setelah itu, maka mereka <5> itulah orang yang fasik."

[83]
اَفَغَيْرَ دِيْنِ اللّٰهِ يَبْغُوْنَ وَلَهٗۤ اَسْلَمَ مَنْ فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ طَوْعًا وَّكَرْهًا وَّاِلَيْهِ يُرْجَعُوْنَ
a fa ghoiro diinillaahi yabghuuna wa lahuuu aslama man fis-samaawaati wal-ardhi thou'aw wa kar-haw wa ilaihi yurja'uun

"Maka mengapa mereka <5> mencari agama yang lain selain agama Allah, padahal apa yang di langit dan di bumi berserah diri kepada-Nya, (baik) dengan suka maupun terpaksa, dan hanya kepada-Nya mereka dikembalikan?"

Iqro' :
Agama : Laku kita didunia
Agama Allah : Laku kita didunia senantiasa                 patuh kepada Allah.

[84]
قُلْ اٰمَنَّا بِاللّٰهِ وَمَاۤ اُنْزِلَ عَلَيْنَا وَمَاۤ اُنْزِلَ عَلٰۤى اِبْرٰهِيْمَ وَ اِسْمٰعِيْلَ وَاِسْحٰقَ وَيَعْقُوْبَ وَالْاَسْبَاطِ وَمَاۤ اُوْتِيَ مُوْسٰى وَ عِيْسٰى وَالنَّبِيُّوْنَ مِنْ رَّبِّهِمْ ۖ  لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ اَحَدٍ مِّنْهُمْ ۖ  وَنَحْنُ لَهٗ مُسْلِمُوْنَ
qul aamannaa billaahi wa maaa unzila 'alainaa wa maaa unzila 'alaaa ibroohiima wa ismaa'iila wa is-haaqo wa ya'quuba wal-asbaathi wa maaa uutiya muusaa wa 'iisaa wan-nabiyyuuna mir robbihim laa nufarriqu baina ahadim min-hum wa nahnu lahuu muslimuun

"Katakanlah (Muhammad) : Kami <5> beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya'qub, dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa, Isa, dan para nabi dari Tuhan mereka. Kami <5> tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka dan hanya kepada-Nya kami <5> berserah diri".

[85]
وَمَنْ يَّبْتَغِ غَيْرَ الْاِسْلَامِ دِيْنًا فَلَنْ يُّقْبَلَ مِنْهُ  ۚ  وَهُوَ فِى الْاٰخِرَةِ مِنَ الْخٰسِرِيْنَ
wa may yabtaghi ghoirol-islaami diinan fa lay yuqbala min-h, wa huwa fil-aakhiroti minal-khoosiriin

"Dan barang siapa mencari agama selain Islam, dia tidak akan diterima (disisi Allah), dan di akhirat dia termasuk orang yang rugi."

Iqro' :
Agama : Laku kita didunia
Islam   : patuh yang sempurna kepada Allah

[86]
كَيْفَ يَهْدِى اللّٰهُ قَوْمًا كَفَرُوْا بَعْدَ اِيْمَانِهِمْ وَشَهِدُوْۤا اَنَّ الرَّسُوْلَ حَقٌّ وَّجَآءَهُمُ الْبَيِّنٰتُ ۗ  وَاللّٰهُ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الظّٰلِمِيْنَ
kaifa yahdillaahu qoumang kafaruu ba'da iimaanihim wa syahiduuu annar-rosuula haqquw wa jaaa`ahumul-bayyinaat, wallohu laa yahdil-qoumazh-zhoolimiin

"Bagaimana Allah akan memberi petunjuk kepada suatu kaum yang kafir setelah mereka <5> beriman, serta mengakui bahwa Rasul (Muhammad) itu benar-benar (rasul), dan bukti-bukti yang jelas telah sampai kepada mereka <5>?
Allah tidak memberi petunjuk kepada orang zalim.

[87]
اُولٰٓئِكَ جَزَآ ؤُهُمْ  اَنَّ عَلَيْهِمْ لَعْنَةَ اللّٰهِ وَالْمَلٰٓئِكَةِ وَالنَّاسِ اَجْمَعِيْنَ
ulaaa`ika jazaaa`uhum anna 'alaihim la'natallohi wal-malaaa`ikati wan-naasi ajma'iin

"Mereka <5> itu, balasannya ialah (diri-sejati<7\>nya) ditimpa laknat Allah, para malaikat, dan manusia seluruhnya,"

[88]
خٰلِدِيْنَ فِيْهَا  ۚ  لَا يُخَفَّفُ عَنْهُمُ الْعَذَابُ وَلَا هُمْ يُنْظَرُوْنَ
khoolidiina fiihaa, laa yukhoffafu 'an-humul-'azaabu wa laa hum yunzhoruun

"mereka <7> kekal di dalamnya, tidak akan diringankan azabnya, dan mereka <7> tidak diberi penangguhan (di akhirat langsung tersiksa....tak perlu menunggu kiamat),"

[89]
اِلَّا الَّذِيْنَ تَابُوْا مِنْۢ بَعْدِ ذٰلِكَ وَاَصْلَحُوْا  ۗ  فَاِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
illallaziina taabuu mim ba'di zaalika wa ashlahuu, fa innalloha ghofuurur rohiim

"kecuali orang-orang yang bertobat setelah itu, dan melakukan perbaikan, maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang."

[90]
اِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا بَعْدَ اِيْمَانِهِمْ ثُمَّ ازْدَادُوْا كُفْرًا لَّنْ تُقْبَلَ تَوْبَتُهُمْ ۚ  وَاُولٰٓئِكَ هُمُ الضَّاۤ لُّوْنَ
innallaziina kafaruu ba'da iimaanihim summazdaaduu kufrol lan tuqbala taubatuhum, wa ulaaa`ika humudh-dhooolluun

"Sungguh, orang-orang <7> yang kafir setelah beriman, kemudian bertambah kekafirannya, tidak akan diterima tobatnya, dan mereka <7> itulah orang-orang yang tersesat".

[91]
اِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا وَمَاتُوْا وَهُمْ كُفَّارٌ فَلَنْ يُّقْبَلَ مِنْ اَحَدِهِمْ مِّلْءُ الْاَرْضِ ذَهَبًا وَّلَوِ افْتَدٰى بِهٖ  ۗ  اُولٰٓئِكَ لَـهُمْ عَذَابٌ اَلِـيْمٌ ۙ  وَّمَا لَـهُمْ مِّــنْ نّٰصِــرِيْنَ
innallaziina kafaruu wa maatuu wa hum kuffaarun fa lay yuqbala min ahadihim mil`ul-ardhi zahabaw wa lawiftadaa bih, ulaaa`ika lahum 'azaabun aliimuw wa maa lahum min naashiriin

"Sungguh, orang-orang <5> yang kafir dan mati dalam kekafiran, tidak akan diterima (tebusan) dari seseorang di antara mereka sekalipun (berupa) emas sepenuh bumi, sekiranya dia hendak menebus diri dengannya.
Mereka itulah orang-orang <7> yang (di akhirat) mendapat azab yang pedih dan tidak memperoleh penolong."

.
Lanjut ke JUZ 4 >>
.