_______________________________
< Mekah > < 7 ayat >
[1]
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
bismillaahir-rohmaanir-rohiim
"Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang."
Iqro' (perenungan) :
Allah sebagai pencipta Alam Semesta ini memberikan amanat kepada diri-manusia untuk menjadi khalifah-khalifah dimuka bumi, oleh sebab itu setiap diri-manusia mengemban tugas sebagai pemimpin/manajer/penjaga kehidupan dimuka bumi ini.
Baik menjadi manajer bagi dirinya sendiri, keluarga, lingkungan bahkan dalam skala lebih besar lagi.
Karena mendapat amanat dari Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang...., maka setiap langkah kita harus senantiasa mengedepankan kasih-sayang (welas-asih) kepada sesama manusia, mahluk hidup lainnya dan alam semesta.
Kasih-sayang adalah akar dari segala kebaikan.
Skala terkecil dari kasih-sayang adalah: tidak membenci sesama manusia dan semua mahluk ciptaan Allah serta tidak merusak bumi dan alam semesta.
Karena ketentraman kehidupan kita dan dunia berperan penting dalam proses 'merenda Hari-Kemudian' yang baik dan bercahaya.
[2]
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
al-hamdu lillaahi robbil-'aalamiin
"Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam."
Iqro' :
Hakekatnya tanpa ijinNya....kita tidak mungkin mampu berbuat kebajikan untuk diri kita sendiri, sesama dan lingkungan kita setiap harinya.
Alhamdulillah....setiap pagi hari saat kita terbangun dari tidur..., kita patut bersyukur karena masih diijinkan untuk hidup didunia sehingga masih dapat melanjutkan 'merenda' keberdayaan di hari-kemudian....agar lebih bercahaya dan berenergi.
"Allah menggenggam diri<5> (seseorang) pada saat kematiannya dan diri<5> (seseorang) yang belum mati diwaktu tidurnya; maka Dia tahan diri<5> (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia lepaskan diri<5> yang lain sampai waktu yang ditentukan.
Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran) Allah bagi kaum yang berpikir."
(Az-Zumar 39: 42)
[3]
الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
ar-rohmaanir-rohiim
"Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang."
Iqro' :
Tak henti-hentinya kasih-sayang Allah yang dicurahkan kepada kita...., dari Diri-Sejati kita yang diberi tempat di surga...kemudian harus turun kebumi....lalu diciptakanlah Diri-Ini dan alam dunia ini...., sampai akhirnya Diri-Ini diwafatkan....kemudian kita dihidupkan kembali sebagai Diri-Sejati untuk 'memulai' kehidupan yang sejati (yang sebenarnya) di akhirat.
Dalam kehidupan-sejati di akhiratpun kasih-sayangNya masih tetap tercurah....
Seandainya kita setelah menjadi Diri-Sejati ternyata masih belum mampu kembali ke Surga Pertama (I)....kita masih diberi kesempatan untuk bisa kembali ke Surga Kedua (II) pada saat kiamat nanti....dengan sarat tatkala hidup didunia kita beriman kepadaNya & Hari-Kemudian serta berbuat kebajikan....sehingga di akhirat kita tidak termasuk golongan yang dimurkai dan 'terkubur & terhimpit' bumi, tapi paling tidak kita mampu menjadi 'golongan pertengahan' yang ada di atmosfer dan Al A'raf....serta kita sebagai diri-sejati<7> masih diberi kesempatan untuk bertakwa dan diampuni sampai kiamat tiba....untuk dihisab kemudian diridhoiNya memasuki Surga II.
Dan bagi siapa yang takut akan saat menghadap Tuhannya ada dua surga (1 untuk manusia & 1 untuk jin...., sekarang ini sudah ada, diperuntukan bagi orang-orang yang telah diberi nikmat...1:7), maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?
Dan selain dari dua surga itu ada dua surga lagi (1 ut manusia & 1 ut jin..., terbentuk nanti setelah kiamat, diperuntukan bagi 'golongan-kanan'...56:8,27), maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?
(Ar-Rahman 55: 46-47, 62-63)
[4]
مٰلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ
maaliki yaumid-diin
"Raja di Hari-Agama."
Iqro' :
Agama adalah: Laku kita didunia....
Apapun laku kita didunia ini....itulah agama kita.
Jadi tidak ada orang yang tidak beragama..., termasuk orang kafir....agama orang kafir....ya kafir itu, ini dijelaskan pada surat Al Kafirun :
'lakum diinukum wa liya diin'....Untukmu agamamu, dan untukku agamaku'.
Hari-Agama (yaumid-diin) :
Hari dimana laku kita didunia 'dibuka' dan menjadi nyata...., saat itu Diri-Ini<5> telah mati dan kita sudah menjadi Diri-Sejati<7>.....dan berada di Alam yang sejati yaitu: akhirat.
Agama kita menjadi nyata dan terekspresi di Diri kita (yang sudah menjadi Diri-Sejati<7>) dan maqom kita (tempat / kedudukan).
Di Diri-kita terekspresi dalam pakaian, cahaya, energi dan kecerdasan kita.
Sedangkan tempat keberadaan kita terbagi dalam 3 maqom utama....lihat 1:7.
Dan tidaklah sama orang yang buta dengan orang yang melihat,
dan tidak (pula) sama gelap gulita dengan cahaya,
dan tidak (pula) sama yang teduh dengan yang panas.
(Fatir 35:19-21)
.
Dan tahukah kamu apakah hari-agama (yaumidiin) itu?
Sekali lagi, tahukah kamu apakah hari-agama itu?
(Yaitu) pada hari (ketika) seseorang<7> sama sekali tidak berdaya (menolong) orang<7> lain.
Dan segala urusan pada hari itu dalam kekuasaan Allah.
(Al-Infitar 82:17-19)
dan tidak (pula) sama gelap gulita dengan cahaya,
dan tidak (pula) sama yang teduh dengan yang panas.
(Fatir 35:19-21)
.
Dan tahukah kamu apakah hari-agama (yaumidiin) itu?
Sekali lagi, tahukah kamu apakah hari-agama itu?
(Yaitu) pada hari (ketika) seseorang<7> sama sekali tidak berdaya (menolong) orang<7> lain.
Dan segala urusan pada hari itu dalam kekuasaan Allah.
(Al-Infitar 82:17-19)
[5]
اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ
iyyaaka na'budu wa iyyaaka nasta'iin
"Hanya kepada Engkaulah kami mengabdi dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan."
Iqro' :
Ber-tawakal adalah ekspresi dari sikap konsisten dari seorang yang berserah diri (muslim).
Menyandarkan diri kepada Allah SWT dalam situasi apapun, tatkala menghadapi suatu kepentingan, diwaktu kesukaran, teguh hati tatkala ditimpa bencana disertai jiwa yang tenang dan hati yang tenteram.
[6]
اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ
ihdinash-shiroothol-mustaqiim
"Tunjukilah kami shiroothol-mustaqiim (jalan yang lurus)"
Iqro' :
Kalimat pada ayat ini adalah kalimat 'aktif'..., kalimat yang mendorong kita untuk menjadi seorang pencari 'jalan kembali pulang disisiNya'.
Tunjukilah....., adalah kalimat yang pas bagi seseorang yang sedang mencari-cari...bukan untuk seseorang yang sekedar 'duduk-manis'.
[7]
صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ ۙ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّآ لِّيْنَ
shiroothollaziina an'amta 'alaihim ghoiril-maghdhuubi 'alaihim wa ladh-dhooolliin
"(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang tersesat."
Iqro' :
Ayat ini menginformasikan adanya 3 (tiga) kelompok-utama (maqom/kedudukan) di akhirat sekarang ini, yaitu kelompok :
1 > Orang-orang (diri-sejati) yang telah diberi nikmat oleh Allah...., sekarang ini sudah bisa menembus 'pintu-langit' untuk kembali pulang ke Surga.
Mereka telah mendahului (35:32) dan diridhoi (57:20) untuk masuk Surga-Pertama (55:42) tanpa hisab.
Golongan inilah yang telah berhasil menempuh 'shirathal mustaqim'....dan beliau-beliau inilah yang layak menjadi panutan kita.
2 > Orang-orang (diri-sejati) yang dimurkai....sekarang ini terkubur di dalam bumi, bisu...tuli...gelap...panas.
Mereka tergolong orang-orang yang telah menzalimi diri(sejati)nya sendiri (35:32)..., mereka ada yang mendapat siksa yang keras (57:20).
3 > Orang-orang (diri-sejati) yang tersesat, meski mampu bergerak dan sudah memiliki cahaya tapi mereka belum bisa kembali pulang ke Surga.
Mereka ini adalah golongan-pertengahan (35:32) yang berada di atmosfer bumi, mereka sudah bisa berdo'a dan bagi mereka masih ada ampunan (57:20).
Saat kiamat....mereka ini berpotensi menjadi golongan-kanan (56:8)..., dan diiijinkan untuk memasuki surga II (55:62) melalui proses penyisihan.
"Kemudian Kitab (Al Qur'an) itu Kami wariskan (diberikan tanpa mencari....seperti kebanyakan dari kita-kita ini yang dari lahir sudah beragama Islam) kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang :
> menzalimi diri(sejatinya) sendiri,
(dimurkai & mendapat azab)
> ada yang pertengahan,
(tersesat & masih bisa diampuni)
> dan ada (pula) yang telah mendahului (diridhoi masuk surga & telah diberi nikmat) dengan seizin Allah, yang demikian itu adalah karunia yang besar."
(Fatir 35: 32)
"Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurauan, perhiasan dan saling berbangga di antara kamu serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani, kemudian (tanaman) itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur.
Dan di akhirat (sekarang ini) ada :
> azab yang keras
(dimurkai karena menzalimi diri(sejati)nya sendiri)
> dan ampunan dari Allah
(untuk golongan pertengahan yang tersesat)
> serta keridaan-Nya.
(untuk mendahului masuk surga I dan telah diberi nikmat)
Dan kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang palsu."
(Al-Hadid 57: 20)
......
Tidak ada komentar:
Posting Komentar