Senin, 18 Maret 2019

Sekapur Sirih

.

Assalamualaikum wr wbb.
Om Swastyastu
Salam Sejahtera untuk semuanya.

                                 
                                     
Pertama-tama saya sampaikan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada sahabat sekaligus pembimbing saya meski beliau sekarang ini sudah berada di 'Hari-Kemudian'.....
Juga pembimbing saya lainnya.

Saya menyadari akan keterbatasan ilmu agama saya..., sepertinya saya kok belum pantas untuk merangkai firman-firman Allah yang suci dan luar biasa ini....
Tapi karena umur saya semakin tua...., timbul kekuatiran untuk tidak bisa memenuhi harapan sahabat saya yang menginginkan adanya rangkaian & kajian Al Qur'an yang berorientasi pada Diri-Ini dan Diri-Sejati.
Oleh sebab itu....mulai bulan ini saya mencoba untuk memulainya...., semoga saya bisa konsisten dan semoga Allah SWT mengijinkan.

Terimakasih...., mohon maaf apabila banyak kekurangannya.

Wassalam;

adiluhung nusantara

Medio Desember 2018

Prinsip memahami Al Qur'an

DIRI :
______

Diri-Ini <5> dan Diri-Sejati <7>

Al Qur'an berisi petunjuk & larangan yang harus dilakukan Diri-Ini <5> dan yang menerima konsekuensinya adalah Diri-Sejati <7>, baik konsekuensi positip (pahala) maupun yang negatip (siksa).

> Diri-Ini <5> adalah:
   Diri kita sekarang ini..., yang hidup didunia ini....mempunyai raga yang berdimensi nyata.

> Diri-Sejati <7> adalah:
   Diri kita di Hari-Kemudian..., yang hidup di akhirat....berdimensi irasional (tidak nyata...., ada tapi tak dapat dijangkau oleh panca-indera)

Karena kehidupan di Akhirat adalah kehidupan yang sebenarnya..., maka Diri-Sejati <7> adalah Diri kita yang Sebenarnya....Diri kita yang diakhirat.
.

Contoh pemahaman untuk beberapa ayat:

"Sesungguhnya Allah tidak menzalimi manusia sedikit pun, tetapi manusia <5> itulah yang menzalimi diri-sejati<7>nya sendiri."
(Yunus 10: 44)

"Katakanlah (Muhammad), Wahai manusia! Telah datang kepadamu kebenaran (Al-Qur'an) dari Tuhanmu, sebab itu barang siapa (didunia) mendapat petunjuk maka sebenarnya (petunjuk itu) untuk (kebaikan) diri-sejati<7>nya sendiri (diakhirat),
Dan barang siapa sesat (didunia), sesungguhnya kesesatannya itu (mencelakakan) diri-sejati<7>nya sendiri (diakhirat)
Dan aku bukanlah pemelihara dirimu."
(Yunus 10: 108)

.
"Jika kamu<5> berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik untuk diri-sejati<7>mu sendiri (diakhirat).
Dan jika kamu<5> berbuat jahat, maka (kerugian kejahatan) itu untuk diri-sejati<7>mu sendiri (diakhirat).
.........
(Al-Isra' 17: 7)

.
"Maka bertakwalah kamu<5> kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah; dan infakkanlah harta yang baik untuk diri-sejati<7>mu (diakhirat).
Dan barangsiapa dijaga diri<5>nya dari kekikiran (didunia), mereka itulah orang-orang<7> yang beruntung (diakhirat)."
(At-Taghabun 64:16)
.

Kecerdasan Diri-Sejati.

Banyak yang berpikir bahwa kecerdasan Diri-Sejati <7> sama dengan Diri-Ini <5>, artinya kecerdasan...kepandaian...keahlian Diri-Ini <5> yang hidup didunia ini akan terbawa sampai akhirat menjadi kecerdasan Diri-Sejati <7>, ini tidaklah tepat.

Diri-Sejati hanya 'bisa' menerima kesejatian yang berasal dari 'Sumber yang Sejati' yaitu Allah Yang Maha Pengasih melalui Ruh-Nya <6> yang ditiupkanNya kedalam tubuh manusia...baik energi, cahaya maupun kecerdasannya....inilah yang dibutuhkan oleh Diri-Sejati <7> agar mampu hidup dan berdaya di Alam-Kesejatian (Akhirat).

"Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, Sungguh...Aku akan menciptakan seorang manusia <5> dari tanah liat kering dari lumpur hitam yang diberi bentuk.
Maka apabila Aku telah menyempurnakannya, dan Aku telah meniupkan ruh-Ku <6> ke dalamnya, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.
Maka bersujudlah para malaikat itu semuanya bersama-sama.
(Al Hijr 28-30)


Tujuan Allah menurunkan firman-firmanNya :
___________________________

Sebagai hamba Allah sudah selayaknya manusia mencoba untuk memahami tujuan Allah menurunkan firman-firmanNya karena dengan memahaminya maka diharapkan manusia akan benar dalam prinsip dan tujuan hidupnya didunia ini.

Adam di Surga :

Ada beberapa hal penting yang bisa dipahami dengan diturunkan firman-firman tentang 'Adam di Surga' :

> Ada alam lain yang berbeda 'dimensi' dengan dunia ini....kalau dunia ini nyata (rasional) bagi panca-indera kita, maka alam lain tersebut berdimensi irrasional...ada tapi tidak bisa dilihat/diraba oleh panca-indera kita..., alam lain tersebut dinamakan akhirat.

> Ternyata di akhirat tersebut sudah ada kehidupan dan ada tempat yang dinamakan Surga, didalam surga tersebut dihuni oleh mahluk yang dinamakan Adam dan pasangan.

> Semua diri manusia didunia ini adalah turunan Adam yang di Surga ini.

"Dan Kami berfirman, Wahai Adam! <7> tinggallah engkau dan pasanganmu di dalam surga dan makanlah makanan-makanan yang banyak lagi baik dimana saja sesukamu.
(Tetapi) janganlah kamu dekati pohon ini, nanti kamu termasuk orang-orang yang zalim!" (2:35)

Adam di Surga adalah Diri-Sejati.

Adam adalah mahluk Surga ...., karena Surga tidak dapat dilihat/diraba dengan panca-indera ini, maka Adam pun tidak dapat dilihat/diraba....jadi Adam yang ada di Surga bukanlah manusia....bukan Diri-Ini.
Jadi siapakah Adam yang di Surga ?
Adam yang ada di Surga adalah Diri-Sejati (Diri kita yang sebenarnya)....., Diri-Sejati kitalah yang turunannya Adam...., Diri-Sejati kitalah yang mahluk Surga (mahluk Akhirat)...., Diri-Sejati kitalah yang harus bisa kembali ke Surga.

Adam harus turun dari Surga.

"Lalu, setan memerdayakan mereka <7> dari surga sehingga mereka <7> dikeluarkan dari keadaan semula.
Dan Kami berfirman, Turunlah kamu! Sebagian kamu <5> menjadi musuh bagi yang lain.
Dan bagi kamu <5> ada tempat tinggal dan kesenangan di bumi sampai waktu yang ditentukan." (2:36)

Karena tidak patuh kepada Allah, Adam harus turun dari Surga untuk merajut ketakwaannya...., dan Allah telah menyiapkan 'tempat' dan 'sistem' nya...., yaitu:
dunia yang berdimensi nyata dan
manusia yang 'multi-dimensi' dilengkapi tubuh yang berdimensi nyata...., sampai waktu yang telah ditentukan.

Jadi bisa disimpulkan, bahwa dunia dan manusia diciptakan untuk diri-sejati <7> bukan untuk diri-ini <5>.
Ibaratnya....diri-ini <5> hanyalah 'manajer' yang bertindak untuk kepentingan 'owner' yaitu diri-sejati <7>.

Al-Fatihah

.{ 1 }  Al Fatihah (Pembukaan)           
_______________________________                        
     < Mekah >     < 7 ayat >     



[1]
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
bismillaahir-rohmaanir-rohiim

"Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang."

Iqro' (perenungan) :
Allah sebagai pencipta Alam Semesta ini memberikan amanat kepada diri-manusia untuk menjadi khalifah-khalifah dimuka bumi, oleh sebab itu setiap diri-manusia mengemban tugas sebagai pemimpin/manajer/penjaga kehidupan dimuka bumi ini.
Baik menjadi manajer bagi dirinya sendiri, keluarga, lingkungan bahkan dalam skala lebih besar lagi.

Karena mendapat amanat dari Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang...., maka setiap langkah kita harus senantiasa mengedepankan kasih-sayang (welas-asih) kepada sesama manusia, mahluk hidup lainnya dan alam semesta.

Kasih-sayang adalah akar dari segala kebaikan.

Skala terkecil dari kasih-sayang adalah: tidak membenci sesama manusia dan semua mahluk ciptaan Allah serta tidak merusak bumi dan alam semesta.
Karena ketentraman kehidupan kita dan dunia berperan penting dalam proses 'merenda Hari-Kemudian' yang baik dan bercahaya.


[2]
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
al-hamdu lillaahi robbil-'aalamiin

"Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam."

Iqro' :
Hakekatnya tanpa ijinNya....kita tidak mungkin mampu berbuat kebajikan untuk diri kita sendiri, sesama dan lingkungan kita setiap harinya.
Alhamdulillah....setiap pagi hari saat kita terbangun dari tidur..., kita patut bersyukur karena masih diijinkan untuk hidup didunia sehingga masih dapat melanjutkan 'merenda' keberdayaan di hari-kemudian....agar lebih bercahaya dan berenergi.

"Allah menggenggam diri<5> (seseorang) pada saat kematiannya dan diri<5> (seseorang) yang belum mati diwaktu tidurnya; maka Dia tahan diri<5> (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia lepaskan diri<5> yang lain sampai waktu yang ditentukan. 
Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran) Allah bagi kaum yang berpikir."
(Az-Zumar 39: 42)


[3]
الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
ar-rohmaanir-rohiim

"Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang."

Iqro' :
Tak henti-hentinya kasih-sayang Allah yang dicurahkan kepada kita...., dari Diri-Sejati kita yang diberi tempat di surga...kemudian harus turun kebumi....lalu diciptakanlah Diri-Ini dan alam dunia ini...., sampai akhirnya Diri-Ini diwafatkan....kemudian kita dihidupkan kembali sebagai Diri-Sejati untuk 'memulai' kehidupan yang sejati (yang sebenarnya) di akhirat.

Dalam kehidupan-sejati di akhiratpun kasih-sayangNya masih tetap tercurah....
Seandainya kita setelah menjadi Diri-Sejati ternyata masih belum mampu kembali ke Surga Pertama (I)....kita masih diberi kesempatan untuk bisa kembali ke Surga Kedua (II) pada saat kiamat nanti....dengan sarat tatkala hidup didunia kita beriman kepadaNya & Hari-Kemudian serta berbuat kebajikan....sehingga di akhirat kita tidak termasuk golongan yang dimurkai dan 'terkubur & terhimpit' bumi, tapi paling tidak kita mampu menjadi 'golongan pertengahan' yang ada di atmosfer dan Al A'raf....serta kita sebagai diri-sejati<7> masih diberi kesempatan untuk bertakwa dan diampuni sampai kiamat tiba....untuk dihisab kemudian diridhoiNya memasuki Surga II.

Dan bagi siapa yang takut akan saat menghadap Tuhannya ada dua surga (1 untuk manusia & 1 untuk jin...., sekarang ini sudah ada, diperuntukan bagi orang-orang yang telah diberi nikmat...1:7), maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?
Dan selain dari dua surga itu ada dua surga lagi (1 ut manusia & 1 ut jin..., terbentuk nanti setelah kiamat, diperuntukan bagi 'golongan-kanan'...56:8,27), maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?
(Ar-Rahman 55: 46-47, 62-63)


[4]
مٰلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ
maaliki yaumid-diin

"Raja di Hari-Agama."

Iqro' :
Agama adalah: Laku kita didunia....
Apapun laku kita didunia ini....itulah agama kita.
Jadi tidak ada orang yang tidak beragama..., termasuk orang kafir....agama orang kafir....ya kafir itu, ini dijelaskan pada surat Al Kafirun :
'lakum diinukum wa liya diin'....Untukmu agamamu, dan untukku agamaku'.

Hari-Agama (yaumid-diin) :
Hari dimana laku kita didunia 'dibuka' dan menjadi nyata...., saat itu Diri-Ini<5> telah mati dan kita sudah menjadi Diri-Sejati<7>.....dan berada di Alam yang sejati yaitu: akhirat.
Agama kita menjadi nyata dan terekspresi di Diri kita (yang sudah menjadi Diri-Sejati<7>) dan maqom kita (tempat / kedudukan).
Di Diri-kita terekspresi dalam pakaian, cahaya, energi dan kecerdasan kita.
Sedangkan tempat keberadaan kita terbagi dalam 3 maqom utama....lihat 1:7.

Dan tidaklah sama orang yang buta dengan orang yang melihat,
dan tidak (pula) sama gelap gulita dengan cahaya,
dan tidak (pula) sama yang teduh dengan yang panas.
(Fatir 35:19-21)

.
Dan tahukah kamu apakah hari-agama (yaumidiin) itu?
Sekali lagi, tahukah kamu apakah hari-agama itu?

(Yaitu) pada hari (ketika) seseorang<7> sama sekali tidak berdaya (menolong) orang<7> lain.
Dan segala urusan pada hari itu dalam kekuasaan Allah.
(Al-Infitar 82:17-19)


[5]
اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ
iyyaaka na'budu wa iyyaaka nasta'iin

"Hanya kepada Engkaulah kami mengabdi dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan."

Iqro' :
Ber-tawakal adalah ekspresi dari sikap konsisten dari seorang yang berserah diri (muslim).
Menyandarkan diri kepada Allah SWT dalam situasi apapun, tatkala menghadapi suatu kepentingan, diwaktu kesukaran, teguh hati tatkala ditimpa bencana disertai jiwa yang tenang dan hati yang tenteram.


[6]
اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ
ihdinash-shiroothol-mustaqiim

"Tunjukilah kami shiroothol-mustaqiim (jalan yang lurus)"

Iqro' :
Kalimat pada ayat ini adalah kalimat 'aktif'..., kalimat yang mendorong kita untuk menjadi seorang pencari 'jalan kembali pulang disisiNya'.
Tunjukilah....., adalah kalimat yang pas bagi seseorang yang sedang mencari-cari...bukan untuk seseorang yang sekedar 'duduk-manis'.


[7]
صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ   ۙ  غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّآ لِّيْنَ
shiroothollaziina an'amta 'alaihim ghoiril-maghdhuubi 'alaihim wa ladh-dhooolliin

"(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang tersesat."

Iqro' :
Ayat ini menginformasikan adanya 3 (tiga) kelompok-utama (maqom/kedudukan) di akhirat sekarang ini, yaitu kelompok :

1 > Orang-orang (diri-sejati) yang telah diberi nikmat oleh Allah...., sekarang ini sudah bisa menembus 'pintu-langit' untuk kembali pulang ke Surga.
Mereka telah mendahului (35:32) dan diridhoi (57:20) untuk masuk Surga-Pertama (55:42) tanpa hisab.
Golongan inilah yang telah berhasil menempuh 'shirathal mustaqim'....dan beliau-beliau inilah yang layak menjadi panutan kita.

2 > Orang-orang (diri-sejati) yang dimurkai....sekarang ini terkubur di dalam bumi, bisu...tuli...gelap...panas.
Mereka tergolong orang-orang yang telah menzalimi diri(sejati)nya sendiri (35:32)..., mereka ada yang mendapat siksa yang keras (57:20).

3 > Orang-orang (diri-sejati) yang tersesat, meski mampu bergerak dan sudah memiliki cahaya tapi mereka belum bisa kembali pulang ke Surga.
Mereka ini adalah golongan-pertengahan (35:32) yang berada di atmosfer bumi, mereka sudah bisa berdo'a dan bagi mereka masih ada ampunan (57:20).
Saat kiamat....mereka ini berpotensi menjadi golongan-kanan (56:8)..., dan diiijinkan untuk memasuki surga II (55:62) melalui proses penyisihan.

"Kemudian Kitab (Al Qur'an) itu Kami wariskan (diberikan tanpa mencari....seperti kebanyakan dari kita-kita ini yang dari lahir sudah beragama Islam) kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang :
> menzalimi diri(sejatinya) sendiri,
   (dimurkai & mendapat azab)
> ada yang pertengahan,
   (tersesat & masih bisa diampuni)
> dan ada (pula) yang telah mendahului (diridhoi masuk surga & telah diberi nikmat) dengan seizin Allah, yang demikian itu adalah karunia yang besar."
(Fatir 35: 32)

"Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurauan, perhiasan dan saling berbangga di antara kamu serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani, kemudian (tanaman) itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur.

Dan di akhirat (sekarang ini) ada :
> azab yang keras 
   (dimurkai karena menzalimi diri(sejati)nya sendiri)
> dan ampunan dari Allah
   (untuk golongan pertengahan yang tersesat)
> serta keridaan-Nya.
   (untuk mendahului masuk surga I dan telah diberi nikmat)

Dan kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang palsu."
(Al-Hadid 57: 20)



......

JUZ 1 > (1) (2:1-141)

{ 1 }  Al Fatihah                                             
              
{ 2 }  Al Baqarah              Ayat 1 - 141                                   
   
                                                           
                                                                   
                                     

Keterangan :

Al Qur'an berisi petunjuk & larangan yang harus dilakukan Diri-Ini <5> dan yang menerima konsekuensinya adalah Diri-Sejati <7>, baik konsekuensi positip (pahala) maupun yang negatip (siksa)

Diri kita meliputi:

      * Diri-Ini <5>
         adalah: Diri yang hidup didunia ini
                        (yang sedang membaca ini)
         terdiri dari: jiwa (tidak nyata) dan
         raga yang berdimensi nyata.

      * Diri-Sejati <7>
         adalah: Diri kita yang sebenarnya...,
                        Diri yang hidup di akhirat
         berdimensi irasional (tidak nyata)

Diri-Sejati<7> mempunyai kecerdasan & pemikiran yang berbeda dengan Diri-Ini<5>.
Diri-Sejati<7> hanya bisa 'menyerap' yang berguna di akhirat....energi, cahaya dan 'ilmu-akhirat yang hakiki'.

(Baca: Prinsip untuk memahami Al Qur'an)





{ 1 }  Al Fatihah (Pembukaan)
_____________________________
     < Mekah >      < 7 ayat >


[1]
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
bismillaahir-rohmaanir-rohiim

"Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang."

Iqro' (untuk direnungi) :
Allah sebagai pencipta Alam Semesta ini memberikan amanat kepada diri-manusia untuk menjadi khalifah-khalifah dimuka bumi, oleh sebab itu setiap diri-manusia mengemban tugas sebagai pemimpin/manajer/penjaga kehidupan dimuka bumi ini.
Baik menjadi manajer bagi dirinya sendiri, keluarga, lingkungan bahkan dalam skala lebih besar lagi.
Karena mendapat amanat dari Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang...., maka setiap langkah kita harus senantiasa mengedepankan kasih-sayang (welas-asih) kepada sesama manusia, mahluk hidup lainnya dan alam semesta.
Skala terkecil dari kasih-sayang adalah: tidak membenci dan tidak merusak.
Karena ketentraman kehidupan kita dan dunia berperan penting dalam proses 'merenda Hari-Kemudian' yang baik dan bercahaya.


[2]
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
al-hamdu lillaahi robbil-'aalamiin

"Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam."

Iqro' :
Hakekatnya tanpa ijinNya....kita tidak mungkin mampu berbuat kebajikan untuk diri kita sendiri, sesama dan lingkungan kita setiap harinya.
Alhamdulillah....setiap pagi hari saat kita terbangun dari tidur..., kita patut bersyukur karena masih diijinkan untuk hidup didunia dan madih dapat melanjutkan 'merenda' keberdayaan di hari-kemudian....agar lebih bercahaya dan berenergi.

"Allah menggenggam diri (seseorang) pada saat kematiannya dan diri (seseorang) yang belum mati diwaktu tidurnya; maka Dia tahan diri (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia lepaskan diri yang lain sampai waktu yang ditentukan. 
Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran) Allah bagi kaum yang berpikir."
(Az-Zumar 39: 42)


[3]
الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
ar-rohmaanir-rohiim

"Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang."

Iqro' :
Tak henti-hentinya kasih-sayang Allah yang dicurahkan kepada kita...., dari Diri-Sejati kita diberi tempat di surga...kemudian harus turun kebumi....lalu diciptakanlah Diri-Ini dan alam dunia ini...., sampai akhirnya Diri-Ini diwafaatkan....kemudian kita dihidupkan kembali sebagai Diri-Sejati untuk 'memulai' kehidupan yang sejati (yang sebenarnya).
Dalam kehidupan-sejati di akhiratpun kasih-sayangNya masih tetap tercurah....
Seandainya kita setelah menjadi Diri-Sejati ternyata masih belum mampu kembali ke Surga Pertama (I)....kita masih diberi kesempatan untuk bisa kembali ke Surga Kedua (II) pada saat kiamat nanti....dengan sarat tatkala hidup didunia kita beriman kepadaNya & Hari-Kemudian serta berbuat kebajikan....sehingga kita tidak termasuk golongan yang dimurkai dan 'terkubur & terhimpit' bumi, tapi paling tidak kita mampu menjadi 'golongan pertengahan' yang ada atmosfer....kita masih diberi kesempatan untuk bertakwa dan diampuni sampai kiamat tiba....untuk diridhoiNya memasuki Surga II.

Dan bagi siapa yang takut akan saat menghadap Tuhannya ada dua surga (1 untuk manusia & 1 untuk jin...., sekarang ini sudah ada, diperuntukan bagi orang-orang yang telah diberi nikmat...1:7), maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

Dan selain dari dua surga itu ada dua surga lagi (1 ut manusia & 1 ut jin..., terbentuk nanti setelah kiamat, diperuntukan bagi 'golongan-kanan'...56:8,27), maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?
(Ar-Rahman 55: 46-47, 62-63)


[4]
مٰلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ
maaliki yaumid-diin

"Raja di Hari-Agama (pembalasan)."

Iqro' :
Agama adalah: Laku kita didunia....
Apapun laku kita didunia ini....itulah agama kita.
Jadi tidak ada orang yang tidak beragama..., termasuk orang kafir....agama orang kafir....ya kafir itu, ini dijelaskan pada surat Al Kafirun : 'lakum diinukum wa liya diin'....Untukmu agamamu, dan untukku agamaku'.

Hari-Agama : 
Hari dimana laku kita didunia 'dibuka' dan menjadi nyata...., saat itu Diri-Ini<5> telah mati dan kita sudah menjadi Diri-Sejati<7>.....dan berada diAlam yang sejati yaitu: akhirat.
Agama kita menjadi nyata dan terekspresi di Diri kita (yang sudah menjadi Diri-Sejati<7>) dan maqom (tempat kedudukan) kita.
Di Diri kita terekspresi dalam pakaian, cahaya, energi dan kecerdasan kita.
Sedangkan tempat keberadaan kita terbagi dalam 3 maqom utama....lihat 1:7.

Dan tidaklah sama orang yang buta dengan orang yang melihat,
dan tidak (pula) sama gelap gulita dengan cahaya,
dan tidak (pula) sama yang teduh dengan yang panas.
(Fatir 35:19-21)


[5]
اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ
iyyaaka na'budu wa iyyaaka nasta'iin

"Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan."

Iqro' :
Ber-tawakal adalah ekspresi dari sikap konsisten dari seorang yang berserah diri (muslim).
Menyandarkan diri kepada Allah SWT dalam situasi apapun, tatkala menghadapi suatu kepentingan, diwaktu kesukaran, teguh hati tatkala ditimpa bencana disertai jiwa yang tenang dan hati yang tenteram.


[6]
اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ
ihdinash-shiroothol-mustaqiim

"Tunjukilah kami shiroothol-mustaqiim (jalan yang lurus)"

Iqro' :
Kalimat pada ayat ini adalah kalimat 'aktif'..., kalimat yang mendorong kita untuk menjadi seorang pencari 'jalan kembali pulang disisiNya'.
Tunjukilah....., adalah kalimat yang pas bagi seseorang yang sedang mencari-cari...bukan untuk seseorang yang sekedar 'duduk-manis'.


[7]
صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ   ۙ  غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّآ لِّيْنَ
shiroothollaziina an'amta 'alaihim ghoiril-maghdhuubi 'alaihim wa ladh-dhooolliin

"(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang tersesat."

Iqro' :
Ayat ini menginformasikan adanya 3 (tiga) kelompok-utama (maqom/kedudukan) di akhirat sekarang ini, yaitu kelompok :

1 > Orang-orang (diri-sejati) yang telah diberi nikmat oleh Allah...., sekarang ini sudah bisa menembus 'pintu-langit' untuk kembali pulang ke Surga.
Mereka telah mendahului (35:32) dan diridhoi (57:20) untuk masuk Surga-Pertama (55:42) tanpa hisab.
Golongan inilah yang telah berhasil menempuh 'shirathal mustaqim'....dan beliau-beliau inilah yang layak menjadi panutan kita.

2 > Orang-orang (diri-sejati) yang dimurkai....sekarang ini terkubur di dalam bumi, bisu...tuli...gelap...panas.
Mereka tergolong orang-orang yang telah menzalimi diri(sejati)nya sendiri (35:32)..., mereka ada yang mendapat siksa yang keras (57:20).

3 > Orang-orang (diri-sejati) yang tersesat, meski mampu bergerak dan sudah memiliki cahaya tapi mereka belum bisa kembali pulang ke Surga.
Mereka ini adalah golongan-pertengahan (35:32) yang berada di atmosfer bumi, mereka sudah bisa berdo'a dan bagi mereka masih ada ampunan (57:20).
Saat kiamat....mereka ini berpotensi menjadi golongan-kanan (56:8)..., dan diiijinkan untuk memasuki surga II (55:62) melalui proses penyisihan.

"Kemudian Kitab itu Kami wariskan (diberikan tanpa mencari....seperti kebanyakan dari kita-kita ini yang dari lahir sudah beragama Islam) kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang :
> menzalimi diri(sejatinya) sendiri,
   (dimurkai & mendapat azab)
> ada yang pertengahan,
   (tersesat & masih bisa diampuni)
> dan ada (pula) yang telah mendahului (diridhoi masuk surga & telah diberi nikmat) dengan seizin Allah, yang demikian itu adalah karunia yang besar."
(Fatir 35: 32)

"Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurauan, perhiasan dan saling berbangga di antara kamu serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani, kemudian (tanaman) itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur.

Dan di akhirat (sekarang ini) ada :
> azab yang keras 
   (dimurkai karena menzalimi diri(sejati)nya sendiri)
> dan ampunan dari Allah
   (untuk golongan pertengahan yang tersesat)
> serta keridaan-Nya.
   (untuk mendahului masuk surga I dan telah diberi nikmat)

Dan kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang palsu."

(Al-Hadid 57: 20)

.


{ 2 }  Al Baqarah   (Sapi Betina)
          < Madinah >   < 286 ayat >
         ___________________________




[1]                                                                الٓمّٓ
alif laaam miiim

"Alif Lam Mim."

[2]
                 ذٰلِكَ الْكِتٰبُ لَا رَيْبَ  ۛ  فِيْهِ  ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِيْنَ
zaalikal-kitaabu laa roiba fiih, hudal lil-muttaqiin

"Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka <5> yang bertaqwa,"

Iqro' (untuk direnungi) :
Semakin bertaqwa...., semakin dapat petunjuk...., petunjuk yang berguna bagi Diri-Sejati di Kehidupan-Sejati (Akhirat).
Tidak bertaqwa....tidak dapat petunjuk.

[3]
الَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِالْغَيْبِ وَ يُقِيْمُوْنَ الصَّلٰوةَ وَمِمَّا رَزَقْنٰهُمْ يُنْفِقُوْنَ
allaziina yu`minuuna bil-ghoibi wa yuqiimuunash-sholaata wa mimmaa rozaqnaahum yunfiquun

"(yaitu) mereka <5> yang beriman kepada yang gaib, melaksanakan sholat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka <5>,"

[4]
وَالَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِمَاۤ اُنْزِلَ اِلَيْكَ وَمَاۤ اُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ ۚ  وَبِالْاٰخِرَةِ هُمْ يُوْقِنُوْنَ
wallaziina yu`minuuna bimaaa unzila ilaika wa maaa unzila ming qoblik, wa bil-aakhiroti hum yuuqinuun

"dan mereka <5> yang beriman kepada (Al-Qur'an) yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dan (kitab-kitab) yang telah diturunkan sebelum engkau, dan mereka <5> yakin akan adanya akhirat."

[5]
اُولٰٓئِكَ عَلٰى هُدًى مِّنْ رَّبِّهِمْ  ۙ  وَاُولٰٓئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ
ulaaa`ika 'alaa hudam mir robbihim wa ulaaa`ika humul-muflihuun

"Merekalah <5> yang mendapat petunjuk dari Tuhannya, dan mereka <7> itulah orang-orang yang beruntung."

[6]
اِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا سَوَآءٌ عَلَيْهِمْ ءَاَنْذَرْتَهُمْ اَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ  لَا يُؤْمِنُوْنَ
innallaziina kafaruu sawaaa`un 'alaihim a anzartahum am lam tunzir-hum laa yu`minuun

"Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka <5>, engkau (Muhammad) beri peringatan atau tidak engkau beri peringatan, mereka <5> tidak akan beriman."

[7]
خَتَمَ اللّٰهُ عَلٰى قُلُوْبِهِمْ وَعَلٰى سَمْعِهِمْ  ۗ  وَعَلٰىۤ اَبْصَارِهِمْ غِشَاوَةٌ وَّلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيْمٌ
khotamallohu 'alaa quluubihim wa 'alaa sam'ihim, wa 'alaaa abshoorihim ghisyaawatuw wa lahum 'azaabun 'azhiim

"Allah telah mengunci hati dan pendengaran mereka <7>, penglihatan mereka <7> telah tertutup, dan mereka <7> akan mendapat azab yang berat."

Iqro' :
Dikarenakan kekafiran Diri-Ini <5>..., maka Diri-Sejati <7> orang-orang kafir menjadi tersiksa..., mendapatkan azab yang berat, tuli, bisu, buta dan terkunci.

[8]
وَمِنَ النَّاسِ  مَنْ يَّقُوْلُ اٰمَنَّا بِاللّٰهِ وَبِالْيَوْمِ الْاٰخِرِ وَمَا هُمْ بِمُؤْمِنِيْنَ
wa minan-naasi may yaquulu aamannaa billaahi wa bil-yaumil-aakhiri wa maa hum bimu`miniin

"Dan di antara manusia <5> ada yang berkata, Kami beriman kepada Allah dan hari-kemudian, padahal sesungguhnya mereka <5> itu bukanlah orang-orang yang beriman."

[9]
يُخٰدِعُوْنَ اللّٰهَ وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا  ۚ  وَمَا يَخْدَعُوْنَ اِلَّاۤ اَنْفُسَهُمْ  وَمَا يَشْعُرُوْنَ
yukhoodi'uunalloha wallaziina aamanuu, wa maa yakhda'uuna illaaa anfusahum wa maa yasy'uruun

"Mereka menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka <5> hanyalah menipu diri<7>sendiri tanpa mereka <5> sadari."

[10]
فِيْ قُلُوْبِهِمْ مَّرَضٌ  ۙ  فَزَادَهُمُ اللّٰهُ مَرَضًا  ۚ  وَلَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ  ۙ  بِۢمَا كَانُوْا يَكْذِبُوْنَ
fii quluubihim marodhun fa zaadahumullohu marodhoo, wa lahum 'azaabun aliimum bimaa kaanuu yakzibuun

"Dalam hati mereka <5> ada penyakit, lalu Allah menambah penyakitnya itu; dan mereka <7> mendapat azab yang pedih karena mereka <5> berdusta."

[11]
وَاِذَا قِيْلَ لَهُمْ لَا تُفْسِدُوْا فِى الْاَرْضِ ۙ   قَالُوْاۤ اِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُوْنَ
wa izaa qiila lahum laa tufsiduu fil ardhi qooluuu innamaa nahnu mushlihuun

"Dan apabila dikatakan kepada mereka<5>, Janganlah berbuat kerusakan di bumi! Mereka menjawab, Sesungguhnya kami justru orang-orang yang melakukan perbaikan."

[12]
اَ لَا ۤ اِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُوْنَ وَلٰـكِنْ لَّا يَشْعُرُوْنَ
alaaa innahum humul-mufsiduuna wa laakil laa yasy'uruun

"Ingatlah, sesungguhnya merekalah <5>yang berbuat kerusakan, tetapi mereka <5> tidak menyadari."

[13]
وَاِذَا قِيْلَ لَهُمْ اٰمِنُوْا كَمَاۤ اٰمَنَ النَّاسُ قَالُوْاۤ اَنُؤْمِنُ كَمَاۤ اٰمَنَ السُّفَهَآءُ  ۗ  اَ لَاۤ اِنَّهُمْ هُمُ السُّفَهَآءُ وَلٰـكِنْ لَّا يَعْلَمُوْنَ
wa izaa qiila lahum aaminuu kamaaa aamanan-naasu qooluuu a nu`minu kamaaa aamanas-sufahaaa`, alaaa innahum humus-sufahaaa`u wa laakil laa ya'lamuun

"Dan apabila dikatakan kepada mereka <5>, Berimanlah kamu sebagaimana orang lain telah beriman! Mereka <5> menjawab, Apakah kami akan beriman seperti orang-orang yang kurang akal itu beriman? Ingatlah, sesungguhnya mereka <5> itulah orang-orang yang kurang akal, tetapi mereka tidak tahu."

[14]
وَاِذَا لَقُوْا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قَالُوْاۤ اٰمَنَّا  ۚ  وَاِذَا خَلَوْا اِلٰى شَيٰطِيْنِهِمْ ۙ  قَالُوْاۤ اِنَّا مَعَكُمْ ۙ  اِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَهْزِءُوْنَ
wa izaa laqullaziina aamanuu qooluuu aamannaa, wa izaa kholau ilaa syayaathiinihim qooluuu innaa ma'akum innamaa nahnu mustahzi`uun

"Dan apabila mereka <5> berjumpa dengan orang yang beriman, mereka berkata, Kami telah beriman. Tetapi apabila mereka <5> kembali kepada setan-setan mereka, mereka <5> berkata, Sesungguhnya kami bersama kamu, kami hanya berolok-olok."

[15]
اَللّٰهُ يَسْتَهْزِئُ بِهِمْ وَيَمُدُّهُمْ فِيْ طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُوْنَ
allohu yastahzi`u bihim wa yamudduhum fii thughyaanihim ya'mahuun

"Allah akan mempermalukan mereka <7> dan membiarkan mereka <5> terombang-ambing dalam kesesatan."

[16]
اُولٰٓئِكَ الَّذِيْنَ اشْتَرَوُا الضَّلٰلَةَ بِالْهُدٰى  ۖ  فَمَا رَبِحَتْ تِّجَارَتُهُمْ  وَمَا كَانُوْا مُهْتَدِيْنَ
ulaaa`ikallaziinasytarowudh-dholaalata bil-hudaa fa maa robihat tijaarotuhum wa maa kaanuu muhtadiin

"Mereka <5> itulah yang membeli kesesatan dengan petunjuk. Maka perdagangan mereka itu tidak beruntung dan mereka <5> tidak mendapat petunjuk.

[17]
مَثَلُهُمْ كَمَثَلِ الَّذِى اسْتَوْقَدَ نَارًا   ۚ  فَلَمَّاۤ  اَضَآءَتْ مَا حَوْلَهٗ ذَهَبَ اللّٰهُ بِنُوْرِهِمْ وَتَرَكَهُمْ فِيْ ظُلُمٰتٍ لَّا يُبْصِرُوْنَ
masaluhum kamasalillazistauqoda naaroo, fa lammaaa adhooo`at maa haulahuu zahaballohu binuurihim wa tarokahum fii zhulumaatil laa yubshiruun

"Perumpamaan mereka <5> seperti orang-orang yang menyalakan api, setelah menerangi sekelilingnya, Allah melenyapkan cahaya mereka <7> dan membiarkan mereka <7> dalam kegelapan, tidak dapat melihat."

[18]
صُمٌّۢ بُكْمٌ عُمْيٌ فَهُمْ لَا يَرْجِعُوْنَ
shummum bukmun 'umyun fa hum laa yarji'uun

"Mereka <7> tuli, bisu, dan buta, sehingga mereka <7> tidak dapat kembali."

Iqro' ayat 17 & 18:
Cahaya yg membuat kita bisa melihat didunia ini....sesungguhnya hanyalah 'permainan & sementara' saja.
Cahaya itu akan lenyap....seiring dgn kematian Diri-Ini <5>.
Lha kalau Diri-Sejati (7) kita blm punya cahaya sendiri (di hadapan & kanan....lihat 57: 12-13)....maka alam akhirat menjadi gelap gulita..., kita (sebagai Diri-Sejati <7>) menjadi tuli, bisu dan buta sehingga kita <7> tidak bisa kembali pulang ke Surga.

[19]
اَوْ كَصَيِّبٍ مِّنَ السَّمَآءِ فِيْهِ ظُلُمٰتٌ وَّرَعْدٌ وَّبَرْقٌ  ۚ  يَجْعَلُوْنَ اَصَابِعَهُمْ فِيْۤ اٰذَانِهِمْ مِّنَ الصَّوَاعِقِ حَذَرَ الْمَوْتِ ۗ  وَاللّٰهُ مُحِيْطٌۢ بِالْكٰفِرِيْنَ
au kashoyyibim minas-samaaa`i fiihi zhulumaatuw wa ro'duw wa barq, yaj'aluuna ashoobi'ahum fiii aazaanihim minash-showaa'iqi hazarol-mauut, wallohu muhiithum bil-kaafiriin

"Atau seperti (orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit, yang disertai kegelapan, petir, dan kilat.
Mereka <5> menyumbat telinga dengan jari-jarinya, (menghindari) suara petir itu karena takut mati. Allah meliputi orang-orang yang kafir."

[20]
يَكَادُ الْبَرْقُ يَخْطَفُ اَبْصَارَهُمْ  ۗ  كُلَّمَاۤ اَضَآءَ لَهُمْ مَّشَوْا فِيْهِ  ۙ  وَاِذَاۤ اَظْلَمَ عَلَيْهِمْ قَامُوْا  ۗ  وَلَوْ شَآءَ اللّٰهُ لَذَهَبَ بِسَمْعِهِمْ وَاَبْصَارِهِمْ  ۗ  اِنَّ اللّٰهَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
yakaadul-barqu yakhthofu abshoorohum, kullamaaa adhooo`a lahum masyau fiihi wa izaaa azhlama 'alaihim qoomuu, walau syaaa`allohu lazahaba bisam'ihim wa abshoorihim, innalloha 'alaa kulli syai`ing qodiir

"Hampir saja kilat itu menyambar penglihatan mereka <5>. Setiap kali (kilat itu) menyinari, mereka berjalan di bawah (sinar) itu dan apabila gelap menerpa mereka, mereka berhenti. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya Dia hilangkan pendengaran dan penglihatan mereka <7>. Sungguh, Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu."

[21]
يٰۤاَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ وَالَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ
yaaa ayyuhan-naasu'buduu robbakumullazii kholaqokum wallaziina ming qoblikum la'allakum tattaquun

"Wahai manusia <5>! Sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang yang sebelum kamu, agar kamu <5> bertakwa."

[22]
الَّذِيْ جَعَلَ لَـكُمُ الْاَرْضَ فِرَاشًا وَّالسَّمَآءَ بِنَآءً  ۖ  وَّاَنْزَلَ مِنَ السَّمَآءِ مَآءً فَاَخْرَجَ بِهٖ مِنَ الثَّمَرٰتِ رِزْقًا لَّـكُمْ  ۚ  فَلَا تَجْعَلُوْا لِلّٰهِ اَنْدَادًا وَّاَنْـتُمْ تَعْلَمُوْنَ
allazii ja'ala lakumul-ardho firoosyaw was-samaaa`a binaaa`aw wa anzala minas-samaaa`i maaa`an fa akhroja bihii minas-samarooti rizqol lakum, fa laa taj'aluu lillaahi andaadaw wa antum ta'lamuun

"(Dialah) yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dialah yang menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia hasilkan dengan (hujan) itu buah-buahan sebagai rezeki untukmu. Karena itu, janganlah kamu <5> mengadakan tandingan-tandingan bagi Allah, padahal kamu mengetahui."

[23]
وَاِنْ کُنْتُمْ فِيْ رَيْبٍ  مِّمَّا نَزَّلْنَا عَلٰى عَبْدِنَا فَأْتُوْا بِسُوْرَةٍ مِّنْ مِّثْلِهٖ  ۖ  وَادْعُوْا  شُهَدَآءَكُمْ مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ
wa ing kuntum fii roibim mimmaa nazzalnaa 'alaa 'abdinaa fa`tuu bisuurotim mim mislihii wad'uu syuhadaaa`akum min duunillaahi ing kuntum shoodiqiin

"Dan jika kamu <5> meragukan (Al-Qur'an) yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad), maka buatlah satu surah semisal dengannya dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah jika kamu orang-orang yang benar."

[24]
فَاِنْ لَّمْ تَفْعَلُوْا وَلَنْ تَفْعَلُوْا فَاتَّقُوْا النَّارَ الَّتِيْ وَقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ  ۖ  اُعِدَّتْ لِلْكٰفِرِيْنَ
fa il lam taf'aluu wa lan taf'aluu fattaqun-naarollatii waquuduhan-naasu wal-hijaarotu u'iddat lil-kaafiriin

"Jika kamu tidak mampu membuatnya, dan (pasti) tidak akan mampu, maka takutlah kamu <5> akan api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu yang disediakan bagi orang-orang kafir."

Iqro' :
"Sesungguhnya Allah tidak menzalimi manusia sedikit pun, tetapi manusia (5) itulah yang menzalimi dirinya (7) sendiri." (Yunus 10: 44)
Api yang membakar Diri-Sejati <7> orang-orang kafir di neraka adalah api yang ditimbulkan dari energi-negatip (dosa) yang dilakukan oleh Dirinya sendiri <5> saat hidup didunia tatkala masih menjadi manusia.
Hakekatnya:
Diri manusialah <5> yang membakar Diri-Sejatinya sendiri <7> di neraka (diperut bumi)

[25]
وَبَشِّرِ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ اَنَّ لَهُمْ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ  ۗ  كُلَّمَا رُزِقُوْا مِنْهَا مِنْ ثَمَرَةٍ رِّزْقًا  ۙ  قَالُوْا هٰذَا الَّذِيْ رُزِقْنَا مِنْ قَبْلُ وَاُتُوْا بِهٖ مُتَشَابِهًا  ۗ  وَلَهُمْ فِيْهَاۤ اَزْوَاجٌ مُّطَهَّرَةٌ  ۙ  وَّهُمْ فِيْهَا خٰلِدُوْنَ
wa basysyirillaziina aamanuu wa 'amilush-shoolihaati anna lahum jannaatin tajrii min tahtihal-an-haar, kullamaa ruziquu min-haa min samarotir rizqong qooluu haazallazii ruziqnaa ming qoblu wa utuu bihii mutasyaabihaa, wa lahum fiihaaa azwaajum muthohharotuw wa hum fiihaa khooliduun

"Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang <5> yang beriman dan berbuat kebajikan, bahwa untuk mereka <7>(disediakan) surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.
Setiap kali mereka <7> diberi rezeki buah-buahan dari surga, mereka <7> berkata:
Inilah rezeki yang diberikan kepada kami dahulu. 
Mereka <7> telah diberi (buah-buahan) yang serupa. Dan di sana mereka (memperoleh) pasangan-pasangan yang suci. Mereka <7> kekal di dalamnya."

Iqro' :
> Kebajikan adalah kebaikan yang dilakukan dengan tulus....tanpa pamrih.
Tindakan ini berefek positif untuk Diri-Sejati <7>.

Semua Diri-Sejati <7> pernah tinggal di Surga:
Pemberian rizki buah-buahan dari surga...seolah membangkitkan ingatan mereka <7> (orang-orang beriman yang masuk surga) bahwa mereka <7> dahulu pernah diberi buah-buahan yang serupa (persis sama)....., tidak ada buah-buahan didunia yang mampu menyerupai buah buahan di surga....
Jadi dapat disimpulkan bahwa:
Semua Diri-Sejati <7> manusia pernah tinggal di Surga.

[26]
اِنَّ اللّٰهَ لَا يَسْتَحْـيٖۤ اَنْ يَّضْرِبَ مَثَلًا مَّا بَعُوْضَةً فَمَا فَوْقَهَا  ۗ  فَاَمَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا فَيَعْلَمُوْنَ اَنَّهُ الْحَـقُّ مِنْ رَّبِّهِمْ ۚ  وَاَمَّا الَّذِيْنَ كَفَرُوْا فَيَقُوْلُوْنَ مَاذَاۤ اَرَادَ اللّٰهُ بِهٰذَا مَثَلًا   ۘ  يُضِلُّ بِهٖ كَثِيْرًا وَّيَهْدِيْ بِهٖ كَثِيْرًا   ۗ  وَمَا يُضِلُّ بِهٖۤ اِلَّا الْفٰسِقِيْنَ
innalloha laa yastahyiii ay yadhriba masalam maa ba'uudhotan fa maa fauqohaa, fa ammallaziina aamanuu fa ya'lamuuna annahul-haqqu mir robbihim, wa ammallaziina kafaruu fa yaquuluuna maazaaa aroodallohu bihaazaa masalaa, yudhillu bihii kasiirow wa yahdii bihii kasiiroo, wa maa yudhillu bihiii illal-faasiqiin

"Sesungguhnya Allah tidak segan membuat perumpamaan seekor nyamuk atau yang lebih kecil dari itu. Adapun orang-orang yang beriman <5>, mereka tahu bahwa itu kebenaran dari Tuhan. Tetapi mereka <5> yang kafir berkata, Apa maksud Allah dengan perumpamaan ini? Dengan (perumpamaan) itu banyak orang yang dibiarkan-Nya sesat, dan dengan itu banyak (pula) orang yang diberi-Nya petunjuk. Tetapi tidak ada yang Dia sesatkan dengan (perumpamaan) itu selain orang-orang fasik,"

[27]
الَّذِيْنَ يَنْقُضُوْنَ عَهْدَ اللّٰهِ مِنْۢ بَعْدِ مِيْثَاقِهٖ ۖ  وَيَقْطَعُوْنَ مَاۤ اَمَرَ اللّٰهُ بِهٖۤ اَنْ يُّوْصَلَ وَيُفْسِدُوْنَ فِى الْاَرْضِ ۗ  اُولٰٓئِكَ هُمُ الْخٰسِرُوْنَ
allaziina yangqudhuuna 'ahdallohi mim ba'di miisaaqihii wa yaqtho'uuna maaa amarollaahu bihiii ay yuushola wa yufsiduuna fil-ardh, ulaaa`ika humul-khoosiruun

"(yaitu) orang-orang <5> yang melanggar perjanjian Allah setelah (perjanjian) itu diteguhkan, dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah untuk disambungkan, dan berbuat kerusakan di bumi. Mereka <7> itulah orang-orang yang rugi."

[28]
كَيْفَ تَكْفُرُوْنَ بِاللّٰهِ وَكُنْتُمْ اَمْوَاتًا  فَاَحْيَاکُمْ ۚ  ثُمَّ يُمِيْتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيْكُمْ ثُمَّ اِلَيْهِ تُرْجَعُوْنَ
kaifa takfuruuna billaahi wa kuntum amwaatan fa ahyaakum, summa yumiitukum summa yuhyiikum summa ilaihi turja'uun

"Bagaimana kamu ingkar kepada Allah, padahal kamu <7> (tadinya) mati, lalu Dia menghidupkan kamu <5>, kemudian Dia mematikan kamu <5>, lalu Dia menghidupkan kamu kembali <7>.
Kemudian kepadaNyalah kamu dikembalikan."

[29]
هُوَ الَّذِيْ خَلَقَ لَـكُمْ مَّا فِى الْاَرْضِ جَمِيْعًاثُمَّ اسْتَوٰۤى اِلَى السَّمَآءِ فَسَوّٰٮهُنَّ سَبْعَ سَمٰوٰتٍ  ۗ  وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ
huwallazii kholaqo lakum maa fil-ardhi jamii'an summastawaaa ilas-samaaa`i fa sawwaahunna sab'a samaawaat, wa huwa bikulli syai`in 'aliim

"Dialah (Allah) yang menciptakan segala apa yang ada di bumi untukmu, kemudian Dia menuju ke langit, lalu Dia menyempurnakannya menjadi tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu."

[30]
وَاِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلٰٓئِكَةِ اِنِّيْ جَاعِلٌ فِى الْاَرْضِ خَلِيْفَةً  ۗ  قَالُوْۤا اَتَجْعَلُ فِيْهَا مَنْ يُّفْسِدُ فِيْهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَآءَ ۚ  وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَـكَ ۗ  قَالَ اِنِّيْۤ اَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ
wa iz qoola robbuka lil-malaaa`ikati innii jaa'ilun fil-ardhi kholiifah, qooluuu a taj'alu fiihaa may yufsidu fiihaa wa yasfikud-dimaaa`, wa nahnu nusabbihu bihamdika wa nuqoddisu lak, qoola inniii a'lamu maa laa ta'lamuun

"Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, Aku hendak menjadikan khalifah di bumi. Mereka berkata, Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu? Dia berfirman, Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."


[31]
وَعَلَّمَ  اٰدَمَ الْاَسْمَآءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلٰٓئِكَةِ فَقَالَ اَنْۢبِـئُوْنِيْ  بِاَسْمَآءِ هٰۤؤُلَآ ءِ اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ
wa 'allama aadamal-asmaaa`a kullahaa summa 'arodhohum 'alal-malaaa`ikati fa qoola ambi`uunii bi`asmaaa`i haaa`ulaaa`i ing kuntum shoodiqiin

"Dan Dia ajarkan kepada Adam nama-nama (benda) semuanya, kemudian Dia perlihatkan kepada para malaikat seraya berfirman, Sebutkan kepada-Ku nama semua (benda) ini, jika kamu yang benar!"

[32]
قَالُوْا سُبْحٰنَكَ لَا عِلْمَ لَنَاۤ اِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا  ۗ  اِنَّكَ اَنْتَ الْعَلِيْمُ الْحَكِيْمُ
qooluu sub-haanaka laa 'ilma lanaaa illaa maa 'allamtanaa, innaka antal-'aliimul-hakiim

"Mereka menjawab, Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mengetahui, Maha Bijaksana."

[33]
قَالَ يٰۤـاٰدَمُ اَنْۢبِئْهُمْ  بِاَسْمَآئِهِمْ  ۚ  فَلَمَّاۤ اَنْۢبَاَهُمْ بِاَسْمَآئِهِمْ  ۙ  قَالَ اَلَمْ اَقُلْ لَّـكُمْ اِنِّيْۤ اَعْلَمُ  غَيْبَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ  ۙ  وَاَعْلَمُ مَا تُبْدُوْنَ وَمَا كُنْتُمْ تَكْتُمُوْنَ
qoola yaaa aadamu ambi`hum bi`asmaaa`ihim, fa lammaaa amba`ahum bi`asmaaa`ihim qoola a lam aqul lakum inniii a'lamu ghoibas-samaawaati wal-ardhi wa a'lamu maa tubduuna wa maa kuntum taktumuun

"Dia (Allah) berfirman, Wahai Adam! Beritahukanlah kepada mereka nama-nama itu! Setelah dia (Adam) menyebutkan nama-namanya, Dia berfirman, Bukankah telah Aku katakan kepadamu bahwa Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan Aku mengetahui apa yang kamu nyatakan dan apa yang kamu sembunyikan?"

[34]
وَاِذْ قُلْنَا لِلْمَلٰٓئِكَةِ اسْجُدُوْا لِاٰدَمَ فَسَجَدُوْۤا اِلَّاۤ اِبْلِيْسَ  ۗ  اَبٰى وَاسْتَكْبَرَ  ۖ  وَكَانَ مِنَ الْكٰفِرِيْنَ
wa iz qulnaa lil-malaaa`ikatisjuduu li`aadama fa sajaduuu illaaa ibliis, abaa wastakbaro wa kaana minal-kaafiriin

"Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, Sujudlah kamu kepada Adam! Maka mereka pun sujud kecuali iblis. Ia menolak dan menyombongkan diri dan ia termasuk golongan yang kafir."

[35]
وَقُلْنَا يٰۤـاٰدَمُ اسْكُنْ اَنْتَ  وَزَوْجُكَ الْجَـنَّةَ وَكُلَا مِنْهَا رَغَدًا حَيْثُ شِئْتُمَا ۖ  وَلَا تَقْرَبَا  هٰذِهِ الشَّجَرَةَ فَتَكُوْنَا مِنَ الظّٰلِمِيْنَ
wa qulnaa yaaa aadamuskun anta wa zaujukal-jannata wa kulaa min-haa roghodan haisu syi`tumaa wa laa taqrobaa haazihisy-syajarota fa takuunaa minazh-zhoolimiin

"Dan Kami berfirman, Wahai Adam! <7> tinggallah engkau dan pasanganmu di dalam surga dan makanlah makanan-makanan yang banyak lagi baik dimana saja sesukamu.
(Tetapi) janganlah kamu dekati pohon ini, nanti kamu termasuk orang-orang yang zalim!"

Iqro' :


[36]
فَاَزَلَّهُمَا الشَّيْطٰنُ عَنْهَا فَاَخْرَجَهُمَا مِمَّا كَانَا فِيْهِ ۖ  وَقُلْنَا اهْبِطُوْا بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ  ۚ  وَلَـكُمْ فِى الْاَرْضِ مُسْتَقَرٌّ وَّمَتَاعٌ اِلٰى حِيْنٍ
fa azallahumasy-syaithoonu 'an-haa fa akhrojahumaa mimmaa kaanaa fiihi wa qulnahbithuu ba'dhukum liba'dhin 'aduww, wa lakum fil-ardhi mustaqorruw wa mataa'un ilaa hiin

"Lalu, setan memerdayakan mereka <7> dari surga sehingga mereka <7> dikeluarkan dari keadaan semula.
Dan Kami berfirman, Turunlah kamu! Sebagian kamu <5> menjadi musuh bagi yang lain.
Dan bagi kamu <5> ada tempat tinggal dan kesenangan di bumi sampai waktu yang ditentukan."

[37]
فَتَلَقّٰۤى  اٰدَمُ مِنْ رَّبِّهٖ كَلِمٰتٍ فَتَابَ عَلَيْهِ ۗ  اِنَّهٗ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ
fa talaqqooo aadamu mir robbihii kalimaatin fa taaba 'alaiih, innahuu huwat-tawwaabur-rohiim

"Kemudian, Adam <7> menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, lalu Dia kembali kepadanya.
Sungguh, Allah Maha Penerima Tobat, Maha Penyayang."

Iqro' :
(Setelah Allah sempat 'menjauh dikarenakan ketidak patuhan Adam kepadaNya, maka...) "Dia kembali kepadanya (Adam)".
Ini berimplikasi bahwa Adam diampuni.

[38]
قُلْنَا اهْبِطُوْا مِنْهَا جَمِيْعًا   ۚ  فَاِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِّنِّيْ هُدًى فَمَنْ تَبِـعَ هُدَايَ فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَ
qulnahbithuu min-haa jamii'aa, fa immaa ya`tiyannakum minnii hudan fa man tabi'a hudaaya fa laa khoufun 'alaihim wa laa hum yahzanuun

"Kami berfirman:
Turunlah kamu semua <7> dari surga!
Kemudian jika benar-benar datang petunjuk-Ku kepadamu <5>, maka barang siapa mengikuti petunjuk-Ku, tidak ada rasa takut pada mereka <5> dan mereka <7> tidak bersedih hati."

[39]
وَالَّذِيْنَ كَفَرُوْا وَكَذَّبُوْا بِـاٰيٰتِنَاۤ اُولٰٓئِكَ اَصْحٰبُ النَّارِ ۚ  هُمْ فِيْهَا خٰلِدُوْنَ
wallaziina kafaruu wa kazzabuu bi`aayaatinaaa ulaaa`ika ash-haabun-naar, hum fiihaa khooliduun

"Adapun orang-orang <5> yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka <7> itu penghuni neraka.
Mereka <7> kekal di dalamnya."

[40]
يٰبَنِيْۤ اِسْرَآءِيْلَ اذْكُرُوْا نِعْمَتِيَ الَّتِيْۤ اَنْعَمْتُ عَلَيْكُمْ وَاَوْفُوْا بِعَهْدِيْۤ اُوْفِ بِعَهْدِكُمْ ۚ  وَاِيَّايَ فَارْهَبُوْنِ
yaa baniii isrooo`iilazkuruu ni'matiyallatiii an'amtu 'alaikum wa aufuu bi'ahdiii uufi bi'ahdikum, wa iyyaaya far-habuun

"Wahai Bani Israil! Ingatlah nikmat-Ku yang telah Aku berikan kepadamu. Dan penuhilah janjimu kepada-Ku, niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu dan takutlah kepada-Ku saja."

[41]
وَاٰمِنُوْا بِمَاۤ  اَنْزَلْتُ مُصَدِّقًا لِّمَا مَعَكُمْ وَلَا تَكُوْنُوْاۤ اَوَّلَ كَافِرٍۢ بِهٖ  ۖ  وَلَا تَشْتَرُوْا  بِاٰيٰتِيْ ثَمَنًا قَلِيْلًا  ۖ  وَّاِيَّايَ فَاتَّقُوْنِ
wa aaminuu bimaaa anzaltu mushoddiqol limaa ma'akum wa laa takuunuuu awwala kaafirim bihii wa laa tasytaruu bi`aayaatii samanang qoliilaw wa iyyaaya fattaquun

"Dan berimanlah kamu <5> kepada apa (Al-Qur'an) yang telah Aku turunkan yang membenarkan apa (Taurat) yang ada pada kamu dan janganlah kamu menjadi orang yang pertama kafir kepadanya.
Janganlah kamu jual ayat-ayat-Ku dengan harga murah dan bertakwalah hanya kepada-Ku."

[42]
وَلَا تَلْبِسُوا الْحَـقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَـقَّ وَاَنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ
wa laa talbisul-haqqo bil-baathili wa taktumul-haqqo wa antum ta'lamuun

"Dan janganlah kamu <5> campur adukkan kebenaran dengan kebatilan dan (janganlah) kamu sembunyikan kebenaran, sedangkan kamu mengetahuinya.

[43]
وَاَقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَاٰتُوا الزَّكٰوةَ وَارْكَعُوْا مَعَ الرّٰكِعِيْنَ
wa aqiimush-sholaata wa aatuz-zakaata warka'uu ma'ar-rooki'iin

"Dan laksanakanlah sholat, tunaikanlah zakat, dan rukuklah beserta orang <5> yang rukuk."

[44]
اَتَأْمُرُوْنَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ  اَنْفُسَكُمْ وَاَنْتُمْ تَتْلُوْنَ الْكِتٰبَ ۗ  اَفَلَا تَعْقِلُوْنَ
a ta`muruunan-naasa bil-birri wa tansauna anfusakum wa antum tatluunal-kitaab, a fa laa ta'qiluun

"Mengapa kamu <5> menyuruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedangkan kamu <5> melupakan dirimu sendiri <7>, padahal kamu membaca Kitab (Taurat)?
Tidakkah kamu mengerti?"

[45]
وَاسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِ  ۗ  وَاِنَّهَا لَكَبِيْرَةٌ اِلَّا عَلَى الْخٰشِعِيْنَ
wasta'iinuu bish-shobri wash-sholaah, wa innahaa lakabiirotun illaa 'alal-khoosyi'iin

"Dan mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan sholat. Dan (sholat) itu sungguh berat kecuali bagi orang-orang <5> yang khusyuk,"

[46]
الَّذِيْنَ يَظُنُّوْنَ  اَنَّهُمْ مُّلٰقُوْا رَبِّهِمْ وَاَنَّهُمْ اِلَيْهِ رٰجِعُوْنَ
allaziina yazhunnuuna annahum mulaaquu robbihim wa annahum ilaihi rooji'uun

"(yaitu) mereka <5> yang yakin bahwa mereka <7> akan menemui Tuhannya dan bahwa mereka <7> akan kembali kepada-Nya."

[47]
يٰبَنِيْۤ اِسْرَآءِيْلَ  اذْكُرُوْا نِعْمَتِيَ الَّتِيْۤ اَنْعَمْتُ عَلَيْكُمْ وَاَنِّيْ فَضَّلْتُكُمْ عَلَى الْعٰلَمِيْنَ
yaa baniii isrooo`iilazkuruu ni'matiyallatiii an'amtu 'alaikum wa annii fadhdholtukum 'alal-'aalamiin

"Wahai Bani Israil! Ingatlah nikmat-Ku yang telah Aku berikan kepadamu, dan Aku telah melebihkan kamu dari semua umat yang lain di alam ini (pada masa itu)."

[48]
وَاتَّقُوْا يَوْمًا لَّا تَجْزِيْ نَفْسٌ عَنْ نَّفْسٍ شَيْئًـا وَّلَا يُقْبَلُ  مِنْهَا شَفَاعَةٌ وَّلَا يُؤْخَذُ مِنْهَا عَدْلٌ وَّلَا هُمْ يُنْصَرُوْنَ
wattaquu yaumal laa tajzii nafsun 'an nafsin syai`aw wa laa yuqbalu min-haa syafaa'atuw wa laa yu`khozu min-haa 'adluw wa laa hum yunshoruun

"Dan takutlah kamu <5> pada hari (ketika) tidak seorang <7> pun dapat membela orang <7> lain sedikit pun.
Sedangkan syafaat dan tebusan apa pun darinya tidak diterima dan mereka <7>  tidak akan ditolong."

Iqro' :
Ayat diatas memperingatkan kepada Bani Israel (juga kita) agar takut pada hari ketika Diri-Ini <5> mati dan kita berganti menjadi Diri-Sejati <7> dan berada di akhirat...

[49]
وَاِذْ نَجَّيْنٰکُمْ مِّنْ اٰلِ فِرْعَوْنَ يَسُوْمُوْنَكُمْ سُوْٓءَ الْعَذَابِ  يُذَبِّحُوْنَ اَبْنَآءَكُمْ وَيَسْتَحْيُوْنَ نِسَآءَكُمْ ۗ  وَفِيْ ذٰلِكُمْ بَلَآ ءٌ مِّنْ  رَّبِّكُمْ عَظِيْمٌ
wa iz najjainaakum min aali fir'auna yasuumuunakum suuu`al-'azaabi yuzabbihuuna abnaaa`akum wa yastahyuuna nisaaa`akum, wa fii zaalikum balaaa`um mir robbikum 'azhiim

"Dan (ingatlah) ketika Kami menyelamatkan kamu <5> dari (Fir'aun dan) pengikut-pengikut Fir'aun. Mereka menimpakan siksaan yang sangat berat kepadamu. Mereka menyembelih anak-anak laki-lakimu dan membiarkan hidup anak-anak perempuanmu. Dan pada yang demikian itu merupakan cobaan yang besar dari Tuhanmu."

[50]
وَاِذْ فَرَقْنَا بِكُمُ الْبَحْرَ فَاَنْجَيْنٰکُمْ وَاَغْرَقْنَاۤ اٰلَ فِرْعَوْنَ وَاَنْتُمْ تَنْظُرُوْنَ
wa iz faroqnaa bikumul-bahro fa anjainaakum wa aghroqnaaa aala fir'auna wa antum tanzhuruun

"Dan (ingatlah) ketika Kami membelah laut untukmu sehingga kamu <5> dapat Kami selamatkan dan Kami tenggelamkan (Fir'aun dan) pengikut-pengikut Fir'aun, sedang kamu menyaksikan."

[51]

وَاِذْ وٰعَدْنَا مُوْسٰۤى اَرْبَعِيْنَ لَيْلَةً ثُمَّ اتَّخَذْتُمُ الْعِجْلَ مِنْۢ بَعْدِهٖ وَاَنْـتُمْ ظٰلِمُوْنَ
wa iz waa'adnaa muusaaa arba'iina lailatan summattakhoztumul-'ijla mim ba'dihii wa antum zhoolimuun

"Dan (ingatlah) ketika Kami menjanjikan kepada Musa empat puluh malam. Kemudian, kamu (Bani Israil) menjadikan (patung) anak sapi (sebagai sesembahan) setelah (kepergian)nya dan kamu <5> (menjadi) orang yang zalim."

[52]
ثُمَّ عَفَوْنَا  عَنْكُمْ مِّنْۢ بَعْدِ ذٰلِكَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ
summa 'afaunaa 'angkum mim ba'di zaalika la'allakum tasykuruun

"Kemudian, Kami memaafkan kamu <5> setelah itu agar kamu bersyukur."

[53]
وَاِذْ اٰتَيْنَا مُوْسَى  الْكِتٰبَ وَالْفُرْقَانَ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُوْنَ
wa iz aatainaa muusal-kitaaba wal-furqoona la'allakum tahtaduun

"Dan (ingatlah), ketika Kami memberikan kepada Musa Kitab dan Furqan agar kamu memperoleh petunjuk."

[54]
وَاِذْ قَالَ مُوْسٰى لِقَوْمِهٖ يٰقَوْمِ اِنَّكُمْ ظَلَمْتُمْ اَنْفُسَکُمْ بِاتِّخَاذِكُمُ الْعِجْلَ فَتُوْبُوْاۤ اِلٰى بَارِئِكُمْ فَاقْتُلُوْۤا اَنْفُسَكُمْ ۗ  ذٰ لِكُمْ خَيْرٌ لَّـكُمْ عِنْدَ بَارِئِكُمْ ۗ  فَتَابَ عَلَيْكُمْ ۗ  اِنَّهٗ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ
wa iz qoola muusaa liqoumihii yaa qoumi innakum zholamtum anfusakum bittikhoozikumul-'ijla fa tuubuuu ilaa baari`ikum faqtuluuu anfusakum, zaalikum khoirul lakum 'inda baari`ikum, fa taaba 'alaikum, innahuu huwat-tawwaabur-rohiim

"Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya, Wahai kaumku! Kamu <5> benar-benar telah menzalimi dirimu <7> sendiri dengan menjadikan (patung) anak sapi (sebagai sesembahan), karena itu bertobatlah kepada Penciptamu dan bunuhlah dirimu<5>. Itu lebih baik bagimu di sisi Penciptamu. Dia akan menerima tobatmu. Sungguh, Dia-lah Yang Maha Penerima Tobat, Maha Penyayang."

[55]
وَاِذْ  قُلْتُمْ يٰمُوْسٰى لَنْ نُّؤْمِنَ لَـكَ حَتّٰى نَرَى اللّٰهَ جَهْرَةً فَاَخَذَتْكُمُ  الصّٰعِقَةُ وَاَنْتُمْ تَنْظُرُوْنَ
wa iz qultum yaa muusaa lan nu`mina laka hattaa narollaaha jahrotan fa akhozatkumush-shoo'iqotu wa antum tanzhuruun

"Dan (ingatlah) ketika kamu berkata, Wahai Musa! Kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan jelas, maka halilintar menyambarmu, sedang kamu menyaksikan."

[56]
ثُمَّ بَعَثْنٰكُمْ مِّنْۢ بَعْدِ مَوْتِكُمْ  لَعَلَّکُمْ تَشْكُرُوْنَ
summa ba'asnaakum mim ba'di mautikum la'allakum tasykuruun

"Kemudian, Kami membangkitkan kamu <7> setelah kamu <5> mati agar kamu bersyukur."

[57]
وَظَلَّلْنَا عَلَيْکُمُ الْغَمَامَ وَاَنْزَلْنَا  عَلَيْكُمُ الْمَنَّ وَالسَّلْوٰى ۗ  كُلُوْا مِنْ طَيِّبٰتِ مَا رَزَقْنٰكُمْ ۗ   وَمَا ظَلَمُوْنَا وَلٰـكِنْ كَانُوْاۤ اَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُوْنَ
wa zhollalnaa 'alaikumul-ghomaama wa anzalnaa 'alaikumul-manna was-salwaa, kuluu min thoyyibaati maa rozaqnaakum, wa maa zholamuunaa wa laaking kaanuuu anfusahum yazhlimuun

"Dan Kami menaungi kamu dengan awan dan Kami menurunkan kepadamu manna dan salwa. Makanlah (makanan) yang baik-baik dari rezeki yang telah Kami berikan kepadamu.
Mereka tidak menzalimi Kami, tetapi justru merekalah <5> yang menzalimi diri <7> sendiri."

[58]
وَاِذْ قُلْنَا ادْخُلُوْا هٰذِهِ الْقَرْيَةَ فَکُلُوْا مِنْهَا حَيْثُ شِئْتُمْ رَغَدًا وَّادْخُلُوا الْبَابَ سُجَّدًا وَّقُوْلُوْا حِطَّةٌ نَّغْفِرْ لَـكُمْ خَطٰيٰكُمْ ۗ  وَسَنَزِيْدُ الْمُحْسِنِيْنَ
wa iz qulnadkhuluu haazihil-qoryata fa kuluu min-haa haisu syi`tum roghodaw wadkhulul-baaba sujjadaw wa quuluu hiththotun naghfir lakum khothooyaakum, wa sanaziidul-muhsiniin

"Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman, Masuklah ke negeri ini (Baitul Maqdis) maka makanlah dengan nikmat (berbagai makanan) yang ada di sana sesukamu. Dan masukilah pintu gerbangnya sambil membungkuk dan katakanlah, Bebaskanlah kami (dari dosa-dosa kami), niscaya Kami ampuni kesalahan-kesalahanmu. Dan Kami akan menambah (karunia) bagi orang-orang yang berbuat kebaikan."

[59]
فَبَدَّلَ الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا قَوْلًا  غَيْرَ الَّذِيْ قِيْلَ لَهُمْ فَاَنْزَلْنَا عَلَى الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا رِجْزًا  مِّنَ السَّمَآءِ بِمَا كَانُوْا يَفْسُقُوْنَ
fa baddalallaziina zholamuu qoulan ghoirollazii qiila lahum fa anzalnaa 'alallaziina zholamuu rijzam minas-samaaa`i bimaa kaanuu yafsuquun

"Lalu, orang-orang yang zalim <5> mengganti perintah dengan (perintah lain) yang tidak diperintahkan kepada mereka. Maka Kami turunkan malapetaka dari langit kepada orang-orang yang zalim itu karena mereka<5> berbuat fasik."

[60]
وَاِذِاسْتَسْقٰى مُوْسٰى لِقَوْمِهٖ فَقُلْنَا اضْرِبْ بِّعَصَاكَ الْحَجَرَ ۗ  فَانْفَجَرَتْ مِنْهُ اثْنَتَا عَشْرَةَ عَيْنًا ۗ  قَدْ عَلِمَ کُلُّ اُنَاسٍ مَّشْرَبَهُمْ ۗ  کُلُوْا وَاشْرَبُوْا مِنْ رِّزْقِ اللّٰهِ وَلَا تَعْثَوْا فِيْ الْاَرْضِ مُفْسِدِيْنَ
wa izistasqoo muusaa liqoumihii fa qulnadhrib bi'ashookal-hajar, fanfajarot min-husnataa 'asyrota 'ainaa, qod 'alima kullu unaasim masyrobahum, kuluu wasyrobuu mir rizqillaahi wa laa ta'sau fil-ardhi mufsidiin

"Dan (ingatlah) ketika Musa memohon air untuk kaumnya, lalu Kami berfirman, Pukullah batu itu dengan tongkatmu! Maka memancarlah darinya dua belas mata air. Setiap suku telah mengetahui tempat minumnya (masing-masing). Makan dan minumlah dari rezeki (yang diberikan) Allah dan janganlah kamu melakukan kejahatan di bumi dengan berbuat kerusakan."

[61]
وَاِذْ قُلْتُمْ يٰمُوْسٰى  لَنْ نَّصْبِرَ عَلٰى طَعَامٍ وَّاحِدٍ فَادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُخْرِجْ لَنَا مِمَّا  تُنْۢبِتُ الْاَرْضُ مِنْۢ بَقْلِهَا وَقِثَّـآئِهَا وَفُوْمِهَا وَعَدَسِهَا وَ بَصَلِهَا  ۗ  قَالَ اَتَسْتَبْدِلُوْنَ الَّذِيْ هُوَ اَدْنٰى بِالَّذِيْ هُوَ  خَيْرٌ  ۗ  اِهْبِطُوْا مِصْرًا فَاِنَّ لَـکُمْ مَّا سَاَلْتُمْ  ۗ  وَضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ  الذِّلَّةُ وَالْمَسْکَنَةُ وَبَآءُوْ بِغَضَبٍ مِّنَ اللّٰهِ  ۗ  ذٰلِكَ بِاَنَّهُمْ  كَانُوْا يَكْفُرُوْنَ بِاٰيٰتِ اللّٰهِ وَيَقْتُلُوْنَ النَّبِيّٖنَ  بِغَيْرِ الْحَـقِّ  ۗ  ذٰلِكَ بِمَا عَصَوا وَّكَانُوْا يَعْتَدُوْنَ
wa iz qultum yaa muusaa lan nashbiro 'alaa tho'aamiw waahidin fad'u lanaa robbaka yukhrij lanaa mimmaa tumbitul-ardhu mim baqlihaa wa qissaaa`ihaa wa fuumihaa wa 'adasihaa wa basholihaa, qoola a tastabdiluunallazii huwa adnaa billazii huwa khoiir, ihbithuu mishron fa inna lakum maa sa`altum, wa dhuribat 'alaihimuz-zillatu wal-maskanatu wa baaa`uu bighodhobim minalloh, zaalika bi`annahum kaanuu yakfuruuna bi`aayaatillaahi wa yaqtuluunan-nabiyyiina bighoiril-haqq, zaalika bimaa 'ashow wa kaanuu ya'taduun

"Dan (ingatlah), ketika kamu berkata, Wahai Musa! Kami tidak tahan hanya (makan) dengan satu macam makanan saja maka mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia memberi kami apa yang ditumbuhkan bumi, seperti sayur-mayur, mentimun, bawang putih, kacang adas, dan bawang merah. Dia (Musa) menjawab, Apakah kamu meminta sesuatu yang buruk sebagai ganti dari sesuatu yang baik? Pergilah ke suatu kota, pasti kamu akan memperoleh apa yang kamu minta. Kemudian, mereka ditimpa kenistaan dan kemiskinan dan mereka (kembali) mendapat kemurkaan dari Allah. Hal itu (terjadi) karena mereka mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa hak (alasan yang benar). Yang demikian itu karena mereka durhaka dan melampaui batas."

[62]
اِنَّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَالَّذِيْنَ هَادُوْا وَالنَّصٰرٰى وَالصّٰبِئِـيْنَ  مَنْ اٰمَنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ وَعَمِلَ صَالِحًـا فَلَهُمْ اَجْرُهُمْ  عِنْدَ رَبِّهِمْ  ۚ  وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَ
innallaziina aamanuu wallaziina haaduu wan-nashooroo wash-shoobi`iina man aamana billaahi wal-yaumil-aakhiri wa 'amila shoolihan fa lahum ajruhum 'inda robbihim, wa laa khoufun 'alaihim wa laa hum yahzanuun

"Sesungguhnya orang-orang <5> yang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani, dan orang-orang Sabi'in, siapa saja <5> yang beriman kepada Allah dan Hari-Kemudian dan melakukan kebajikan, mereka <7> mendapat pahala dari Tuhannya, tidak ada rasa takut pada mereka <7> dan mereka <7> tidak bersedih hati."

Iqro' :
> Sabi'in adalah Orang-orang yang menyembah Tuhan YME dengan metode dan cara-cara tertentu sesuai dengan petunjuk yang diperoleh dari para leluhur mereka dan alam-semesta...., bukan agama samawi.

[63]
وَاِذْ اَخَذْنَا  مِيْثَاقَكُمْ وَرَفَعْنَا فَوْقَكُمُ الطُّوْرَ ۗ  خُذُوْا مَاۤ اٰتَيْنٰكُمْ بِقُوَّةٍ وَّ اذْكُرُوْا مَا فِيْهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ
wa iz akhoznaa miisaaqokum wa rofa'naa fauqokumuth-thuur, khuzuu maaa aatainaakum biquwwatiw wazkuruu maa fiihi la'allakum tattaquun

"Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil janji kamu dan kami angkat Gunung (Sinai) di atasmu (seraya berfirman), Pegang teguhlah apa yang telah Kami berikan kepadamu dan ingatlah apa yang ada di dalamnya, agar kamu bertakwa."

[64]
ثُمَّ تَوَلَّيْتُمْ مِّنْۢ بَعْدِ ذٰلِكَ ۚ   فَلَوْلَا فَضْلُ اللّٰهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهٗ لَـكُنْتُمْ مِّنَ الْخٰسِرِيْنَ
summa tawallaitum mim ba'di zaalika falau laa fadhlullohi 'alaikum wa rohmatuhuu lakuntum minal-khoosiriin

"Kemudian, setelah itu kamu <5> berpaling. Maka sekiranya bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepadamu, pasti kamu <7> termasuk orang yang rugi."

[65]
وَلَقَدْ عَلِمْتُمُ الَّذِيْنَ اعْتَدَوْا مِنْكُمْ فِيْ السَّبْتِ فَقُلْنَا لَهُمْ  كُوْنُوْا قِرَدَةً خَاسِئِـيْنَ
wa laqod 'alimtumullaziina'tadau mingkum fis-sabti fa qulnaa lahum kuunuu qirodatan khoosi`iin

"Dan sungguh, kamu telah mengetahui orang-orang yang melakukan pelanggaran di antara kamu pada hari Sabat, lalu Kami katakan kepada mereka, Jadilah kamu kera yang hina!"

[66]
فَجَعَلْنٰهَا نَكٰلاً لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهَا  وَمَا خَلْفَهَا وَمَوْعِظَةً لِّلْمُتَّقِيْنَ
fa ja'alnaahaa nakaalal limaa baina yadaihaa wa maa kholfahaa wa mau'izhotal lil-muttaqiin

"Maka Kami jadikan (yang demikian) itu peringatan bagi orang-orang pada masa itu dan bagi mereka yang datang kemudian serta menjadi pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa."

[67]
وَاِذْ قَالَ مُوْسٰى لِقَوْمِهٖۤ اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُكُمْ اَنْ تَذْبَحُوْا بَقَرَةً  ۗ  قَالُوْاۤ اَتَتَّخِذُنَا هُزُوًا  ۗ  قَالَ اَعُوْذُ بِاللّٰهِ اَنْ اَكُوْنَ مِنَ الْجٰـهِلِيْنَ
wa iz qoola muusaa liqoumihiii innalloha ya`murukum an tazbahuu baqoroh, qooluuu a tattakhizunaa huzuwaa, qoola a'uuzu billaahi an akuuna minal-jaahiliin

"Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya, Allah memerintahkan kamu agar menyembelih seekor sapi betina. Mereka bertanya, Apakah engkau akan menjadikan kami sebagai ejekan? Dia (Musa) menjawab, Aku berlindung kepada Allah agar tidak termasuk orang-orang yang bodoh."

[68]
قَالُوا ادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُبَيِّنْ لَّنَا مَا هِيَ ۗ  قَالَ اِنَّهٗ يَقُوْلُ اِنَّهَا بَقَرَةٌ لَّا فَارِضٌ وَّلَا بِكْرٌ ۗ  عَوَانٌۢ بَيْنَ ذٰلِكَ ۗ  فَافْعَلُوْا مَا تُؤْمَرُوْنَ
qoolud'u lanaa robbaka yubayyil lanaa maa hiy, qoola innahuu yaquulu innahaa baqorotul laa faaridhuw wa laa bikr, 'awaanum baina zaalik, faf'aluu maa tu`maruun

"Mereka berkata, Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menjelaskan kepada kami tentang (sapi betina) itu. Dia (Musa) menjawab, Dia (Allah) berfirman bahwa sapi betina itu tidak tua dan tidak muda, (tetapi) pertengahan antara itu. Maka kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu."

[69]
قَالُوا ادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُبَيِّنْ لَّنَا مَا لَوْنُهَا  ۗ  قَالَ اِنَّهٗ يَقُوْلُ اِنَّهَا بَقَرَةٌ صَفْرَآءُ ۙ  فَاقِعٌ لَّوْنُهَا تَسُرُّ النّٰظِرِيْنَ
qoolud'u lanaa robbaka yubayyil lanaa maa launuhaa, qoola innahuu yaquulu innahaa baqorotun shofrooo`u faaqi'ul launuhaa tasurrun-naazhiriin

"Mereka berkata, Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menjelaskan kepada kami apa warnanya. Dia (Musa) menjawab, Dia (Allah) berfirman bahwa (sapi) itu adalah sapi betina yang kuning tua warnanya, yang menyenangkan orang-orang yang memandang(nya)."

[70]
قَالُوا ادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُبَيِّنْ لَّنَا مَا هِيَ ۙ  اِنَّ الْبَقَرَ تَشٰبَهَ عَلَيْنَا  ۗ  وَاِنَّـاۤ اِنْ شَآءَ اللّٰهُ لَمُهْتَدُوْنَ
qoolud'u lanaa robbaka yubayyil lanaa maa hiya innal-baqoro tasyaabaha 'alainaa, wa innaaa in syaaa`allohu lamuhtaduun

"Mereka berkata, Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menjelaskan kepada kami tentang (sapi betina) itu. (Karena) sesungguhnya sapi itu belum jelas bagi kami dan jika Allah menghendaki, niscaya kami mendapat petunjuk."

[71]

قَالَ اِنَّهٗ يَقُوْلُ اِنَّهَا بَقَرَةٌ لَّا ذَلُوْلٌ تُثِيْرُ الْاَرْضَ وَلَا تَسْقِى الْحَـرْثَ  ۚ  مُسَلَّمَةٌ لَّا شِيَةَ فِيْهَا  ۗ  قَالُوا الْئٰـنَ جِئْتَ بِالْحَـقِّ ۗ  فَذَبَحُوْهَا وَمَا كَادُوْا يَفْعَلُوْنَ
qoola innahuu yaquulu innahaa baqorotul laa zaluulun tusiirul-ardho wa laa tasqil-hars, musallamatul laa syiyata fiihaa, qoolul-aana ji`ta bil-haqqi fa zabahuuhaa wa maa kaaduu yaf'aluun

"Dia (Musa) menjawab, Dia (Allah) berfirman, (sapi) itu adalah sapi betina yang belum pernah dipakai untuk membajak tanah dan tidak (pula) untuk mengairi tanaman, sehat, dan tanpa belang. Mereka berkata, Sekarang barulah engkau menerangkan (hal) yang sebenarnya. Lalu, mereka menyembelihnya dan nyaris mereka tidak melaksanakan (perintah) itu."

[72]
وَ اِذْ قَتَلْتُمْ نَفْسًا فَادّٰرَءْتُمْ فِيْهَا  ۗ  وَاللّٰهُ مُخْرِجٌ مَّا كُنْتُمْ تَكْتُمُوْنَ
wa iz qotaltum nafsan faddaaro'tum fiihaa, wallohu mukhrijum maa kuntum taktumuun

"Dan (ingatlah) ketika kamu membunuh seseorang, lalu kamu tuduh-menuduh tentang itu. Tetapi Allah menyingkapkan apa yang kamu sembunyikan."

[73]
فَقُلْنَا اضْرِبُوْهُ بِبَعْضِهَا  ۗ  كَذٰلِكَ يُحْيِ اللّٰهُ الْمَوْتٰى  ۙ  وَيُرِيْکُمْ اٰيٰتِهٖ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُوْنَ
fa qulnadhribuuhu biba'dhihaa, kazaalika yuhyillaahul-mautaa wa yuriikum aayaatihii la'allakum ta'qiluun

"Lalu Kami berfirman, Pukullah (mayat) itu dengan bagian dari (sapi) itu! Demikianlah Allah menghidupkan (orang) yang telah mati dan Dia memperlihatkan kepadamu tanda-tanda (kekuasaan-Nya) agar kamu mengerti."

[74]
ثُمَّ قَسَتْ قُلُوْبُكُمْ مِّنْۢ بَعْدِ ذٰلِكَ فَهِيَ كَالْحِجَارَةِ اَوْ اَشَدُّ قَسْوَةً   ۗ  وَاِنَّ مِنَ الْحِجَارَةِ لَمَا يَتَفَجَّرُ مِنْهُ الْاَنْهٰرُ ۗ  وَاِنَّ مِنْهَا لَمَا يَشَّقَّقُ فَيَخْرُجُ مِنْهُ الْمَآءُ ۗ  وَاِنَّ مِنْهَا لَمَا يَهْبِطُ مِنْ خَشْيَةِ اللّٰهِ ۗ  وَمَا اللّٰهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُوْنَ
summa qosat quluubukum mim ba'di zaalika fa hiya kal-hijaaroti au asyaddu qoswah, wa inna minal-hijaaroti lamaa yatafajjaru min-hul-an-haar, wa inna min-haa lamaa yasysyaqqoqu fa yakhruju min-hul-maaa`, wa inna min-haa lamaa yahbithu min khosy-yatillaah, wa mallohu bighoofilin 'ammaa ta'maluun

"Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras sehingga (hatimu) seperti batu, bahkan lebih keras. Padahal, dari batu-batu itu pasti ada sungai-sungai yang (airnya) memancar daripadanya. Ada pula yang terbelah, lalu keluarlah mata air darinya. Dan ada pula yang meluncur jatuh karena takut kepada Allah. Dan Allah tidaklah lengah terhadap apa yang kamu kerjakan."

[75]
اَفَتَطْمَعُوْنَ اَنْ يُّؤْمِنُوْا لَـكُمْ وَقَدْ كَانَ  فَرِيْقٌ مِّنْهُمْ يَسْمَعُوْنَ کَلَامَ اللّٰهِ ثُمَّ يُحَرِّفُوْنَهٗ مِنْۢ بَعْدِ  مَا عَقَلُوْهُ وَهُمْ يَعْلَمُوْنَ
a fa tathma'uuna ay yu`minuu lakum wa qod kaana fariiqum min-hum yasma'uuna kalaamallohi summa yuharrifuunahuu mim ba'di maa 'aqoluuhu wa hum ya'lamuun

"Maka apakah kamu (muslimin) sangat mengharapkan mereka <5> akan percaya kepadamu, sedangkan segolongan dari mereka mendengar firman Allah, lalu mereka mengubahnya setelah memahaminya, padahal mereka mengetahuinya?"

[76]
وَاِذَا لَـقُوْا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قَالُوْاۤ اٰمَنَّا  ۚ  وَاِذَا خَلَا بَعْضُهُمْ اِلٰى بَعْضٍ قَالُوْاۤ  اَتُحَدِّثُوْنَهُمْ بِمَا فَتَحَ اللّٰهُ عَلَيْكُمْ لِيُحَآ جُّوْكُمْ بِهٖ عِنْدَ رَبِّكُمْ ۗ  اَفَلَا تَعْقِلُوْنَ
wa izaa laqullaziina aamanuu qooluuu aamannaa, wa izaa kholaa ba'dhuhum ilaa ba'dhing qooluuu a tuhaddisuunahum bimaa fatahallohu 'alaikum liyuhaaajjuukum bihii 'inda robbikum, a fa laa ta'qiluun

"Dan apabila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka berkata, Kami telah beriman. Tetapi apabila kembali kepada sesamanya, mereka bertanya, Apakah akan kamu ceritakan kepada mereka apa yang telah diterangkan Allah kepadamu sehingga mereka dapat menyanggah kamu di hadapan Tuhanmu? Tidakkah kamu mengerti?"

[77]
اَوَلَا يَعْلَمُوْنَ اَنَّ اللّٰهَ يَعْلَمُ مَا يُسِرُّوْنَ وَمَا يُعْلِنُوْنَ
a wa laa ya'lamuuna annalloha ya'lamu maa yusirruuna wa maa yu'linuun

"Dan tidakkah mereka <5> tahu bahwa Allah mengetahui apa yang mereka sembunyikan (pikiran) dan apa yang mereka nyatakan (tindakan)?"

[78]
وَ مِنْهُمْ اُمِّيُّوْنَ لَا يَعْلَمُوْنَ الْكِتٰبَ اِلَّاۤ اَمَانِيَّ وَاِنْ هُمْ اِلَّا  يَظُنُّوْنَ
wa min-hum ummiyyuuna laa ya'lamuunal-kitaaba illaaa amaaniyya wa in hum illaa yazhunnuun

"Dan di antara mereka ada yang buta huruf, tidak memahami Kitab (Taurat) kecuali hanya berangan-angan dan mereka hanya menduga-duga."

[79]
فَوَيْلٌ لِّلَّذِيْنَ يَكْتُبُوْنَ الْكِتٰبَ بِاَيْدِيْهِمْ ثُمَّ يَقُوْلُوْنَ هٰذَا مِنْ عِنْدِ اللّٰهِ   لِيَشْتَرُوْا بِهٖ ثَمَنًا قَلِيْلًا  ۗ  فَوَيْلٌ لَّهُمْ مِّمَّا کَتَبَتْ اَيْدِيْهِمْ وَوَيْلٌ لَّهُمْ مِّمَّا يَكْسِبُوْنَ
fa wailul lillaziina yaktubuunal-kitaaba bi`aidiihim summa yaquuluuna haazaa min 'indillaahi liyasytaruu bihii samanang qoliilaa, fa wailul lahum mimmaa katabat aidiihim wa wailul lahum mimmaa yaksibuun

"Maka celakalah orang-orang yang menulis kitab dengan tangan mereka (sendiri) kemudian berkata, Ini dari Allah, (dengan maksud) untuk menjualnya dengan harga murah. Maka celakalah mereka <7> karena tulisan tangan mereka <5> dan celakalah mereka <7> karena apa yang mereka <5> perbuat."

[80]
وَقَالُوْا لَنْ تَمَسَّنَا النَّارُ اِلَّاۤ اَيَّامًا مَّعْدُوْدَةً   ۗ  قُلْ اَتَّخَذْتُمْ عِنْدَ اللّٰهِ عَهْدًا فَلَنْ يُّخْلِفَ اللّٰهُ عَهْدَهٗۤ اَمْ تَقُوْلُوْنَ عَلَى اللّٰهِ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ
wa qooluu lan tamassanan-naaru illaaa ayyaamam ma'duudah, qul attakhoztum 'indallohi 'ahdan fa lay yukhlifallohu 'ahdahuuu am taquuluuna 'alallohi maa laa ta'lamuun

"Dan mereka <5> berkata, Neraka tidak akan menyentuh kami <7> kecuali beberapa hari saja.
Katakanlah, Sudahkah kamu menerima janji dari Allah sehingga Allah tidak akan mengingkari janji-Nya, ataukah kamu mengatakan tentang Allah, sesuatu yang tidak kamu ketahui?"

[81]
بَلٰى مَنْ كَسَبَ سَيِّئَةً وَّاَحَاطَتْ بِهٖ خَطِيْۤــئَتُهٗ فَاُولٰٓئِكَ اَصْحٰبُ النَّارِ ۚ  هُمْ فِيْهَا خٰلِدُوْنَ
balaa mang kasaba sayyi`ataw wa `ahaathot bihii khothiii`atuhuu fa ulaaa`ika ash-haabun-naar, hum fiihaa khooliduun

"Bukan demikian! Barang siapa <5> berbuat keburukan dan dosanya telah menenggelamkannya, maka mereka <7> itu penghuni neraka.
Mereka <7> kekal di dalamnya."

[82]
وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ اُولٰٓئِكَ اَصْحٰبُ الْجَـنَّةِ  ۚ  هُمْ فِيْهَا خٰلِدُوْنَ
wallaziina aamanuu wa 'amilush-shoolihaati ulaaa`ika ash-haabul-jannah, hum fiihaa khooliduun

"Dan orang-orang <5> yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka <7> itu penghuni surga.
Mereka <7> kekal di dalamnya."

[83]
وَاِذْ اَخَذْنَا مِيْثَاقَ بَنِيْۤ اِسْرَآءِيْلَ لَا تَعْبُدُوْنَ اِلَّا اللّٰهَ وَبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسَانًا وَّذِى الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰکِيْنِ وَقُوْلُوْا لِلنَّاسِ حُسْنًا وَّاَقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَاٰتُوا الزَّکٰوةَ  ۗ  ثُمَّ تَوَلَّيْتُمْ اِلَّا قَلِيْلًا مِّنْکُمْ وَاَنْـتُمْ مُّعْرِضُوْنَ
wa iz akhoznaa miisaaqo baniii isrooo`iila laa ta'buduuna illalloha wa bil-waalidaini ihsaanaw wa zil-qurbaa wal-yataamaa wal-masaakiini wa quuluu lin-naasi husnaw wa aqiimush-sholaata wa aatuz-zakaah, summa tawallaitum illaa qoliilam mingkum wa antum mu'ridhuun

"Dan (ingatlah) ketika kami mengambil janji dari Bani Israil, Janganlah kamu <5> menyembah selain Allah dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin. Dan bertutur katalah yang baik kepada manusia, laksanakanlah sholat dan tunaikanlah zakat. Tetapi kemudian kamu berpaling (mengingkari) kecuali sebagian kecil dari kamu dan kamu (masih menjadi) pembangkang."

[84]
وَاِذْ اَخَذْنَا مِيْثَاقَكُمْ لَا تَسْفِكُوْنَ دِمَآءَكُمْ وَلَا تُخْرِجُوْنَ اَنْفُسَكُمْ مِّنْ دِيَارِكُمْ ثُمَّ اَقْرَرْتُمْ وَاَنْـتُمْ تَشْهَدُوْنَ
wa iz akhoznaa miisaaqokum laa tasfikuuna dimaaa`akum wa laa tukhrijuuna anfusakum min diyaarikum summa aqrortum wa antum tasy-haduun

"Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil janji kamu, Janganlah kamu menumpahkan darahmu (membunuh orang) dan mengusir dirimu (saudara sebangsamu) dari kampung halamanmu. Kemudian, kamu berikrar dan bersaksi.

[85]
ثُمَّ اَنْـتُمْ هٰۤؤُلَآ ءِ تَقْتُلُوْنَ اَنْفُسَكُمْ وَتُخْرِجُوْنَ فَرِيْقًا مِّنْكُمْ مِّنْ دِيَارِهِمْ  ۖ  تَظٰهَرُوْنَ عَلَيْهِمْ بِالْاِثْمِ وَالْعُدْوَانِ  ۗ  وَاِنْ يَّأْتُوْكُمْ اُسٰرٰى تُفٰدُوْهُمْ وَهُوَ مُحَرَّمٌ عَلَيْكُمْ اِخْرَاجُهُمْ ۗ  اَفَتُؤْمِنُوْنَ بِبَعْضِ الْكِتٰبِ وَتَكْفُرُوْنَ بِبَعْضٍ ۚ  فَمَا جَزَآءُ مَنْ يَّفْعَلُ ذٰلِكَ مِنْکُمْ اِلَّا خِزْيٌ فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا  ۚ  وَيَوْمَ الْقِيٰمَةِ يُرَدُّوْنَ اِلٰۤى اَشَدِّ الْعَذَابِ  ۗ  وَمَا اللّٰهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُوْنَ
summa antum haaa`ulaaa`i taqtuluuna anfusakum wa tukhrijuuna fariiqom mingkum min diyaarihim tazhooharuuna 'alaihim bil-ismi wal-'udwaan, wa iy ya`tuukum usaaroo tufaaduuhum wa huwa muharromun 'alaikum ikhroojuhum, a fa tu`minuuna biba'dhil-kitaabi wa takfuruuna biba'dh, fa maa jazaaa`u may yaf'alu zaalika mingkum illaa khizyun fil-hayaatid-dun-yaa, wa yaumal-qiyaamati yurodduuna ilaaa asyaddil-'azaab, wa mallohu bighoofilin 'ammaa ta'maluun

"Kemudian, kamu (Bani Israil) membunuh dirimu (sesamamu) dan mengusir segolongan dari kamu dari kampung halamannya. Kamu saling membantu (menghadapi) mereka dalam kejahatan dan permusuhan. Dan jika mereka datang kepadamu sebagai tawanan, kamu tebus mereka, padahal kamu dilarang mengusir mereka. Apakah kamu beriman kepada sebagian Kitab (Taurat) dan ingkar kepada sebagian (yang lain)?
Maka tidak ada balasan (yang pantas) bagi orang <5> yang berbuat demikian di antara kamu selain kenistaan dalam kehidupan dunia dan pada hari Kiamat mereka <7> dikembalikan kepada azab yang paling berat. Dan Allah tidak lengah terhadap apa yang kamu <5> kerjakan."

[86]
اُولٰٓئِكَ الَّذِيْنَ اشْتَرَوُا الْحَيٰوةَ الدُّنْيَا بِالْاٰخِرَةِ  ۖ  فَلَا يُخَفَّفُ عَنْهُمُ الْعَذَابُ وَلَا هُمْ يُنْصَرُوْنَ
ulaaa`ikallaziinasytarowul-hayaatad-dun-yaa bil-aakhiroti fa laa yukhoffafu 'an-humul-'azaabu wa laa hum yunshoruun

"Mereka <5> itulah orang-orang yang membeli kehidupan dunia dengan (kehidupan) akhirat. Maka tidak akan diringankan azabnya dan mereka <7> tidak akan ditolong."

[87]
وَ لَقَدْ اٰتَيْنَا مُوْسَى الْكِتٰبَ وَقَفَّيْنَا مِنْۢ بَعْدِهٖ بِالرُّسُلِ ۖ   وَاٰتَيْنَا عِيْسَى ابْنَ مَرْيَمَ الْبَيِّنٰتِ وَاَيَّدْنٰهُ بِرُوْحِ الْقُدُسِ ۗ  اَفَكُلَّمَا جَآءَكُمْ رَسُوْلٌۢ بِمَا لَا تَهْوٰۤى اَنْفُسُكُمُ اسْتَكْبَرْتُمْ ۚ   فَفَرِيْقًا كَذَّبْتُمْ وَفَرِيْقًا تَقْتُلُوْنَ
wa laqod aatainaa muusal-kitaaba wa qoffainaa mim ba'dihii bir-rusuli wa aatainaa 'iisabna maryamal-bayyinaati wa ayyadnaahu biruuhil-qudus, a fa kullamaa jaaa`akum rosuulum bimaa laa tahwaaa anfusukumustakbartum, fa fariiqong kazzabtum wa fariiqon taqtuluun

"Dan sungguh, Kami telah memberikan Kitab (Taurat) kepada Musa, dan Kami susulkan setelahnya dengan rasul-rasul, dan Kami telah memberikan kepada Isa putra Maryam bukti-bukti kebenaran serta Kami memperkuat dia dengan Rohul Qudus <6+>.
Mengapa setiap rasul yang datang kepadamu (membawa) sesuatu (pelajaran) yang tidak kamu inginkan, kamu menyombongkan diri, lalu sebagian kamu dustakan dan sebagian kamu bunuh?"

[88]
وَقَالُوْا قُلُوْبُنَا غُلْفٌ  ۗ  بَلْ لَّعَنَهُمُ اللّٰهُ بِكُفْرِهِمْ فَقَلِيْلًا مَّا يُؤْمِنُوْنَ
wa qooluu quluubunaa ghulf, bal la'anahumullohu bikufrihim fa qoliilam maa yu`minuun

"Dan mereka <5> berkata, Hati kami tertutup. Tidak! Allah telah melaknat mereka <7> itu karena keingkaran mereka <7>, tetapi sedikit sekali mereka <5> yang beriman."

[89]
وَلَمَّا جَآءَهُمْ كِتٰبٌ مِّنْ عِنْدِ اللّٰهِ مُصَدِّقٌ لِّمَا مَعَهُمْ ۙ  وَكَانُوْا مِنْ قَبْلُ يَسْتَفْتِحُوْنَ عَلَى الَّذِيْنَ كَفَرُوْا  ۚ  فَلَمَّا جَآءَهُمْ مَّا عَرَفُوْا کَفَرُوْا بِهٖ ۖ  فَلَعْنَةُ اللّٰهِ عَلَى الْكٰفِرِيْنَ
wa lammaa jaaa`ahum kitaabum min 'indillaahi mushoddiqul limaa ma'ahum wa kaanuu ming qoblu yastaftihuuna 'alallaziina kafaruu, fa lammaa jaaa`ahum maa 'arofuu kafaruu bihii fa la'natullohi 'alal-kaafiriin

"Dan setelah sampai kepada mereka <5> Kitab (Al-Qur'an) dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka, sedangkan sebelumnya mereka memohon kemenangan atas orang-orang kafir, ternyata setelah sampai kepada mereka <5> apa yang telah mereka ketahui itu, mereka mengingkarinya. Maka laknat Allah bagi orang-orang <7> yang ingkar."

[90]
بِئْسَمَا اشْتَرَوْا بِهٖۤ اَنْفُسَهُمْ اَنْ يَّكْفُرُوْا بِمَاۤ اَنْزَلَ اللّٰهُ بَغْيًا  اَنْ يُّنَزِّلَ اللّٰهُ مِنْ فَضْلِهٖ عَلٰى مَنْ يَّشَآءُ مِنْ عِبَادِهٖ ۚ   فَبَآءُوْ بِغَضَبٍ عَلٰى غَضَبٍ ۗ  وَلِلْكٰفِرِيْنَ عَذَابٌ  مُّهِيْنٌ
bi`samasytarou bihiii anfusahum ay yakfuruu bimaaa anzalallohu baghyan ay yunazzilallohu min fadhlihii 'alaa may yasyaaa`u min 'ibaadih, fa baaa`uu bighodhobin 'alaa ghodhob, wa lil-kaafiriina 'azaabum muhiin

"Sangatlah buruk (perbuatan) mereka <5> menjual dirinya <7> dengan mengingkari apa yang diturunkan Allah karena dengki bahwa Allah menurunkan karunia-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya.
Karena itulah mereka menanggung kemurkaan demi kemurkaan. Dan kepada orang-orang kafir (ditimpakan) azab yang menghinakan."

[91]
وَاِذَا قِيْلَ لَهُمْ اٰمِنُوْا بِمَاۤ اَنْزَلَ اللّٰهُ قَالُوْا نُؤْمِنُ بِمَاۤ اُنْزِلَ عَلَيْنَا وَيَكْفُرُوْنَ بِمَا وَرَآءَهٗ وَهُوَ الْحَـقُّ مُصَدِّقًا لِّمَا مَعَهُمْ  ۗ  قُلْ فَلِمَ تَقْتُلُوْنَ اَنْـــۢبِيَآءَ اللّٰهِ مِنْ قَبْلُ اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ
wa izaa qiila lahum aaminuu bimaaa anzalallohu qooluu nu`minu bimaaa unzila 'alainaa wa yakfuruuna bimaa warooo`ahuu wa huwal-haqqu mushoddiqol limaa ma'ahum, qul fa lima taqtuluuna ambiyaaa`allohi ming qoblu ing kuntum mu`miniin

"Dan apabila dikatakan kepada mereka <5>, Berimanlah kepada apa yang diturunkan Allah (Al-Qur'an), Mereka menjawab, Kami beriman kepada apa yang diturunkan kepada kami. Dan mereka <5> ingkar kepada apa yang setelahnya, padahal (Al-Qur'an) itu adalah yang hak yang membenarkan apa yang ada pada mereka. Katakanlah (Muhammad), Mengapa kamu dahulu membunuh nabi-nabi Allah jika kamu orang-orang beriman?"

[92]
وَلَقَدْ جَآءَکُمْ مُّوْسٰى بِالْبَيِّنٰتِ ثُمَّ اتَّخَذْتُمُ الْعِجْلَ مِنْۢ بَعْدِهٖ وَاَنْـتُمْ ظٰلِمُوْنَ
wa laqod jaaa`akum muusaa bil-bayyinaati summattakhoztumul-'ijla mim ba'dihii wa antum zhoolimuun

"Dan sungguh, Musa telah datang kepadamu dengan bukti-bukti kebenaran, kemudian kamu mengambil (patung) anak sapi (sebagai sesembahan) setelah (kepergian)nya dan kamu <5> (menjadi) orang-orang zalim."

[93]
وَاِذْ اَخَذْنَا مِيْثَاقَكُمْ وَرَفَعْنَا فَوْقَکُمُ الطُّوْرَ  ۗ  خُذُوْا مَاۤ اٰتَيْنٰکُمْ بِقُوَّةٍ وَّاسْمَعُوْا  ۗ  قَالُوْا سَمِعْنَا وَعَصَيْنَا وَاُشْرِبُوْا فِيْ قُلُوْبِهِمُ الْعِجْلَ بِکُفْرِهِمْ  ۗ  قُلْ بِئْسَمَا يَأْمُرُکُمْ بِهٖۤ اِيْمَانُكُمْ اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ
wa iz akhoznaa miisaaqokum wa rofa'naa fauqokumuth-thuur, khuzuu maaa aatainaakum biquwwatiw wasma'uu, qooluu sami'naa wa 'ashoinaa wa usyribuu fii quluubihimul-'ijla bikufrihim, qul bi`samaa ya`murukum bihiii iimaanukum ing kuntum mu`miniin

"Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil janji kamu dan Kami angkat Gunung (Sinai) di atasmu (seraya berfirman), Pegang teguhlah apa yang Kami berikan kepadamu dan dengarkanlah! Mereka <5> menjawab, Kami mendengarkan tetapi kami tidak menaati. Dan diresapkanlah ke dalam hati mereka <5> itu (kecintaan menyembah patung) anak sapi karena kekafiran mereka <5>.
Katakanlah, Sangat buruk (akibatnya terhadap Diri-Sejatimu) apa yang diperintahkan oleh kepercayaanmu kepadamu jika kamu <5> orang-orang beriman!"

[94]
قُلْ اِنْ كَانَتْ لَـکُمُ الدَّارُ الْاٰخِرَةُ عِنْدَ اللّٰهِ خَالِصَةً مِّنْ  دُوْنِ النَّاسِ فَتَمَنَّوُا الْمَوْتَ اِنْ کُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ
qul ing kaanat lakumud-daarul-aakhirotu 'indallohi khoolishotam min duunin-naasi fa tamannawul-mauta ing kuntum shoodiqiin

"Katakanlah (Muhammad), Jika negeri akhirat di sisi Allah, khusus untuk <7>mu saja bukan untuk orang lain, maka mintalah kematian jika kamu <5> orang yang benar."

[95]
وَ لَنْ يَّتَمَنَّوْهُ اَبَدًاۢ بِمَا قَدَّمَتْ اَيْدِيْهِمْ ۗ  وَاللّٰهُ عَلِيْمٌۢ  بِالظّٰلِمِيْنَ
wa lay yatamannauhu abadam bimaa qoddamat aidiihim, wallohu 'aliimum bizh-zhoolimiin

"Tetapi mereka <5> tidak akan menginginkan kematian itu sama sekali karena dosa-dosa yang telah dilakukan tangan-tangan mereka <5>.
Dan Allah Maha Mengetahui orang-orang zalim."

[96]
وَلَتَجِدَنَّهُمْ اَحْرَصَ النَّاسِ عَلٰى حَيٰوةٍ  ۛ  وَ مِنَ الَّذِيْنَ اَشْرَكُوْا  ۛ  يَوَدُّ اَحَدُهُمْ لَوْ يُعَمَّرُ اَ لْفَ سَنَةٍ  ۚ  وَمَا هُوَ بِمُزَحْزِحِهٖ مِنَ الْعَذَابِ اَنْ يُّعَمَّرَ ۗ  وَاللّٰهُ بَصِيْرٌۢ بِمَا يَعْمَلُوْنَ
wa latajidannahum ahroshon-naasi 'alaa hayaah, wa minallaziina asyrokuu yawaddu ahaduhum lau yu'ammaru alfa sanah, wa maa huwa bimuzahzihihii minal-'azaabi ay yu'ammar, wallohu bashiirum bimaa ya'maluun

"Dan sungguh, engkau (Muhammad) akan mendapati mereka (orang-orang Yahudi), manusia yang paling tamak akan kehidupan (dunia), bahkan (lebih tamak) dari orang-orang musyrik.
Masing-masing dari mereka <5> ingin diberi umur seribu tahun, padahal umur panjang itu tidak akan menjauhkan mereka <7> dari azab. Dan Allah Maha Melihat apa yang mereka <5> kerjakan."

[97]
قُلْ مَنْ كَانَ عَدُوًّا لِّجِبْرِيْلَ فَاِنَّهٗ نَزَّلَهٗ  عَلٰى قَلْبِكَ بِاِذْنِ اللّٰهِ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَهُدًى  وَّبُشْرٰى لِلْمُؤْمِنِيْنَ
qul mang kaana 'aduwwal lijibriila fa innahuu nazzalahuu 'alaa qolbika bi`iznillaahi mushoddiqol limaa baina yadaihi wa hudaw wa busyroo lil-mu`miniin

"Katakanlah (Muhammad), Barang siapa <5> menjadi musuh Jibril maka (ketahuilah) bahwa dialah yang telah menurunkan (Al-Qur'an) ke dalam hatimu dengan izin Allah, membenarkan apa (kitab-kitab) yang terdahulu, dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang <5> beriman."

[98]
مَنْ كَانَ عَدُوًّا لِّـلّٰهِ وَمَلٰٓئِکَتِهٖ وَ رُسُلِهٖ وَجِبْرِيْلَ وَمِيْكٰٮلَ فَاِنَّ اللّٰهَ عَدُوٌّ لِّلْكٰفِرِيْنَ
mang kaana 'aduwwal lillaahi wa malaaa`ikatihii wa rusulihii wa jibriila wa miikaala fa innalloha 'aduwwul lil-kaafiriin

"Barang siapa menjadi musuh Allah, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril, dan Mikail maka sesungguhnya Allah musuh bagi orang-orang <5> kafir."

Iqro ayat 97-98 :
"Dan sungguh, (Al-Qur'an) ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan seluruh alam,"
"Yang dibawa turun oleh Ar ruh al amin" (Jibril),"
(Asy-Syu'ara' 26:  192-193)

Jibril adalah ruh Al-Amin...., ruh yang terpercaya..., esensinya lebih tinggi daripada malaikat.
Dan potensinya melebihi ruh <6> yang ditiupkanNya kedalam tubuh manusia.

"Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, Sungguh...Aku akan menciptakan seorang manusia <5> dari tanah liat kering dari lumpur hitam yang diberi bentuk.
Maka apabila Aku telah menyempurnakannya, dan Aku telah meniupkan ruh-Ku <6> ke dalamnya, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.
Maka bersujudlah para malaikat itu semuanya bersama-sama.
(Al Hijr 28-30)

[99]
وَلَقَدْ اَنْزَلْنَاۤ اِلَيْكَ اٰيٰتٍۢ بَيِّنٰتٍ ۚ  وَمَا يَكْفُرُ بِهَاۤ اِلَّا  الْفٰسِقُوْنَ
wa laqod anzalnaaa ilaika aayaatim bayyinaat, wa maa yakfuru bihaaa illal-faasiquun

"Dan sungguh, Kami telah menurunkan ayat-ayat yang jelas kepadamu (Muhammad) dan tidaklah ada yang mengingkarinya selain orang-orang <5> fasik."

[100]
اَوَکُلَّمَا عٰهَدُوْا عَهْدًا نَّبَذَهٗ فَرِيْقٌ مِّنْهُمْ ۗ   بَلْ اَكْثَرُهُمْ لَا يُؤْمِنُوْنَ
a wa kullamaa 'aahaduu 'ahdan nabazahuu fariiqum min-hum, bal aksaruhum laa yu`minuun

"Dan mengapa setiap kali mereka <5> mengikat janji, sekelompok mereka melanggarnya? Sedangkan sebagian besar mereka tidak beriman."

[101]

وَلَمَّا جَآءَهُمْ رَسُوْلٌ مِّنْ عِنْدِ اللّٰهِ مُصَدِّقٌ لِّمَا مَعَهُمْ نَبَذَ فَرِيْقٌ مِّنَ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ  ۙ  کِتٰبَ اللّٰهِ وَرَآءَ ظُهُوْرِهِمْ كَاَنَّهُمْ لَا يَعْلَمُوْنَ
wa lammaa jaaa`ahum rosuulum min 'indillaahi mushoddiqul limaa ma'ahum nabaza fariiqum minallaziina uutul-kitaaba kitaaballohi warooo`a zhuhuurihim ka`annahum laa ya'lamuun

"Dan setelah datang kepada mereka <5> seorang Rasul (Muhammad) dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka, sebagian dari orang-orang <5> yang diberi Kitab (Taurat) melemparkan (menyembunyikan) Kitab Allah itu ke belakang, seakan-akan mereka tidak mengetahui."

[102]
وَاتَّبَعُوْا مَا تَتْلُوا الشَّيٰطِيْنُ عَلٰى مُلْكِ سُلَيْمٰنَ  ۚ  وَمَا کَفَرَ سُلَيْمٰنُ وَلٰـكِنَّ الشَّيٰـطِيْنَ كَفَرُوْا يُعَلِّمُوْنَ النَّاسَ السِّحْرَ وَمَاۤ اُنْزِلَ عَلَى الْمَلَـکَيْنِ بِبَابِلَ هَارُوْتَ وَمَارُوْتَ  ۗ  وَمَا يُعَلِّمٰنِ مِنْ اَحَدٍ حَتّٰى يَقُوْلَاۤ اِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ  ۗ  فَيَتَعَلَّمُوْنَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُوْنَ بِهٖ بَيْنَ الْمَرْءِ وَ زَوْجِهٖ  ۗ  وَمَا هُمْ بِضَآ رِّيْنَ بِهٖ مِنْ اَحَدٍ اِلَّا بِاِذْنِ اللّٰهِ  ۗ  وَيَتَعَلَّمُوْنَ مَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ  ۗ  وَلَقَدْ عَلِمُوْا لَمَنِ اشْتَرٰٮهُ مَا لَهٗ فِى الْاٰخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ  ۗ  وَلَبِئْسَ مَا شَرَوْا بِهٖۤ اَنْفُسَهُمْ  ۗ  لَوْ کَانُوْا يَعْلَمُوْنَ
wattaba'uu maa tatlusy-syayaathiinu 'alaa mulki sulaimaan, wa maa kafaro sulaimaanu wa laakinnasy-syayaathiina kafaruu yu'allimuunan-naasas-sihro wa maaa unzila 'alal-malakaini bibaabila haaruuta wa maaruut, wa maa yu'allimaani min ahadin hattaa yaquulaaa innamaa nahnu fitnatun fa laa takfur, fa yata'allamuuna min-humaa maa yufarriquuna bihii bainal-mar'i wa zaujih, wa maa hum bidhooorriina bihii min ahadin illaa bi`iznillaah, wa yata'allamuuna maa yadhurruhum wa laa yanfa'uhum, wa laqod 'alimuu lamanisytaroohu maa lahuu fil-aakhiroti min kholaaq, wa labi`sa maa syarou bihiii anfusahum, lau kaanuu ya'lamuun

"Dan mereka <5> mengikuti apa yang dibaca oleh setan-setan (yang menyusup dipikiran manusia<5>) pada masa Kerajaan Sulaiman. Sulaiman itu tidak kafir tetapi setan-setan itulah yang kafir, mereka mengajarkan sihir kepada manusia <5> dan apa yang diturunkan kepada dua malaikat di negeri Babilonia, yaitu Harut dan Marut.
Padahal, keduanya tidak mengajarkan sesuatu kepada seseorang sebelum mengatakan, Sesungguhnya kami hanyalah cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kafir. Maka mereka mempelajari dari keduanya (malaikat itu) apa yang (dapat) memisahkan antara seorang (suami) dengan istrinya. Mereka <5> tidak akan dapat mencelakakan seseorang dengan sihirnya kecuali dengan izin Allah. Mereka <5> mempelajari sesuatu yang mencelakakan dan tidak memberi manfaat kepada mereka <7>. Dan sungguh, mereka <5> sudah tahu, barang siapa membeli (menggunakan sihir) itu, niscaya tidak akan mendapat keuntungan di akhirat. Dan sungguh, sangatlah buruk perbuatan mereka <5>  yang menjual dirinya <7> dengan sihir, sekiranya mereka <5> tahu."

[103]
وَلَوْ اَنَّهُمْ اٰمَنُوْا وَاتَّقَوْا لَمَثُوْبَةٌ مِّنْ عِنْدِ اللّٰهِ خَيْرٌ  ۗ  لَوْ كَانُوْا يَعْلَمُوْنَ
walau annahum aamanuu wattaqou lamasuubatum min 'indillaahi khoiir, lau kaanuu ya'lamuun

"Dan jika mereka <5> beriman dan bertakwa, pahala dari Allah pasti lebih baik, sekiranya mereka tahu."

[104]
يٰۤاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَقُوْلُوْا رَاعِنَا وَ قُوْلُوا انْظُرْنَا وَاسْمَعُوْا  ۗ  وَلِلْكٰفِرِيْنَ عَذَابٌ اَلِيْمٌ
yaaa ayyuhallaziina aamanuu laa taquuluu roo'inaa wa quulunzhurnaa wasma'uu wa lil-kaafiriina 'azaabun aliim

"Wahai orang-orang <5> yang beriman! Janganlah kamu katakan Ra'ina, tetapi katakanlah, Unzurna, dan dengarkanlah. Dan orang-orang <7> kafir akan mendapat azab yang pedih."

[105]
مَا يَوَدُّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْ اَهْلِ الْكِتٰبِ وَلَا الْمُشْرِكِيْنَ اَنْ يُّنَزَّلَ عَلَيْكُمْ مِّنْ خَيْرٍ مِّنْ رَّبِّکُمْ ۗ  وَاللّٰهُ يَخْتَصُّ بِرَحْمَتِهٖ مَنْ يَّشَآءُ  ۗ  وَاللّٰهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيْمِ
maa yawaddullaziina kafaruu min ahlil-kitaabi wa lal-musyrikiina ay yunazzala 'alaikum min khoirim mir robbikum, wallohu yakhtashshu birohmatihii may yasyaaa`, wallohu zul-fadhlil-'azhiim

"Orang-orang <5> yang kafir dari Ahli Kitab dan orang-orang musyrik tidak menginginkan diturunkannya kepadamu suatu kebaikan dari Tuhanmu. Tetapi secara khusus Allah memberikan rahmat-Nya kepada orang yang Dia kehendaki. Dan Allah pemilik karunia yang besar."

[106]
مَا نَنْسَخْ مِنْ اٰيَةٍ اَوْ نُنْسِهَا نَأْتِ بِخَيْرٍ مِّنْهَاۤ اَوْ مِثْلِهَا  ۗ  اَلَمْ تَعْلَمْ اَنَّ اللّٰهَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
maa nansakh min aayatin au nunsihaa na`ti bikhoirim min-haaa au mislihaa, a lam ta'lam annalloha 'alaa kulli syai`ing qodiir

"Ayat yang Kami batalkan atau Kami hilangkan dari ingatan, pasti Kami ganti dengan yang lebih baik atau yang sebanding dengannya. Tidakkah kamu tahu bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu?"

[107]
اَلَمْ تَعْلَمْ اَنَّ اللّٰهَ لَهٗ  مُلْكُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ ۗ  وَمَا لَـکُمْ مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ مِنْ  وَّلِيٍّ وَّلَا نَصِيْرٍ
a lam ta'lam annalloha lahuu mulkus-samaawaati wal-ardh, wa maa lakum min duunillaahi miw waliyyiw wa laa nashiir

"Tidakkah kamu tahu bahwa Allah memiliki kerajaan langit dan bumi? Dan tidak ada bagimu pelindung dan penolong selain Allah."

[108]
اَمْ تُرِيْدُوْنَ اَنْ تَسْئَـلُوْا رَسُوْلَـكُمْ كَمَا سُئِلَ مُوْسٰى مِنْ قَبْلُ ۗ  وَمَنْ يَّتَبَدَّلِ الْکُفْرَ بِالْاِيْمَانِ  فَقَدْ ضَلَّ سَوَآءَ السَّبِيْلِ
am turiiduuna an tas`aluu rosuulakum kamaa su`ila muusaa ming qobl, wa may yatabaddalil-kufro bil-iimaani fa qod dholla sawaaa`as-sabiil

"Ataukah kamu hendak meminta kepada Rasulmu (Muhammad) seperti halnya Musa (pernah) diminta (Bani Israil) dahulu? Barang siapa mengganti keimanan dengan kekafiran, maka sungguh, dia telah tersesat dari jalan yang lurus."

[109]
وَدَّ کَثِيْرٌ مِّنْ اَهْلِ الْكِتٰبِ  لَوْ يَرُدُّوْنَكُمْ مِّنْۢ بَعْدِ اِيْمَانِكُمْ كُفَّارًا  ۚ  حَسَدًا مِّنْ عِنْدِ  اَنْفُسِهِمْ مِّنْۢ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْحَـقُّ  ۚ  فَاعْفُوْا  وَاصْفَحُوْا حَتّٰى يَأْتِيَ اللّٰهُ بِاَمْرِهٖ  ۗ  اِنَّ اللّٰهَ عَلٰى کُلِّ شَيْءٍ  قَدِيْرٌ
wadda kasiirum min ahlil-kitaabi lau yarudduunakum mim ba'di iimaanikum kuffaaroo, hasadam min 'indi anfusihim mim ba'di maa tabayyana lahumul-haqq, fa'fuu washfahuu hattaa ya`tiyallohu bi`amrih, innalloha 'alaa kulli syai`ing qodiir

"Banyak di antara Ahli Kitab menginginkan sekiranya mereka <5> dapat mengembalikan kamu setelah kamu <5> beriman, menjadi kafir kembali, karena rasa dengki dalam diri mereka setelah kebenaran jelas bagi mereka. Maka maafkanlah dan berlapang dadalah sampai Allah memberikan perintah-Nya. Sungguh, Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu."

[110]
وَاَقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَاٰتُوا الزَّکٰوةَ   ۗ  وَمَا تُقَدِّمُوْا لِاَنْفُسِكُمْ مِّنْ خَيْرٍ تَجِدُوْهُ عِنْدَ اللّٰهِ  ۗ  اِنَّ اللّٰهَ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌ
wa aqiimush-sholaata wa aatuz-zakaah, wa maa tuqoddimuu li`anfusikum min khoirin tajiduuhu 'indalloh, innalloha bimaa ta'maluuna bashiir

"Dan laksanakanlah sholat dan tunaikanlah zakat. Dan segala kebaikan yang kamu <5> kerjakan untuk dirimu <7>, kamu akan mendapatkannya (pahala) di sisi Allah. Sungguh, Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan."

[111]
وَقَالُوْا لَنْ يَّدْخُلَ الْجَـنَّةَ اِلَّا مَنْ كَانَ هُوْدًا  اَوْ نَصٰرٰى ۗ  تِلْكَ اَمَانِيُّهُمْ ۗ  قُلْ هَاتُوْا بُرْهَانَکُمْ اِنْ کُنْتُمْ  صٰدِقِيْنَ
wa qooluu lay yadkhulal-jannata illaa mang kaana huudan au nashooroo, tilka amaaniyyuhum, qul haatuu bur-haanakum ing kuntum shoodiqiin

"Dan mereka (Yahudi dan Nasrani) berkata, Tidak akan masuk surga kecuali orang Yahudi atau Nasrani. Itu (hanya) angan-angan mereka <5>. Katakanlah, Tunjukkan bukti kebenaranmu jika kamu <5> orang yang benar."

[112]
بَلٰى مَنْ اَسْلَمَ وَجْهَهٗ لِلّٰهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَلَهٗۤ اَجْرُهٗ عِنْدَ رَبِّهٖ  ۖ  وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَ
balaa man aslama waj-hahuu lillaahi wa huwa muhsinun fa lahuuu ajruhuu 'inda robbihii wa laa khoufun 'alaihim wa laa hum yahzanuun

"Tidak! Barang siapa berserah diri sepenuhnya kepada Allah dan dia <5>  berbuat baik, dia <7> mendapat pahala di sisi Tuhannya dan tidak ada rasa takut pada mereka <7> dan mereka <7> tidak bersedih hati."

[113]
وَقَالَتِ الْيَهُوْدُ لَـيْسَتِ النَّصٰرٰى عَلٰى شَيْءٍ ۖ  وَّقَالَتِ النَّصٰرٰى لَـيْسَتِ الْيَهُوْدُ عَلٰى شَيْءٍ ۙ  وَّهُمْ يَتْلُوْنَ الْكِتٰبَ ۗ  كَذٰلِكَ قَالَ الَّذِيْنَ لَا يَعْلَمُوْنَ مِثْلَ قَوْلِهِمْ ۚ  فَاللّٰهُ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ فِيْمَا كَانُوْا فِيْهِ يَخْتَلِفُوْنَ
wa qoolatil-yahuudu laisatin-nashooroo 'alaa syai`iw wa qoolatin-nashooroo laisatil-yahuudu 'alaa syai`iw wa hum yatluunal-kitaab, kazaalika qoolallaziina laa ya'lamuuna misla qoulihim, fallohu yahkumu bainahum yaumal-qiyaamati fiimaa kaanuu fiihi yakhtalifuun

"Dan orang Yahudi <5> berkata, Orang Nasrani itu tidak memiliki sesuatu (pegangan), dan orang-orang Nasrani <5> (juga) berkata, Orang-orang Yahudi tidak memiliki sesuatu (pegangan), padahal mereka membaca kitab. Demikian pula orang-orang <5> yang tidak berilmu, berkata seperti ucapan mereka itu.
Maka Allah akan mengadili mereka <7>  pada hari Kiamat, tentang apa yang mereka <7> perselisihkan."

[114]
وَمَنْ اَظْلَمُ مِمَّنْ مَّنَعَ مَسٰجِدَ اللّٰهِ اَنْ يُّذْكَرَ فِيْهَا اسْمُهٗ وَسَعٰـى فِيْ خَرَابِهَا  ۗ  اُولٰٓئِكَ مَا كَانَ لَهُمْ اَنْ يَّدْخُلُوْهَاۤ اِلَّا خَآئِفِيْنَ  ۗ  لَهُمْ فِى الدُّنْيَا خِزْيٌ وَّلَهُمْ فِى الْاٰخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيْمٌ
wa man azhlamu mim mam mana'a masaajidallohi ay yuzkaro fiihasmuhuu wa sa'aa fii khoroobihaa, ulaaa`ika maa kaana lahum ay yadkhuluuhaaa illaa khooo`ifiin, lahum fid-dun-yaa khizyuw wa lahum fil-aakhiroti 'azaabun 'azhiim

"Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang melarang di dalam masjid-masjid Allah untuk menyebut nama-Nya dan berusaha merobohkannya? Mereka <5> itu tidak pantas memasukinya kecuali dengan rasa takut (kepada Allah). Mereka mendapat kehinaan di dunia dan di akhirat (Diri-Sejati <7>nya) mendapat azab yang berat."

 [115]
وَلِلّٰهِ الْمَشْرِقُ  وَالْمَغْرِبُ فَاَيْنَمَا تُوَلُّوْا فَثَمَّ وَجْهُ اللّٰهِ  ۗ  اِنَّ اللّٰهَ وَاسِعٌ  عَلِيْمٌ
wa lillaahil-masyriqu wal-maghribu fa ainamaa tuwalluu fa samma waj-hulloh, innalloha waasi'un 'aliim

"Dan milik Allah Timur dan Barat. Ke mana pun kamu <5> menghadap, di sanalah wajah Allah.
Sungguh, Allah Maha Luas, Maha Mengetahui."

Iqro' :


[116]
وَقَالُوا اتَّخَذَ اللّٰهُ وَلَدًا  ۙ  سُبْحٰنَهٗ  ۗ  بَلْ لَّهٗ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ  ۗ  كُلٌّ لَّهٗ قَانِتُوْنَ
wa qooluttakhozallohu waladan sub-haanah, bal lahuu maa fis-samaawaati wal-ardh, kullul lahuu qoonituun

"Dan mereka <5> berkata, Allah mempunyai anak. Maha Suci Allah, bahkan milik-Nyalah apa yang di langit dan di bumi. Semua tunduk kepada-Nya."

[117]
بَدِيْعُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ ۗ  وَ اِذَا قَضٰۤى اَمْرًا فَاِنَّمَا يَقُوْلُ لَهٗ كُنْ فَيَكُوْنُ
badii'us-samaawaati wal-ardh, wa izaa qodhooo amron fa innamaa yaquulu lahuu kun fa yakuun

"(Allah) Pencipta langit dan bumi. Apabila Dia hendak menetapkan sesuatu, Dia hanya berkata kepadanya, Jadilah! Maka jadilah sesuatu itu."

[118]
وَقَالَ الَّذِيْنَ لَا يَعْلَمُوْنَ لَوْلَا يُكَلِّمُنَا اللّٰهُ اَوْ تَأْتِيْنَاۤ اٰيَةٌ   ۗ  كَذٰلِكَ قَالَ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْ مِّثْلَ قَوْلِهِمْ ۗ   تَشَابَهَتْ قُلُوْبُهُمْ ۗ   قَدْ بَيَّنَّا الْاٰيٰتِ لِقَوْمٍ يُّوْقِنُوْنَ
wa qoolallaziina laa ya'lamuuna lau laa yukallimunallohu au ta`tiinaaa aayah, kazaalika qoolallaziina ming qoblihim misla qoulihim, tasyaabahat quluubuhum, qod bayyannal-aayaati liqoumiy yuuqinuun

"Dan orang-orang <5> yang tidak mengetahui berkata, Mengapa Allah tidak berbicara dengan kita atau datang tanda-tanda (kekuasaan-Nya) kepada kita? Demikian pula orang-orang yang sebelum mereka telah berkata seperti ucapan mereka itu. Hati mereka serupa. Sesungguhnya telah Kami jelaskan tanda-tanda (kekuasaan Kami) kepada orang-orang <5> yang yakin."

[119]
اِنَّاۤ اَرْسَلْنٰكَ بِالْحَـقِّ بَشِيْرًا وَّنَذِيْرًا  ۙ  وَّلَا تُسْئَـلُ عَنْ اَصْحٰبِ الْجَحِيْمِ
innaaa arsalnaaka bil-haqqi basyiirow wa naziirow wa laa tus`alu 'an ash-haabil-jahiim

"Sungguh, Kami telah mengutusmu (Muhammad) dengan kebenaran, sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan.
Dan engkau tidak akan diminta (pertanggungjawaban) tentang penghuni-penghuni neraka."

Iqro' :


[120]
وَلَنْ تَرْضٰى عَنْكَ الْيَهُوْدُ وَلَا النَّصٰرٰى حَتّٰى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ ۗ   قُلْ اِنَّ هُدَى اللّٰهِ هُوَ الْهُدٰى  ۗ  وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ اَهْوَآءَهُمْ بَعْدَ  الَّذِيْ جَآءَكَ مِنَ الْعِلْمِ ۙ  مَا لَـكَ مِنَ اللّٰهِ مِنْ وَّلِيٍّ وَّلَا نَصِيْرٍ
wa lan tardhoo 'angkal-yahuudu wa lan-nashooroo hattaa tattabi'a millatahum, qul inna hudallohi huwal-hudaa, wa la`inittaba'ta ahwaaa`ahum ba'dallazii jaaa`aka minal-'ilmi maa laka minallohi miw waliyyiw wa laa nashiir

"Dan orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan rela kepadamu (Muhammad) sebelum engkau mengikuti agama mereka. Katakanlah, Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya). Dan jika engkau mengikuti keinginan mereka setelah ilmu (kebenaran) sampai kepadamu, tidak akan ada bagimu pelindung dan penolong dari Allah.

[121]
itulahيْنَ اٰتَيْنٰهُمُ الْكِتٰبَ يَتْلُوْنَهٗ حَقَّ تِلَاوَتِهٖ ۗ  اُولٰٓئِكَ يُؤْمِنُوْنَ بِهٖ  ۗ  وَمَنْ يَّكْفُرْ بِهٖ فَاُولٰٓئِكَ هُمُ الْخٰسِرُوْنَ
allaziina aatainaahumul-kitaaba yatluunahuu haqqo tilaawatih, ulaaa`ika yu`minuuna bih, wa may yakfur bihii fa ulaaa`ika humul-khoosiruun

"Orang-orang yang telah Kami beri kitab, mereka membacanya sebagaimana mestinya, mereka <5> itulah yang beriman kepadanya. Dan barang siapa ingkar kepadanya, mereka <7> itulah orang-orang yang rugi."

[122]
يٰبَنِيْۤ اِسْرَآءِيْلَ  اذْكُرُوْا نِعْمَتِيَ الَّتِيْۤ اَنْعَمْتُ عَلَيْكُمْ وَاَنِّيْ فَضَّلْتُكُمْ عَلَى الْعٰلَمِيْنَ
yaa baniii isrooo`iilazkuruu ni'matiyallatiii an'amtu 'alaikum wa annii fadhdholtukum 'alal-'aalamiin

"Wahai Bani Israil! Ingatlah nikmat-Ku yang telah Aku berikan kepadamu <5> dan Aku telah melebihkan kamu dari semua umat yang lain di alam ini (didunia pada masa itu)."

[123]
وَاتَّقُوْا يَوْمًا لَّا تَجْزِيْ نَفْسٌ عَنْ نَّفْسٍ شَيْئًـا وَّلَا يُقْبَلُ مِنْهَا  عَدْلٌ وَّلَا تَنْفَعُهَا شَفَاعَةٌ وَّلَا هُمْ يُنْصَرُوْنَ
wattaquu yaumal laa tajzii nafsun 'an nafsin syai`aw wa laa yuqbalu min-haa 'adluw wa laa tanfa'uhaa syafaa'atuw wa laa hum yunshoruun

"Dan takutlah kamu pada hari (ketika) tidak seorang pun dapat menggantikan (membela) orang lain sedikit pun, tebusan tidak diterima, bantuan tidak berguna baginya, dan mereka tidak akan ditolong."

[124]
وَاِذِ ابْتَلٰۤى اِبْرٰهٖمَ رَبُّهٗ بِكَلِمٰتٍ فَاَتَمَّهُنَّ  ۗ  قَالَ اِنِّيْ جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ اِمَامًا  ۗ  قَالَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِيْ  ۗ  قَالَ لَا يَنَالُ عَهْدِى الظّٰلِمِيْنَ
wa izibtalaaa ibroohiima robbuhuu bikalimaatin fa atammahunn, qoola innii jaa'iluka lin-naasi imaamaa, qoola wa min zurriyyatii, qoola laa yanaalu 'ahdizh-zhoolimiin

"Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat, lalu dia melaksanakannya dengan sempurna. Dia (Allah) berfirman, Sesungguhnya Aku menjadikan engkau sebagai imam (pemimpin) bagi seluruh manusia. Dia (Ibrahim) berkata, Dan (juga) dari anak cucuku? Allah berfirman, (Benar, tetapi) janji-Ku tidak berlaku bagi orang-orang zalim."

[125]
وَاِذْ جَعَلْنَا الْبَيْتَ مَثَابَةً لِّلنَّاسِ وَاَمْنًا  ۗ  وَاتَّخِذُوْا مِنْ مَّقَامِ اِبْرٰهٖمَ مُصَلًّى  ۗ  وَعَهِدْنَاۤ اِلٰۤى اِبْرٰهٖمَ وَاِسْمٰعِيْلَ اَنْ طَهِّرَا بَيْتِيَ لِلطَّآئِفِيْنَ وَالْعٰكِفِيْنَ وَالرُّکَّعِ السُّجُوْدِ
wa iz ja'alnal-baita masaabatal lin-naasi wa amnaa, wattakhizuu mim maqoomi ibroohiima mushollaa, wa 'ahidnaaa ilaaa ibroohiima wa ismaa'iila an thohhiroo baitiya lith-thooo`ifiina wal-'aakifiina war-rukka'is-sujuud

"Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah (Ka'bah) tempat berkumpul dan tempat yang aman bagi manusia.
Dan jadikanlah maqam Ibrahim itu tempat sholat.
Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ism'ail, Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang tawaf, orang yang itikaf, orang yang rukuk, dan orang yang sujud!"

[126]
وَاِذْ قَالَ اِبْرٰهٖمُ رَبِّ اجْعَلْ هٰذَا بَلَدًا اٰمِنًا وَّارْزُقْ اَهْلَهٗ مِنَ الثَّمَرٰتِ مَنْ اٰمَنَ مِنْهُمْ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ ۗ  قَالَ وَمَنْ كَفَرَ فَاُمَتِّعُهٗ قَلِيْلًا ثُمَّ اَضْطَرُّهٗۤ اِلٰى عَذَابِ النَّارِ ۗ  وَبِئْسَ الْمَصِيْرُ‏
wa iz qoola ibroohiimu robbij'al haazaa baladan aaminaw warzuq ahlahuu minas-samarooti man aamana min-hum billaahi wal-yaumil-aakhir, qoola wa mang kafaro fa umatti'uhuu qoliilan summa adhthorruhuuu ilaa 'azaabin-naar, wa bi`sal-mashiir

"Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berdoa, Ya Tuhanku, jadikanlah (negeri Mekah) ini negeri yang aman dan berilah rezeki berupa buah-buahan kepada penduduknya, yaitu di antara mereka yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, Dia (Allah) berfirman, Dan kepada orang yang kafir <5> akan Aku beri kesenangan sementara, kemudian akan Aku paksa dia <7> ke dalam azab neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kembali."

[127]
 وَاِذْ يَرْفَعُ اِبْرٰهٖمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَاِسْمٰعِيْلُ ۗ  رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا  ۗ  اِنَّكَ اَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ
wa iz yarfa'u ibroohiimul-qowaa'ida minal-baiti wa ismaa'iil, robbanaa taqobbal minnaa, innaka antas-samii'ul-'aliim

"Dan (ingatlah) ketika Ibrahim meninggikan pondasi Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa), Ya Tuhan kami, terimalah (amal) dari kami. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui."

[128]
رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَـكَ وَ مِنْ ذُرِّيَّتِنَاۤ اُمَّةً مُّسْلِمَةً لَّكَ ۖ  وَاَرِنَا مَنَاسِكَنَا وَتُبْ عَلَيْنَا  ۚ  اِنَّكَ اَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ
robbanaa waj'alnaa muslimaini laka wa min zurriyyatinaaa ummatam muslimatal laka wa arinaa manaasikanaa wa tub 'alainaa, innaka antat-tawwaabur-rohiim

"Ya Tuhan kami, jadikanlah kami orang yang berserah diri kepada-Mu, dan anak-cucu kami (juga) umat yang berserah diri kepada-Mu dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara melakukan ibadah (haji) kami dan terimalah tobat kami. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Penerima Tobat, Maha Penyayang."

[129]
رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيْهِمْ رَسُوْلًا مِّنْهُمْ يَتْلُوْا عَلَيْهِمْ اٰيٰتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتٰبَ وَالْحِكْمَةَ وَ يُزَكِّيْهِمْ ۗ  اِنَّكَ اَنْتَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
robbanaa wab'as fiihim rosuulam min-hum yatluu 'alaihim aayaatika wa yu'allimuhumul-kitaaba wal-hikmata wa yuzakkiihim, innaka antal-'aziizul-hakiim

"Ya Tuhan kami, utuslah di tengah mereka seorang rasul dari mereka sendiri yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat-Mu dan mengajarkan Kitab dan Hikmah kepada mereka dan menyucikan mereka.
Sungguh, Engkaulah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana."

[130]
وَمَنْ يَّرْغَبُ عَنْ مِّلَّةِ اِبْرٰهٖمَ اِلَّا مَنْ سَفِهَ نَفْسَهٗ  ۗ  وَلَقَدِ اصْطَفَيْنٰهُ فِى الدُّنْيَا  ۚ  وَاِنَّهٗ فِى الْاٰخِرَةِ لَمِنَ الصّٰلِحِيْنَ
wa may yarghobu 'am millati ibroohiima illaa man safiha nafsah, wa laqodishthofainaahu fid-dun-yaa, wa innahuu fil-aakhiroti laminash-shoolihiin

"Dan orang <5> yang membenci agama Ibrahim, hanyalah orang <5> yang memperbodoh dirinya sendiri <7>.
Dan sungguh, Kami telah memilihnya (Ibrahim) di dunia ini. Dan sesungguhnya di akhirat dia <7> termasuk orang-orang saleh."

[131]
اِذْ قَالَ لَهٗ رَبُّهٗۤ اَسْلِمْ ۙ   قَالَ اَسْلَمْتُ لِرَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
iz qoola lahuu robbuhuuu aslim qoola aslamtu lirobbil-'aalamiin

"(Ingatlah) ketika Tuhan berfirman kepadanya (Ibrahim), Berserah dirilah! Dia menjawab, Aku berserah diri kepada Tuhan seluruh alam."

[132]
وَوَصّٰى بِهَاۤ اِبْرٰهٖمُ بَنِيْهِ وَ يَعْقُوْبُ ۗ  يٰبَنِيَّ اِنَّ اللّٰهَ اصْطَفٰى لَـكُمُ الدِّيْنَ فَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْـتُمْ مُّسْلِمُوْنَ ۗ ‏
wa washshoo bihaaa ibroohiimu baniihi wa ya'quub, yaa baniyya innallohashthofaa lakumud-diina fa laa tamuutunna illaa wa antum muslimuun

"Dan Ibrahim mewasiatkan (ucapan) itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya'qub.
Wahai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini untukmu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim."

[133]
اَمْ كُنْتُمْ شُهَدَآءَ اِذْ حَضَرَ يَعْقُوْبَ  الْمَوْتُ ۙ  اِذْ قَالَ لِبَنِيْهِ مَا تَعْبُدُوْنَ مِنْۢ بَعْدِيْ ۗ  قَالُوْا نَعْبُدُ  اِلٰهَكَ وَاِلٰهَ اٰبَآئِكَ اِبْرٰهٖمَ وَاِسْمٰعِيْلَ وَاِسْحٰقَ اِلٰهًا وَّاحِدًا  ۚ  وَّنَحْنُ لَهٗ مُسْلِمُوْنَ
am kuntum syuhadaaa`a iz hadhoro ya'quubal-mautu iz qoola libaniihi maa ta'buduuna mim ba'dii, qooluu na'budu ilaahaka wa ilaaha aabaaa`ika ibroohiima wa ismaa'iila wa is-haaqo ilaahaw waahidaa, wa nahnu lahuu muslimuun

"Apakah kamu menjadi saksi saat maut akan menjemput Ya'qub, ketika dia berkata kepada anak-anaknya, Apa yang kamu sembah sepeninggalku? Mereka menjawab, Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, yaitu Ibrahim, Ismail, dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami (hanya) berserah diri kepada-Nya."

[134]
تِلْكَ اُمَّةٌ قَدْ خَلَتْ ۚ  لَهَا مَا كَسَبَتْ  وَلَـكُمْ مَّا كَسَبْتُمْ ۚ  وَلَا تُسْئَـلُوْنَ عَمَّا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ
tilka ummatung qod kholat, lahaa maa kasabat wa lakum maa kasabtum, wa laa tus`aluuna 'ammaa kaanuu ya'maluun

"Itulah umat yang telah lalu. Baginya apa yang telah mereka usahakan dan bagimu apa yang telah kamu <5> usahakan.
Dan kamu tidak akan diminta (pertanggungjawaban) tentang apa yang dahulu mereka kerjakan."

[135]
وَقَالُوْا کُوْنُوْا هُوْدًا اَوْ نَصٰرٰى تَهْتَدُوْا  ۗ  قُلْ بَلْ مِلَّةَ اِبْرٰهٖمَ حَنِيْفًا  ۗ  وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ
wa qooluu kuunuu huudan au nashooroo tahtaduu, qul bal millata ibroohiima haniifaa, wa maa kaana minal-musyrikiin

"Dan mereka berkata, Jadilah kamu (penganut) Yahudi atau Nasrani niscaya kamu mendapat petunjuk.
Katakanlah, (Tidak!) Tetapi (kami mengikuti) agama Ibrahim yang lurus dan dia tidak termasuk golongan orang yang mempersekutukan Tuhan."

[136]
قُوْلُوْۤا اٰمَنَّا بِاللّٰهِ وَمَاۤ اُنْزِلَ اِلَيْنَا وَمَاۤ اُنْزِلَ اِلٰۤى اِبْرٰهٖمَ وَاِسْمٰعِيْلَ وَاِسْحٰقَ وَيَعْقُوْبَ وَ الْاَسْبَاطِ وَمَاۤ اُوْتِيَ مُوْسٰى وَعِيْسٰى وَمَاۤ اُوْتِيَ النَّبِيُّوْنَ مِنْ رَّبِّهِمْ ۚ  لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ اَحَدٍ مِّنْهُمْ ۖ  وَنَحْنُ لَهٗ مُسْلِمُوْنَ
quuluuu aamannaa billaahi wa maaa unzila ilainaa wa maaa unzila ilaaa ibroohiima wa ismaa'iila wa is-haaqo wa ya'quuba wal-asbaathi wa maaa uutiya muusaa wa 'iisaa wa maaa uutiyan-nabiyyuuna mir robbihim, laa nufarriqu baina ahadim min-hum wa nahnu lahuu muslimuun

"Katakanlah, Kami <5> beriman kepada Allah, dan kepada apa yang diturunkan kepada kami, dan kepada apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya'qub dan anak cucunya, dan kepada apa yang diberikan kepada Musa dan 'Isa serta kepada apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhan mereka.
Kami <5> tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka dan kami berserah diri kepada-Nya."

[137]
فَاِنْ اٰمَنُوْا بِمِثْلِ مَاۤ اٰمَنْتُمْ بِهٖ فَقَدِ اهْتَدَوْا  ۚ  وَاِنْ تَوَلَّوْا فَاِنَّمَا هُمْ فِيْ شِقَاقٍ  ۚ  فَسَيَكْفِيْکَهُمُ اللّٰهُ  ۚ  وَهُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ
fa in aamanuu bimisli maaa aamantum bihii fa qodihtadau, wa in tawallau fa innamaa hum fii syiqooq, fa sayakfiikahumulloh, wa huwas-samii'ul-'aliim

"Maka jika mereka <5> telah beriman sebagaimana yang kamu imani, sungguh, mereka telah mendapat petunjuk. Tetapi jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan (denganmu) maka Allah mencukupkan engkau (Muhammad) terhadap mereka (dengan pertolongan-Nya). Dan Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui."

[138]
صِبْغَةَ اللّٰهِ  ۚ  وَمَنْ اَحْسَنُ مِنَ اللّٰهِ صِبْغَةً  ۖ  وَّنَحْنُ لَهٗ عٰبِدُوْنَ
shibghotalloh, wa man ahsanu minallohi shibghotaw wa nahnu lahuu 'aabiduun

"Sibgah Allah. Siapa yang lebih baik Sibgahnya daripada Allah? Dan kepada-Nya kami menyembah."

Iqro' :


[139]
قُلْ اَ تُحَآ جُّوْنَـنَا فِى اللّٰهِ وَهُوَ رَبُّنَا وَرَبُّکُمْ ۚ  وَلَنَاۤ اَعْمَالُـنَا وَلَـكُمْ اَعْمَالُكُمْ ۚ  وَنَحْنُ لَهٗ مُخْلِصُوْنَ
qul a tuhaaajjuunanaa fillaahi wa huwa robbunaa wa robbukum, wa lanaaa a'maalunaa wa lakum a'maalukum, wa nahnu lahuu mukhlishuun

"Katakanlah (Muhammad), Apakah kamu hendak berdebat dengan kami tentang Allah, padahal Dia adalah Tuhan kami dan Tuhan kamu. Bagi kami amalan kami, bagi kamu amalan kamu, dan hanya kepada-Nya kami mengikhlaskan diri.

[140]
Allah SWT berfirman:

اَمْ تَقُوْلُوْنَ اِنَّ اِبْرٰهٖمَ وَاِسْمٰعِيْلَ وَاِسْحٰقَ وَيَعْقُوْبَ وَالْاَسْبَاطَ كَانُوْا هُوْدًا اَوْ نَصٰرٰى ۗ  قُلْ ءَاَنْـتُمْ اَعْلَمُ اَمِ اللّٰهُ  ۗ  وَمَنْ اَظْلَمُ مِمَّنْ كَتَمَ شَهَادَةً عِنْدَهٗ مِنَ اللّٰهِ ۗ  وَمَا اللّٰهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُوْنَ
am taquuluuna inna ibroohiima wa ismaa'iila wa is-haaqo wa ya'quuba wal-asbaatho kaanuu huudan au nashooroo, qul a antum a'lamu amillaah, wa man azhlamu mim mang katama syahaadatan 'indahuu minalloh, wa mallohu bighoofilin 'ammaa ta'maluun

"Ataukah kamu (orang-orang Yahudi dan Nasrani) berkata bahwa Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya'qub, dan anak cucunya adalah penganut Yahudi atau Nasrani?
Katakanlah, Kamukah yang lebih tahu atau Allah? Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang menyembunyikan kesaksian dari Allah yang ada padanya? Allah tidak lengah terhadap apa yang kamu kerjakan."

[141]
تِلْكَ اُمَّةٌ قَدْ خَلَتْ ۚ  لَهَا مَا كَسَبَتْ وَلَـكُمْ  مَّا كَسَبْتُمْ ۚ  وَلَا تُسْئَـلُوْنَ عَمَّا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ
tilka ummatung qod kholat, lahaa maa kasabat wa lakum maa kasabtum, wa laa tus`aluuna 'ammaa kaanuu ya'maluun

"Itulah umat yang telah lalu. Baginya apa yang telah mereka usahakan dan bagimu apa yang telah kamu <5> usahakan. Dan kamu tidak akan diminta (pertanggungjawaban) tentang apa yang dahulu mereka kerjakan."

.
Lanjut ke JUZ 2 >>
.