Senin, 18 Maret 2019

Prinsip memahami Al Qur'an

DIRI :
______

Diri-Ini <5> dan Diri-Sejati <7>

Al Qur'an berisi petunjuk & larangan yang harus dilakukan Diri-Ini <5> dan yang menerima konsekuensinya adalah Diri-Sejati <7>, baik konsekuensi positip (pahala) maupun yang negatip (siksa).

> Diri-Ini <5> adalah:
   Diri kita sekarang ini..., yang hidup didunia ini....mempunyai raga yang berdimensi nyata.

> Diri-Sejati <7> adalah:
   Diri kita di Hari-Kemudian..., yang hidup di akhirat....berdimensi irasional (tidak nyata...., ada tapi tak dapat dijangkau oleh panca-indera)

Karena kehidupan di Akhirat adalah kehidupan yang sebenarnya..., maka Diri-Sejati <7> adalah Diri kita yang Sebenarnya....Diri kita yang diakhirat.
.

Contoh pemahaman untuk beberapa ayat:

"Sesungguhnya Allah tidak menzalimi manusia sedikit pun, tetapi manusia <5> itulah yang menzalimi diri-sejati<7>nya sendiri."
(Yunus 10: 44)

"Katakanlah (Muhammad), Wahai manusia! Telah datang kepadamu kebenaran (Al-Qur'an) dari Tuhanmu, sebab itu barang siapa (didunia) mendapat petunjuk maka sebenarnya (petunjuk itu) untuk (kebaikan) diri-sejati<7>nya sendiri (diakhirat),
Dan barang siapa sesat (didunia), sesungguhnya kesesatannya itu (mencelakakan) diri-sejati<7>nya sendiri (diakhirat)
Dan aku bukanlah pemelihara dirimu."
(Yunus 10: 108)

.
"Jika kamu<5> berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik untuk diri-sejati<7>mu sendiri (diakhirat).
Dan jika kamu<5> berbuat jahat, maka (kerugian kejahatan) itu untuk diri-sejati<7>mu sendiri (diakhirat).
.........
(Al-Isra' 17: 7)

.
"Maka bertakwalah kamu<5> kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah; dan infakkanlah harta yang baik untuk diri-sejati<7>mu (diakhirat).
Dan barangsiapa dijaga diri<5>nya dari kekikiran (didunia), mereka itulah orang-orang<7> yang beruntung (diakhirat)."
(At-Taghabun 64:16)
.

Kecerdasan Diri-Sejati.

Banyak yang berpikir bahwa kecerdasan Diri-Sejati <7> sama dengan Diri-Ini <5>, artinya kecerdasan...kepandaian...keahlian Diri-Ini <5> yang hidup didunia ini akan terbawa sampai akhirat menjadi kecerdasan Diri-Sejati <7>, ini tidaklah tepat.

Diri-Sejati hanya 'bisa' menerima kesejatian yang berasal dari 'Sumber yang Sejati' yaitu Allah Yang Maha Pengasih melalui Ruh-Nya <6> yang ditiupkanNya kedalam tubuh manusia...baik energi, cahaya maupun kecerdasannya....inilah yang dibutuhkan oleh Diri-Sejati <7> agar mampu hidup dan berdaya di Alam-Kesejatian (Akhirat).

"Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, Sungguh...Aku akan menciptakan seorang manusia <5> dari tanah liat kering dari lumpur hitam yang diberi bentuk.
Maka apabila Aku telah menyempurnakannya, dan Aku telah meniupkan ruh-Ku <6> ke dalamnya, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.
Maka bersujudlah para malaikat itu semuanya bersama-sama.
(Al Hijr 28-30)


Tujuan Allah menurunkan firman-firmanNya :
___________________________

Sebagai hamba Allah sudah selayaknya manusia mencoba untuk memahami tujuan Allah menurunkan firman-firmanNya karena dengan memahaminya maka diharapkan manusia akan benar dalam prinsip dan tujuan hidupnya didunia ini.

Adam di Surga :

Ada beberapa hal penting yang bisa dipahami dengan diturunkan firman-firman tentang 'Adam di Surga' :

> Ada alam lain yang berbeda 'dimensi' dengan dunia ini....kalau dunia ini nyata (rasional) bagi panca-indera kita, maka alam lain tersebut berdimensi irrasional...ada tapi tidak bisa dilihat/diraba oleh panca-indera kita..., alam lain tersebut dinamakan akhirat.

> Ternyata di akhirat tersebut sudah ada kehidupan dan ada tempat yang dinamakan Surga, didalam surga tersebut dihuni oleh mahluk yang dinamakan Adam dan pasangan.

> Semua diri manusia didunia ini adalah turunan Adam yang di Surga ini.

"Dan Kami berfirman, Wahai Adam! <7> tinggallah engkau dan pasanganmu di dalam surga dan makanlah makanan-makanan yang banyak lagi baik dimana saja sesukamu.
(Tetapi) janganlah kamu dekati pohon ini, nanti kamu termasuk orang-orang yang zalim!" (2:35)

Adam di Surga adalah Diri-Sejati.

Adam adalah mahluk Surga ...., karena Surga tidak dapat dilihat/diraba dengan panca-indera ini, maka Adam pun tidak dapat dilihat/diraba....jadi Adam yang ada di Surga bukanlah manusia....bukan Diri-Ini.
Jadi siapakah Adam yang di Surga ?
Adam yang ada di Surga adalah Diri-Sejati (Diri kita yang sebenarnya)....., Diri-Sejati kitalah yang turunannya Adam...., Diri-Sejati kitalah yang mahluk Surga (mahluk Akhirat)...., Diri-Sejati kitalah yang harus bisa kembali ke Surga.

Adam harus turun dari Surga.

"Lalu, setan memerdayakan mereka <7> dari surga sehingga mereka <7> dikeluarkan dari keadaan semula.
Dan Kami berfirman, Turunlah kamu! Sebagian kamu <5> menjadi musuh bagi yang lain.
Dan bagi kamu <5> ada tempat tinggal dan kesenangan di bumi sampai waktu yang ditentukan." (2:36)

Karena tidak patuh kepada Allah, Adam harus turun dari Surga untuk merajut ketakwaannya...., dan Allah telah menyiapkan 'tempat' dan 'sistem' nya...., yaitu:
dunia yang berdimensi nyata dan
manusia yang 'multi-dimensi' dilengkapi tubuh yang berdimensi nyata...., sampai waktu yang telah ditentukan.

Jadi bisa disimpulkan, bahwa dunia dan manusia diciptakan untuk diri-sejati <7> bukan untuk diri-ini <5>.
Ibaratnya....diri-ini <5> hanyalah 'manajer' yang bertindak untuk kepentingan 'owner' yaitu diri-sejati <7>.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar